Home » Bahan PA » Materi PA 26 Nov – 1 Des 2018 (Bahan Dasar Masa Adven)

Materi PA 26 Nov – 1 Des 2018 (Bahan Dasar Masa Adven)

Damai Sejahtera Allah di Bumi Pancasila

PENDAHULUAN
Tema Masa Adven Natal 2018 ini mungkin dirasa aneh. Paling tidak beberapa orang mengerutkan dahi seraya bertanya,”Mengapa harus membawa Pancasila dalam Masa Raya Gerejawi?” Tentu saja pertanyaan itu sah dan perlu. Selama ini gereja seolah menghindarkan diri dari situasi publik. Keberadaannya di tengah pergulatan bangsa acapkali dibatasi oleh tembok kesalehan personal dan gerejawi. Akibatnya apa yangterjadi di luar gereja dianggap tidak ada kaitannya dengan hidup beriman pada Allah. Padahal keberadaan gereja sangat terkait dengan situasi di luar gereja. Dampak dari sikap abai terhadap situasi sekitar adalah pembiaran, diam. Abai atau diam terhadap realitas di sekitar gereja menunjukkan bahwa iman dihayati sebagai sesuatu yang bersifat personal atau komunal dalam arti yang sempit.

Di tengah hiruk pikuk berbangsa, saat ini kita diperhadapkan dengan tantangan besar dan berpotensi merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gerakan-gerakan radikalisme, terorisme, intoleransi, korupsi, penyalahgunaan obat-obat terlarang, human trafficking, penyebaran hoaks merupakan tantangan real. Di tengah tantangan-tantangan itu ada upaya dari pihak tertentu untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara dengan ideologi lain dengan cara-cara tertentu. Sebagai bagian dari NKRI, apakah gereja tetap akan diam? Ketika gereja diam, apakah damai sejahtera masih dirasakan?

Memerhatikan realitas dan pertanyaan di atas, LPP (Lembaga Pembinaan dan Pengkaderan) Sinode GKJ dan GKI Sinode Wilayah Jateng menggumulkan tema Damai Sejahtera Allah di Bumi Pancasila untuk menghayati Masa Adven Natal. LPP Sinode mengajak umat untuk menghayati kehidupan imannya pada Yesus Kristus. Ia adalah Allah yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Dalam hal ini kita diingatkan pada teologi inkarnasi. Istilah inkarnasi berasal dari bahasa Latin, incarnation (yang berhubungan dengan istilah Latin “daging”). Inkarnasi mengacu pada penjelmaan Firman Allah yang menjadi manusia (bdk. Yoh. 1:14, 1 Yoh. 4:2, 2 Yoh 7, 1 Tim. 3:16). Pengakuan terhadap Allah sang khalik (pencipta) dan inkarnasi firman Allah dalam Yesus membawa kita menghayati bahwa Allah tinggal di antara kita di Indonesia (Drewes dan Moujau, 2007). Dengan tinggal di antara kita, Ia menyapa kita dengan damai sejahtera, mengajak menghayati dan mengamalkan damai sejahtera Allah di bumi Pancasila. Dari sinilah kita diajak untuk menggumulkan Masa – Adven Natal dan keindonesiaan kita.

ADVEN – NATAL: SAPAAN DAMAI SEJAHTERA DARI ALLAH
Pertanyaan yang perlu dijawab agar kita dapat menghayati kebangsaan dan masa Adven-Natal adalah: Apakah berita Adven-Natal terkait dengan realitas kebangsaan kita? Untuk menjawab pertanyaan itu, perlulah kita mendalami pesan Alkitab di sekitar bacaan Minggu Adven pertama hingga Natal. Melalui pendalaman teks itu kita akan menemukan kaitan erat antara kebangsaan dan iman Kristen.

– Minggu Adven pertama,
Pesan Injil adalah pemberitaan tentang kedatangan Yesus dengan segala kemuliaan-Nya (Luk. 21:25-28) dan seruan bagi umat agar senantiasa berjaga-jaga (Luk. 21:34-36). Lukas menyampaikan berita bahwa menjelang akhir zaman akan ada kekacauan. Pada saat itu orang akan melihat Anak Manusia. Berita Injil itu disampaikan Lukas diambil dari peristiwa tahun 70 M di mana Yesusalem dihancurkan pasukan Romawi. Pertanyaanya, apa kaitan antara kedatangan Yesus kembali di akhir zaman dan penghayatan Natal? Kelahiran Yesus di Betlehem adalah cara Allah menjadi manusia. Ia datang ke dunia dengan menjadikan diri-Nya sederhana. Setelah Ia hadir di Betlehem, Ia berkarya di tengah masyarakat Galilea dan sekitarnya hingga kenaikan-Nya ke surga. Ia akan datang kembali di akhir zaman. Saat ini umat pada masa penantian datangnya Yesus yang kedua kali.
Di masa ini ada berbagai sikap dilakukan. Ada yang menanti dengan berjaga, berkarya bersama sesama, namun ada pula yang memisahkan diri dari khalayak umum, bahkan dengan cara ekstrem seperti bunuh diri dan bertindak ekslusif – menutup diri. Bagaimana dengan gereja masa kini?

– Minggu Adven ke-dua,
Mengajak kita melihat pesan Yohanes Pembaptis agar umat bertobat (Luk. 3:2-6). Pesan itu disampaikan Yohanes Pembaptis pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius (Luk. 3:1-2). Yohanes datang dalam konteks pemerintahan Tiberius. Bila mencermati nasihat-nasihatnya tampak bahwa situasi kehidupan masyarakat kala itu adalah kehidupan dalam mentalitas egois, hedonis (gaya hidup mewah), acuh tak acuh, pesimis (putus asa), gelisah dan kebohongan. Dengan menyebut kehadiran Yohanes pada masa pemerintahan Tiberius, Lukas menyerukan agar pertobatan pribadi berdampak pada masyarakat.

– Minggu Adven ke-tiga
berbicara tentang dua hal, pertama: tanggapan positif dari pendengar Yohanes Pembaptis (Luk. 3:10-14) dan mengenai orang yang lebih berkuasa daripada Yohanes Pembaptis (Luk. 3:15-18). Inti dari Minggu Adven ke-tiga adalah: pertobatan membuahkan kesukacitaan. Bertobat berarti meninggalkan keinginan sendiri, memerhatikan sesama, merawat kehidupan. Para prajurit, para pemungut cukai, mendapat pencerahan. Korupsi, ketidakjujuran, penyalahgunaan kekuasaan, keserakahan yang menjangkiti mereka ditinggalkan dan diganti dengan hidup lebih manusiawi. Yohanes menekankan pembangunan hidup bersama dalam persaudaraan saling menghargai satu sama lain. Inilah karya dalam kekudusan dan kegembiraan.

– Minggu Adven ke-empat
Injil Lukas mengajak kita melihat kunjungan Maria kepada Elizabet (Luk. 1:39-41b) dan bagaimana Elizabet dipenuhi Roh Kudus menyambut salam Maria dengan ucapan penuh berkat dan pujian (Luk. 1:41b-45). Maria yang baru saja mendengar kabar gembira menceritakan pengalamannya pada Elizabet. Kunjungannya pada Elizabet menjadi tanda bahwa persaudaraan di antara mereka menjadi sumber peneguhan hidup bersama. Salam dari Maria disambut gembira oleh Elizabet dan bayi dalam kandungannya. Mengunjungi dalam semangat persaudaraan dan sikap apresiatif tampak dalam relasi di antara mereka. Dari mana iklim itu terbangun? Dari spiritualitas yang hidup. Spiritualitas membuat setiap orang mengalami pancaran daya Ilahi dan pancaran itu dipantulkan bagi sesama. Dalam iklim masyarakat yang sakit, spiritualitas hanya dinikmati bagi diri sendiri. Kesalehan personal diutamakan, sementara kesalehan sosial diabaikan. Tak heran ada banyak cerita tentang orang-orang yang tampak saleh namun membenci sesama atau saleh namun korupsi, bahkan tampak saleh namun kesalehannya digunakan untuk menciderai sesama.

