Home » Renungan » Kasih Allah Menyelamatkan

Kasih Allah Menyelamatkan

Roma 4:1-5, 13-17; Yohanes 3:1-17

Kebaikan belum tentu diterima, apalagi kebenaran. Hal ini terjadi karena suatu kebenaran sering terlihat tidak baik dan tidak menyenangkan. Namun apabila seseorang dapat meneri-ma dan memercayai kebenaran, maka ia akan menemukan kebaikan. Contoh: pada masa lalu pengendara sepeda motor merasa terbeban kalau harus memakai helm. Mereka memakai helm hanya kalau melintasi jalan-jalan protokol yang sering ada polisinya. Banyak orang tidak menyadari pentingnya memakai helm saat mengendarai sepeda motor. Namun sekarang saat semua orang mengerti pentingnya memakai helm, mereka menjadikan helm sebagai suatu riding fashion style (gaya pakaian berkendara).

Orang telah menemukan kebaikan dalam memakai helm. Untuk memercayai suatu kebenaran memang diperlukan proses. Masing-masing orang bisa mengalami pro-ses berbeda untuk percaya dan menerima kebenaran tersebut. Bahkan ada orang yang tidak pernah sampai pada titik percaya dan menerima kebenaran itu karena telah menutup pintu hatinya sejak semula.

Demikian pula dengan berita Injil tentang kasih Allah yang menyelamatkan manusia, tidak mudah bagi orang-orang untuk percaya dan menerimanya. Untuk percaya dan menerima berita Injil keselamatan diperlukan kesadaran diri bahwa dirinya sedang berada di dalam kondisi tidak selamat dan tidak mungkin menyelamatkan dirinya sendiri, maka diperlukan pertolongan dari pihak lain yang mampu untuk menyelamat-kannya. Kesadaran diri ini dapat diibaratkan sebagai pintu bagi sebuah proses untuk sampai kepada keselamatan yang diberikan oleh Allah. Proses itu masih panjang dan membutuhkan ketaatan serta penyerahan diri secara penuh kepada Allah yang menjadi sumber keselamatan. Orang yang telah menemukan keselamatan di dalam Allah berarti telah menemukan hidup yang sejati. Hidup yang demikian akan mendatangkan sukacita yang besar, sehingga orang itu dapat menghasilkan buah-buah kehidupan yang benar-benar indah, serta memuliakan Allah.

Peristiwa perjumpaan antara Nikodemus dan Yesus adalah salah satu kisah yang paling terkenal dalam Injil Yohanes. Kisah ini menunjukkan kepada kita suatu narasi yang lebih dari sekadar perjumpaan antara seorang pemimpin agama Yahudi yang menyelidiki Yesus pada “malam hari”, tetapi memperli-hatkan kepada kita suatu dialog antara gereja dengan sinagoge, di mana pihak pertama melengkapi dan menggenapi pihak kedua dan demikian sebaliknya. Dapat ditambahkan pula bahwa Nikodemus mewakili “orang kripto Kristen” (= orang Kristen terselubung) pada masa gereja Yohanes yang tidak dapat mengaku iman mereka kepada Yesus Kristus di depan umum.

Kisah ini diawali saat seorang “Farisi yang bernama Nikode-mus, seorang pemimpin agama Yahudi” (Sanhedrin) datang pada waktu malam kepada Yesus (3:1). Farisi merupakan salah satu kelompok eksklusif Yahudi yang mempelajari, mengajar-kan dan mengamalkan Hukum Taurat dengan teliti dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga sering disebut sebagai ahli-ahli Taurat. Sebagai seorang Farisi dan anggota Sanhedrin, tentu Nikodemus adalah seorang yang terdidik. Bisa dikatakan Nikodemus adalah seorang cendekiawan Yahudi. Seorang yang terhormat dalam komunitas agama Yahudi datang kepada Yesus pada waktu malam. Tentu hal ini dapat menimbulkan suatu pertanyaan bagi banyak orang. Kata “malam” memberi petunjuk kepada kita tentang adanya “kegelapan” yang menye-lubungi Nikodemus.

Kata itu menggambarkan ketidakmam-puannya dalam memahami sebuah pengertian yang akan me-nuntunnya agar dapat bersaksi tentang Yesus di hadapan para pemimpin agamanya sendiri. Ini menggambarkan ketakutan bahwa dirinya akan dikucilkan oleh mereka. Meski ia adalah seorang pemimpin dalam Bait Suci, ketakutan ini mengenda-likan dirinya. Memang ada beberapa tafsiran yang disampaikan mengenai kisah ini. Di luar pendapat banyak orang itu, yang jelas bahwa kisah ini menunjukkan suatu pencarian tentang jawaban dari pertanyaan mengenai Kerajaan Allah. Suatu ja-waban yang selama ini dinantikan oleh orang-orang Yahudi.

