Home » Bahan PA » Materi PA (23-28 September 2019)

Materi PA (23-28 September 2019)

Sempurna di dalam Ketidaksempurnaan
(2 Korintus 12:1-10)

Albino adalah organisme (makhluk hidup, terutama manusia dan binatang) yang memperlihatkan keadaan kekurangan pigmen, umumnya ditandai dengan warna kulit putih dan rambut putih, serta mata kemerah-merahan. Sedangkan albinisme merupakan kondisi genetis yang tidak sempurna yang menyebabkan organisme tidak dapat membentuk pigmen. (dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia V)

Binatang-binatang albino biasanya dianggap lebih cantik, bahkan dapat dijual dengan harga lebih mahal karena keunikan mereka yang dianggap langka. Tetapi tidak demikian dengan orang albino. Orang-orang albino di beberapa tempat dianggap mengerikan karena keadaan mereka yang berbeda. Zaman dulu di Tanzania, masyarakat menganggap orang-orang albino sebagai penyihir sehingga orang-orang albino akan diperlakukan dengan kasar atau bahkan dibunuh. Manusia seringkali menganggap “ketidaksempurnaan” atau pun perbedaan dalam dirinya sebagai kelemahan yang akan membawa petaka atau kesialan, sehingga tidak sedikit orang menutupi atau berupaya untuk menyingkirkan kelemahannya supaya dianggap normal.

Disadari atau pun tidak, setiap orang pasti memiliki keunikan dalam dirinya yang seringkali disebut sebagai kelemahan. Hal ini juga dimiliki oleh Paulus, yang ia sebut sebagai duri dalam daging. Di dalam 2 Korintus 12:1-10 ia menceritakan bahwa ia pun memiliki kelemahan-kelemahan, bahkan duri dalam dagingnya. Respon manusiawi Paulus diperlihatkan pada ayat kedelapan ketika Paulus menceritakan bahwa ia pun memohon agar Tuhan berkenan mengambil duri di dalam dagingnya. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa terdapat penolakan di dalam proses penerimaan diri manusia secara utuh.

Paulus tidak menceritakan secara detail mengenai kondisi duri dalam dagingnya. Hal ini memiliki maksud agar pembaca yang memiliki kelemahan-kelemahan di dalam dirinya, baik penyakit mau pun keterbatasan yang lain, dapat merasa terhubung dengan kesaksian Paulus. Kelemahan-kelemahan yang diizinkan oleh Tuhan untuk tetap tinggal di dalam diri Paulus ternyata justru menjadi penahan bagi Paulus untuk tidak menjadi tinggi hati. Kelemahan-kelemahan tersebut mengingatkan Paulus tentang keberadaannya sebagai manusia yang lemah dan pengikut Yesus. Kelemahan yang ia miliki membuat Paulus semakin memusatkan dirinya kepada Kristus dan memusatkan pengajarannya hanya kepada Kristus, dan bukan mencari keuntungan sendiri.

Surat Paulus kepada Korintus bagian kedua ini dikirimkan untuk mengklarifikasi mengenai fitnah-fitnah yang ditujukan kepadanya selama melakukan pelayanan untuk mengabarkan Injil. Jemaat di Korintus pada saat itu dibingungkan dengan berbagai macam ajaran-ajaran atau isu-isu yang bertentangan dengan ajaran yang disampaikan oleh Paulus. Bahkan beberapa isu menyebutkan bahwa kedatangan Paulus sebenarnya adalah untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri. Paulus tidak menjawab isu atau pun ajaran-ajaran tersebut dengan kelebihan-kelebihan yang ada di dalam dirinya, melainkan justru dengan kelemahan-kelemahan di dalam dirinya.

Tindakan yang dilakukan Paulus menunjukkan penerimaan diri secara utuh. Ia tidak hanya merangkul talenta, kelebihan, kesempatan, pengetahuan, atau bahkan perjumpaan khusus dengan Tuhan sebagai bagian dirinya untuk berkarya, melainkan juga menggunakan kelemahannya sebagai sarana untuk berkarya. Duri dalam daging yang awalnya ia tolak, sebenarnya merupakan pertolongan dari Tuhan untuk membuat Paulus memiliki sudut pandangya yang berbeda dalam melakukan pelayanan.

Penerimaan diri secara utuh tentu bukan hal yang mudah. Dulunya sehat dan kuat, tiba-tiba mengalami penyakit. Dulunya berkecukupan, tiba-tiba harus berjuang keras untuk mencukupi diri. Dulunya terpandang dan berjabatan, tiba-tiba diabaikan seakan-akan bukan siapa-siapa. Setiap orang memiliki duri dalam dagingnya sendiri. Pilihannya hanya dua, menolaknya hingga terpuruk dalam kemarahan atau perlahan-lahan menerimanya menjadi bagian dari diri kita. Sebab Tuhan sendiri menguatkan Paulus “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Pada akhirnya karya Tuhan dan kasih Tuhan justru akan sempurna di dalam ketidaksempurnaan Paulus dan semua manusia.

Pertanyaan untuk berefleksi:
a. Apakah jemaat juga memiliki duri di dalam daging?
b. Bagaimana tantangan untuk menerima kenyataan bahwa duri dalam daging pun adalah bagian dari diri kita sendiri?
c. Bagaimana upaya untuk merangkul diri kita beserta dengan segala yang ada di dalamnya?

(ddk)

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN