Home » Renungan » Allah Sumber Kekuatan Keluarga

Allah Sumber Kekuatan Keluarga

Lukas 18:9-14

Kemajuan zaman dan perkembangan teknologi memiliki dampak positif dan tantangan tersendiri bagi orang-orang Kristen masa kini. Dampak positifnya adalah ketika perkembangan teknologi dapat mempermudah atau menolong manusia untuk hidup lebih baik, misalnya gadget yang semakin mempermudah manusia untuk berkomunikasi dalam jarak jauh, dan berbelanja barang atau kebutuhan tanpa harus keluar rumah (jasa online). Semua membuat kehidupan menjadi lebih mudah, namun juga menjadi sebuah tantangan ketika kita diperhadapkan dengan budaya instan disekitar kita. Kita menjadi orang yang kurang memiliki daya juang besar, dan mudah putus asa ketika kesulitan ada dihadapan kita. Tantangan lainnya berupa hedonisme, individualisme, budaya konsumtif, dan sekularisme yang bertentangan dengan kehendak (firman) Allah. Lalu, dapatkah kita tetap menjalankan kehendak (firman) Allah ditengah-tengah tantangan masa kini? Jika kita mengandalkan diri sendiri mungkin kita akan mengalami kesulitan. Namun, jika kita mengandalkan kekuatan dari Allah pasti semua bisa kita lalui. Dalam hal ini, keluarga memiliki peran besar untuk saling menguatkan antar anggota keluarga agar tidak hanyut pada tantangan atau dampak negatif dari perkembangan teknologi.

Di penutupan bulan keluarga ini kita diingatkan untuk mengandalkan Allah sebagai sumber kekuatan keluarga-keluarga Kristen dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan pada masa kini.

Surat yang dituliskan Paulus kepada Timotius ini berisikan pengalaman iman yang nyata dan keyakinan akan pengharapan yang penuh dalam Kristus. Paulus menggambarkan bahwa pemberitaan injilnya merupakan sebuah pertandingan atau pergumulan yang hampir usai. Hal ini bukan hanya sekadar menunjukkan perjuangan namun lebih kepada semangat dan pengabdian seseorang seumur hidupnya. Ia telah memelihara iman sampai garis akhir. Bukan hanya sekadar menjaga kepercayaannya (iman) kepada Kristus secara pasif, namun Paulus mempelajari dan melakukan firman yang diajarkan Kristus (aktif). Berjuang untuk menyatakan iman dalam segala pergumulan hidupnya.

Menariknya, ayat 8 menggambarkan betapa Paulus memiliki pengharapan besar bahwa janji Kristus nyata. Pengharapan akan mahkota kebenaran itu merupakan karunia bagi Paulus dan juga setiap orang-orang percaya. Ayat 16-18 merupakan kesaksian Paulus tentang pengalaman bahwa ia pernah merasa sendirian (tidak ada seorang pun membantu aku) ketika berada dalam ruang pengadilan di Roma. Ketika itu, Paulus merasa dirinya seolah lepas dari mulut singa (hukuman yang akan diberikan) dan melanjutkan pekerjaannya sehingga pemberitaan Injil semakin tersebar dan makin dikenal. Semua itu terjadi, karena Paulus benar-benar merasakan kehadiran Tuhan. “Tuhan yang mendampingi aku” memperjelas tentang Tuhan benar-benar hadir memberikan pertolongan. Menurutnya sekalipun semua orang pergi meninggalkannya karena takut, namun Tuhan tetap hadir.

Pernyataan “Tuhan menguatkan aku” menyatakan bahwa sumber kekuatan bagi Paulus dalam menghadapi pengadilan itu hanya berasal dari Tuhan. Tuhan-lah sumber kekuatan Paulus sepanjang hidupnya agar ia dapat memberitakan kasih Kristus kepada banyak orang. “Tuhan melepaskan aku”, sebuah pernyataan bahwa benar hanya Tuhan-lah yang selalu menjadi pen0long yang melepaskannya dari setiap usaha jahat dari orang-orang yang hendak berlaku jahat padanya. Tuhan adalah penyelamat hidup Paulus, baik di dunia ini (seperti yang sudah ia alami) dan setelah mengakhiri kehidupan di dunia ini yaitu saat masuk dalam kerajaan-Nya di surga.

Lukas dengan sangat jelas menuliskan kepada siapa perumpamaan ini ditujukan. Dalam ayat 9 disebutkan tujuannya yaitu, “dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini”. Pesan yang hendak disampaikan Yesus kembali ditekankan pada ayat 14, “sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Yesus tidak sedang mempermasalahkan mengenai ketaatan atau kepatuhan pada hukum Taurat. Saat menyampaikan perumpamaan itu, Ia sedang mengajar, dan menegur orang-orang yang menganggap dirinya benar dan merendahkan orang lain. Yesus mengajarkan tentang bagaimana sikap merendahkan hati adalah hal yang benar dan berkenan kepada Allah.

Mari kita simak perumpaan ini lebih dalam. Disebutkan bahwa orang Farisi dan pemungut cukai sama-sama pergi ke Bait Allah dan berdoa. Hal yang membedakan keduanya adalah cara berdoa dan isi doanya. Orang Farisi itu berdiri sambil memandang langit sesuai kebiasaan orang Yahudi dan berdoa dalam hatinya. Isi doanya berisi tentang rasa syukurnya yang hidup lebih baik daripada orang-orang berdosa (ayat 11) dan menunjukkan kewajibannya sebagai orang benar sudah terlaksana (ayat 12). Ini menunjukkan sikapnya yang merasa lebih baik dan lebih benar daripada orang lain. Rasa syukurnya tertutupi dengan rasa sombongnya dan pembenaran diri di hadapan Allah. Sedangkan pemungut cukai berdiri jauh-jauh, ia tidak berani memandang langit karena merasa tak layak datang kepada Allah. Ia memukul dirinya yang menunjukkan sikap penyesalan dan isi doanya mengakui dosanya dan memohon belas kasih Allah untuk mengampuni. Ia datang dengan kerendahan hati dan doa yang berserah. Kerendahan hati dan doa yang berserah, membuatnya memiliki relasi dekat dengan Allah. Sementara orang Farisi itu yang ‘merasa dekat’ dengan Allah, tetapi justru Allah ‘jauh’ dari dirinya. Pembenaran diri dan stigma tanpa belas kasihan dari orang Farisi terhadap pemungut cukai, membuatnya berjarak dengan Allah. Ia memahami tentang belas kasihan Allah. Di sini, Allah mendekatkan diri dan berbelas kasih kepada mereka yang ‘merasa jauh’ dari-Nya.

Orang Kristen masa kini memiliki tantangan tersendiri ketika diperhadapkan dengan dampak negatif dari perkembangan teknologi yang ada, misalnya budaya instan, hedonisme, individualisme, budaya konsumtif, dan sekularisme yang bertentangan dengan kehendak Allah. Tentu ada kesulitan yang akan dihadapi jika kita melawan arus dunia. Melawan arus dunia adalah sesuatu yang tidak mungkin jika kita mengandalkan kekuatan sendiri. Dalam hal ini, bacaan leksionari mengingatkan kita tentang Allah yang adalah sumber kekuatan bagi hamba-hamba-Nya (Yeremia, Paulus) untuk menjalani hidup yang penuh tantangan atau kesulitan. Mereka dimampukan melalui hal-hal yang sulit dan taat pada kehendak-Nya sampai akhir hidup mereka. Semua hanya karena kekuatan dan pertolongan dari Allah. Kita pun akan berhasil melalui segala tantangan masa kini dengan mengandalkan kekuatan yang daripada Allah.

Pada akhir bulan keluarga ini kita diingatkan untuk kembali mengandalkan Allah sebagai sumber kekuatan keluarga-keluarga Kristen dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan pada masa kini.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Latihan Macapat “SWARA LANGEN GITA” : Senin 18 November 2019 jam 16.00 WIB

Persekutuan Doa Pagi : Rabu 20 November 2019 jam 04.30 WIB

Dialog Teologis Seputar Kristologi bersama Dr. Bambang Noorsena, M.H : Sabtu 30 November 2019 jam 16.00 WIB di GKJ Wonosari

Jadwal PA Wilayah/Panthan  >> 11 – 16 November 2019 <<