Perkataan-perkataan Nikodemus telah menunjukkan kepada kita siapa yang diwakili oleh tokoh Nokodemus ini. Sapaan “Rabi” kepada Yesus menunjukkan Nikodemus mengakui kewi-bawaan Yesus sebagai seorang yang berstatus tinggi. Kata “kami tahu” menandakan bahwa ia adalah perwakilan dari suatu k0munitas, yaitu para pengajar Israel (3:10) atau mengidentifi-kasikan dirinya dari kelompok ini. Walaupun ia mengakui bah-wa “tanda-tanda” yang telah dibuat Yesus tidak dapat terjadi tanpa penyertaan Allah, tetapi suatu kekuatan masih mengha-langi Nikodemus untuk tunduk pada kuasa yang lebih tinggi yang ia temukan dalam pribadi Yesus.

Yesus menjawab pengakuan Nikodemus dengan langsung menyampaikan pesan penting dari berita Injil yang Ia beritakan, yaitu tentang Kerajaan Allah. Seseorang yang ingin melihat Kerajaan Allah, maka ia harus dilahirkan kembali. Nikodemus menanggapi perkataan Yesus dengan pengertian secara harfiah. Yesus pun menjelaskan bahwa yang dimak-sudkan dengan dilahirkan kembali adalah dilahirkan dari air dan Roh, yaitu melalui baptisan dan pencurahan kuasa Roh Kudus. Pembaptisan menggambarkan keputusan seseorang yang dibaptis masuk ke dalam “air-rahim” bumi agar hidup dengan komitmen dalam dunia sesuai dengan kehidupan orang yang membaptis. Kata “baptisan Yesus” melibatkan suatu jalan hidup yang sama sekali baru yang harus ditempuh dengan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Maka baptisan yang ditetapkan Yesus tidak hanya melalui air, tetapi juga melalui Roh (1:31-33). Jawaban Yesus ini pun belum juga dipahami oleh Nikodemus. Ia bertanya lagi, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” (3:9). Yesus pun menjawab lagi dengan berbalik bertanya, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” (3:10). Dalam diri Nikodemus masih terdapat selubung yang belum terbuka sehingga belum bisa menerima dan memahami perkataan Yesus. Dimungkinkan selubung itu adalah paradigma yang telah terpatri di dalam diri Nikodemus dan orang-orang Yahudi lainnya yang bersumber dari pengajaran Yahudi.

Dalam teks ini Yesus mengucapkan suatu perkataan yang sangat populer bagi orang Kristen sampai pada masa kini, walaupun mungkin banyak yang tidak tahu maksudnya. Telah banyak buku dituliskan tentang ayat ini, bahkan tidak jarang menjadi suatu diskusi yang menarik. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (3:16). Seringkali orang terperangkap dalam perdebatan mengenai “siapa yang dapat diselamatkan” berdasarkan kalimat ini sehingga banyak orang lupa bagaimana kalimat itu berawal. Kalimat ini sesungguhnya ingin memperlihatkan kepada kita bahwa Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk menun-jukkan kepada kita betapa besar kasih Allah bagi setiap kita. Kedatangan Yesus ke dalam dunia bukan untuk menghakimi, melainkan menyelamatkan.

Fakta dalam kehidupan ini memperlihatkan bahwa tidak mudah bagi dunia (manusia) untuk menerima dan memercayai berita Injil tentang kasih Allah yang telah dianugerahkan kepada dunia. Kasih Allah telah dan senantiasa dinyatakan dalam setiap karya-Nya sejak masa lalu sampai saat ini. Berita Injil ini sebenarnya berita yang ditunggu-tunggu oleh semua manusia berdosa yang tidak mungkin mampu menghapus segala dosanya dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Berita Injil ini adalah jawaban atas pencarian manusia untuk mendapatkan keselamatan, dan ini telah tersedia bagi siapa saja yang mau percaya dan menerimanya. Namun demikian tidak mudah orang memercayai dan menerimanya sebagai jawaban atas pencarian hidupnya.

Bagaimana seseorang dapat percaya dan menerima berita Injil ini dan hidupnya mengalami transformasi? Tidak lain adalah dengan bersikap mengosongkan diri, melepaskan diri dari segala ikatan dunia seperti Bapa Abraham yang meninggalkan negeri dan sanak saudaranya, serta memercayakan dirinya kepada janji Allah dengan taat dan setia. Dari Abraham inilah terpancar berkat Allah atas segala bangsa. Demikian pula bagi setiap orang percaya, dari hidupnya akan terpancar kasih Allah yang mendatangkan damai sejahtera. Maka penting bagi setiap orang Kristen untuk sungguh-sungguh percaya dan menerima berita Injil, serta memercayakan hidupnya kepada Allah supaya hidupnya pun berbuah lebat. Amin.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN