Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H
Pradhata tuwin pasamuwan GKJ Wonosari Gunungkidul, ngaturaken: Sugeng Riyadi Idul Fitri 1 Syawal 1441 H.
Tanpa sowan Tetep Seduluran
Tanpa Ujung Tetep Nyambung
Tanpa Salaman Tetep Ngapuran
Video Ibadah Rangkaian Paskah GKJ Wonosari 2020
Ibadah Minggu Palmarum
Ibadah Kamis Putih dan Perjamuan Kudus
Ibadah Jumat Agung
Ibadah Sabtu Sunyi
Ibadah Minggu Paskah
Rendah Hati Tanda Anak Tuhan
Matius 21:1-11
Di tengah zaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, sangatlah sulit untuk menemukan orang yang rendah hati. Bahkan, mungkin telah ada keraguan bagi sebagian orang bahwa rendah hati sudah tidak relevan lagi pada zaman ini karena dianggap sebagai penghalang keberhasilan, sehingga “rendah hati” mulai ditinggalkan oleh manusia.
Keinginan sebagian besar orang untuk “menjadi seseorang” (to become someone) dan penolakan untuk menjadi “bukan siapa-siapa” diduga menjadi penyebabnya. Ada dorongan yang sangat kuat dalam diri setiap orang untuk menjadi penting, menjadi berarti dan mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Akibatnya, terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi penting dan berarti itu.
Pandangan Kristen tentang kerendahhatian sudah sangat jelas. Yang menjadi dasar sikap rendah hati dalam pandangan Kristen adalah diri Kristus sendiri, mulai dari kerendahan dalam kelahiran-Nya di kandang domba, kerendahan dalam sikap sehari-hari di masa hidup-Nya hingga kerendahan dalam pengorbanan-Nya di Kayu Salib. Kerendahan hati Kristiani juga bersifat paradoks sebagaimana Kristus katakan: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23: 11-12). Yakobus menegaskan ini dalam Yak 4: 10, “Rendahkan-lah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu”.