– Malam Natal
Bacaan di perayaan Malam Natal selalu berulang. Meski demikian, kita akan menemukan pesan yang relevan bila merefleksikan secara mendalam. Injil Lukas menempatkan kelahiran Yesus dalam konteks sejarah Romawi (Luk. 2:1-3). Ia lahir berhimpitan waktu dengan perintah kaisar Agustus mengadakan cacah jiwa bagi semua penduduk di wilayah kekuasaannya. Pendaftaran penduduk sangat terkait dengan kepentingan politik, ekonomi, militer. Melalui cacah jiwa banyak data diperoleh dan data itu sangat berkait dengan kepentingan penguasa, dalam hal ini Kaisar Agustus. Dari sekelumit kisah ini tampak bahwa kelahiran Yesus sangat dekat dengan sebuah entitas (keberadaan atau wujud) sebuah bangsa. Yusuf berasal dari keluarga Daud dan ia bersama Maria berangkat ke Betlehem untuk mendaftarkan diri. Pada waktu itulah Yesus lahir (Luk. 2:4-7). Kelahiran itu diberitakan malaikat Tuhan kepada gembala-gembala dan disambut dengan nyanyian pujian balatentara surgawi (ay.8-14). Apa pesan bagi kita di Indonesia? Kelahiran Yesus terjadi dalam situasi politik di mana Kaisar Agustus memiliki kepentingan bagi diri dan bangsanya. Di sini Allah juga punya kepentingan. Ia menyatakan damai sejahtera bagi bangsa-bangsa. Damai bagi bangsa-bangsa diawali dari keluarga Yusuf dan Maria, keluarga besar para gembala dan keluarga besar umat manusia. Dalam peristiwa itu kasih dan damai adalah satu, keduanya berhubungan sangat erat. Kasih dan damai itu bersumber dari kehadiran Kristus. Titus menyebut: Dialah anugerah Allah yang diberikan kepada seluruh umat manusia (Tit. 2:11).

– Natal
Sebagaimana bacaan di Malam Natal selalu sama, demikian juga dengan bacaan di hari Natal. Setelah malaikat-malaikat meninggalkan gembala, gembala-gembala segera bergegas menuju Betlehem. Berita malaikat mereka lihat, Maria menyimpan perkara-perkara istimewa dalam hati dan gembala-gembala itu kembali ke tempat mereka dengan memuliakan Allah. Di Palestina para gembala bisa diperlakukan secara tidak baik. Mereka menjadi objek kecurigaan dalam masyarakat. Selain itu hak-hak mereka sering terabaikan sebab mereka ada di bawah bayang-bayang kungkungan majikan. Artinya dalam konteks saat itu, keadilan sosial belum diperjuangkan. Kehadiran Allah membuat mereka tersapa untuk mengalami keadilan sosial. Keadilan sosial tidak dapat dilepaskan dari spiritualitas. Sapaan damai sejahtera dari Allah terhadap para gembala adalah sapaan pembebasan terhadap kalangan miskin, dipinggirkan, kalangan yang tidak memiliki hak hidup layak. Damai dalam hati menumbuhkan semangat baru bagi hidup baru di masa mendatang. Sapaan Lukas ini sepertinya juga disampaikan pada orang-orang kaya agar memahami karya Allah. Allah menyapa mereka yang miskin dengan solidaritas-Nya, hendaklah penguasa, orang kaya memerhatikan mereka secara solider, penuh kasih untuk mewujudkan hidup berkeadilan. Damai sejahtera di bumi terwujud manakala keadilan sosial dialami bersama.

Dari berita injil dapat kita simpulkan bahwa hadirnya Yesus ke dalam dunia menggarisbawahi pemahaman akan luhurnya martabat manusia. Luhurnya martabat manusia itu tercermin dalam hidup dalam perdamaian, keadilan, keutuhan ciptaan. Dengan menjadi manusia, Yesus memulihkan wajah kemanusiaan yang rusak akibat dosa. Pulihnya martabat manusia menumbuhkan sikap hidup saling hormat, saling mengasihi, saling memanusiakan satu sama lain. Upaya memanusiakan hidup dihayati secara liturgis pada Minggu setelah Natal, Ibadah Malam Tahun Baru, Ibadah Tahun Baru, Epifani dan Minggu-Minggu sesudahnya.

ADVEN – NATAL: MENGHAYATI DAMAI SEJAHTERA, MENGAMALKAN PANCASILA
GKJ dan GKI adalah gereja calvinis. Ajaran Yohanes Calvin menjadi acuan dalam menghayati iman pada Yesus. Terkait dengan relasi gereja dan negara, Calvin menegaskan bahwa antara ke-duanya ada pemisahan namun tidak terpisah. Tidak ada subordinasi (cabang) atau separasi total (terpisah) namun koordinasi. Koordinasi antara gereja dan negara didasari pada pandangan teologis bahwa ke-duanya memeroleh wewenang dari Allah yang satu bagi dunia yang satu dan kemanusiaan yang satu (Eka Darmaputera, 2005). Di sini, gereja mengakui eksistensi (keberadaan) dan fungsi negara sebagai alat Allah sekaligus kritis terhadapnya. Fungsi dari sikap kritis adalah dengan maksud masing-masing menjalankan fungsinya dengan baik.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia dengan dasar negara Pancasila, GKJ dan GKI merupakan komunitas tak terpisah dari bangsa ini. Hidup di bumi Pancasila berarti menghayati rahmat dari Allah dalam konteks ke-indonesiaan. Karena itu sebagai GKJ dan GKI, kita menghayati diri sebagai Kristen sejati dan Pancasilais. Selama 73 tahun, Pancasila telah menjadi fungsi integratif (pemersatu) dan menjadikan bangsa Indonesia yang plural (beragam) ini menyatu. Jika Pancasila dilecehkan, direndahkan dan diperlakukan seperti kawanan domba di padang, maka dayanya melemah. Pelemahan Pancasila sebagai ideologi menjadikan bangsa Indonesia kehilangan arah bersama sebagai bangsa.
Pada Masa Adven – Natal ini kita melakukan revisitasi Pancasila atau mengunjungi kembali untuk melakukan revitalisasi agar semua harapan bangsa Indonesia menjadi baik. Revisitasi dilakukan seperti perkunjungan Maria kepada Elizabet dengan berbagi berkat. Revisitasi dilakukan dengan melihat cita-cita luhur pendiri bangsa ini. Mereka membuang segala ego sectoral (golongan, politik, kelompok, agama) demi terciptanya ideologi atau dasar negara yang tidak berbasis agama manapun, namun tidak bertentangan dengan agama-agama di Indonesia.

Franz Magnis – Suseno menuliskan bahwa watak dasar bangsa ini adalah toleran, penuh kasih dan menerima yang lemah. Dalam catatan sejarah, dua kali ada komponen bangsa merelakan kedudukan dominasinya demi persatuan bangsa. Dalam Sumpah Pemuda 1928, Djong Djava merelakan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Andaikata bahasa Jawa menjadi bahasa Indonesia, Republik Indonesia akan dipahami sebagai Republik Jawa Raya, akibatnya suku-suku lain tidak ikut di dalamnya. Peristiwa ke-dua adalah Pancasila sebagai dasar negara dalam Pembukaan UUD 45. Kesepakatan itu memastikan bahwa Indonesia menjadi milik seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan agama. Kesediaan para wakil umat Islam untuk tidak menuntut kedudukan khusus dalam UUD meski mereka merupakan jumlah penduduk terbesar memungkinkan persatuan bangsa dari Sabang-Merauke, dari Timur – Tanah laud!

Ke-lima sila dalam Pancasila berakar kuat dari bangsa Indonesia. Sebagaimana sabda Allah di Masa Adven berakar dari sebuah konteks di Palestina, demikian juga dengan keberadaan Pancasila di Indonesia. Keberadaannya tidak muncul dengan tiba-tiba. Butir-butir sila dalam Pancasila bersumber dari anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia dengan segala kekayaan alam, keramahan masyarakat, keragaman budaya, bahasa dan agama. Bangsa ini diciptakan Allah untuk hidup dalam kemajemukan (pluralitas). Bung Karno, mengapresiasi Indonesia dan menggagas konsep filosofisnya. Pada tanggal 30 September 1960, dalam persidangan umum PBB yang ke XV, Bung Karno menyampaikan pidatonya tentang konsepsi Pancasila di hadapan sekian banyak pemimpin-pemimpin dunia. Dalam pidatonya, Soekarno mendeklarasikan bahwa ada lima sila menjadi ideologi kehidupan bernegara di Indonesia:
1. “Belief in God” Iman kepada Tuhan
2. “Humanity” Kemanusiaan
3. “Nationality” Persatuan atas dasar kebangsaan
4. “Democracy” Kepemimpinan dari, oleh, dan untuk rakyat
5. “Social Justice” Keadilan sosial.

Bagaimana iman Kristen dan Pancasila? Alm. Pdt. Eka Darmaputera mengajak gereja-gereja berefleksi melalui pertanyaan,”Mengapa Gereja Menerima Pancasila?” Menurutnya di Indonesia ada tiga committed terhadap Pancasila.
– Pertama: menerima Pancasila sebagai formalitas belaka. Karena Pancasila ideologi negara, maka orang Kristen wajib menerima dan tunduk kepadanya.
– Kedua, menerima Pancasila oleh karena pertimbangan-pertimbangan oportunis saja. Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa orang Kristen harus menerima Pancasila karena Pancasila banyak memberi keuntungan secara politis, bagi posisi kelompok Kristen di Indonesia.
– Ketiga, menerima Pancasila seolah-olah adalah “wahyu” dari Allah. Ada orang-orang Kristen yang begitu fanatik terhadap Pancasila, sehingga beranggapan bahwa Pancasila itu adalah wahyu Ilahi, yang bersifat kekal, sempurna, suci dan pantang dipertanyakan (Eka Darmaputera, 2005).

Dari semua itu, apa yang harus mendasari penerimaan gereja terhadap Pancasila?

Dalam segala keterbatasannya, Pancasila merupakan alternatif yang terbaik bagi kesatuan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Pancasila tidak sempurna, sebab apa yang ada di dunia ini tidak sempurna. Pancasila merupakan alternatif terbaik, oleh karena di sana ada identitas nasional. Secara teologis kristiani, kita dapat mengatakan bahwa apa yang terbaik bagi semua orang adalah baik untuk kita. Apa alasannya? Gereja ada bukan bagi dirinya sendiri, tetapi untuk dunia ini. Gereja bukan tujuan melainkan alat bagi misi Allah (mission Dei). Misi Allah mencakup semua dimensi kehidupan, seperti juga keselamatan merupakan inti berita dari misi Allah yang mencakup kehidupan manusia yang seutuhnya dan mengarah kepada “langit baru” dan “bumi baru” yang telah, sedang, dan akan didatangkan oleh Allah. Penghayatan tengang “langit baru dan bumi baru” adalah hakikat dari penghayatan tentang Kerajaan Allah di mana nilai-nilai Kerajaan Allah-lah yang dihidupi dalam hidup orang Kristen (Eka Darmaputera, 2005).
Pernyataan Alm. Pdt. Eka Darmaputera itu senada dengan pernyataan Romo Driyarkara. Dalam pemaparan, Pancasila dan Religi, Romo Driyarkara menuturkan, penempatan sila ketuhanan yang seperti itu menyiratkan konsepsi Pancasila yang memiliki dua dimensi. Dimensi pertama, politik, yang bersifat inheren (berhubungan erat) Pancasila dan negara. Dimensi politik ini merupakan “tugas langsung” negara yang mengatur ranah kepublikan, berisi perawatan persatuan bangsa, penghormatan Hak Asasi Manusia, penggunaan sistem demokrasi, dan perwujudan keadilan sosial. Sedangkan dimensi kedua, yakni etis, merupakan dimensi normatif (sila) yang mendasari semua praktik politik tersebut. Dimensi etis ini ialah ketuhanan sebagai cerminan kultur bangsa yang bersifat religious (Petrus Danan Widiarsa, 2018).
Sebagai bagian dari negeri ini, Gereja menerima Pancasila. Pada tahun 1984, Perekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) membuka dan mengizinkan adanya dua arus menetap dalam perkembangan dirinya: arus iman Kristen selaku dasar hidupnya dan Pancasila selaku asas dalam berkarya di tengah masyarakat. Keputusan PGI itu menjadi penting untuk dihayati secara teologis sekaligus diwujudkan melalui aktualisasi iman Kristen dan Pancasila (Weinata Sairin, 2006).

Aktualisasi nilai-nilai Pancasila diwujudkan melalui pertobatan sebagaimana seruan Yohanes Pembaptis di hadapan para agamawan, pelaku usaha, penjaga keamanan negara dan khalayak ramai di sekitar Yohanes Pembaptis. Gereja perlu melihat lagi keberadaannya di tengah masyarakat, di tengah bangsa Indonesia yang disebut sebagai Bumi Pancasila.
Sapaan Allah bagi Bumi Pancasila sudah nyata. Di tengah berbagai upaya melemahkan negeri dengan mengganti ideologi negara, pemecah belahan kesatuan bersama, perebutan kekuasaan dengan mengandalkan politik identitas, kita percaya bahwa Allah tetap beserta kita. Slogan Immanuel mestinya tidak hanya berhenti, diam bahkan dibekukan di dalam gedung gereja dan ruang batin kita saja melainkan merasuk ke dalam hidup bersama. Immanuel, Allah beserta Indonesia. Immanuel, Allah bersama orang-orang yang memiliki komitmen menjaga keutuhan bangsa menurut dasar negara ini. Dengan begitu di manapun orang Kristen berada, kehadirannya mengaktualisasikan nilai-nilai kekristenan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yaitu mewujudkan negeri yang damai, adil, makmur, berkeadilan sosial dengan berketuhanan Yang Maha Esa.

PENUTUP
Pengamalan Pancasila dilakukan oleh GKJ dan GKI SW Jawa Tengah melalui Masa Adven Natal di bawah tema,”Damai di Bumi Pancasila”. Damai adalah berita dari Allah untuk menyapa umat supaya dialami setiap hari. Bumi Pancasila adalah kita yang makan, minum, menghirup udara, berkarya di Indonesia. Dalam bahasa Yunani, damai sejahtera disebut dengan eirene yang bermakna kondisi bebas dari rasa takut. Plato mengatakan bahwa damai juga bermakna perilaku penuh damai. Hal ini menunjukkan bahwa damai sejahtera harus diupayakan. Damai sejahtera tidak akan mewujud bila umat berdiam diri atau pasif. Sapaan Malaikat Tuhan, damai sejahtera di antara manusia yang berkenan kepada-Nya menunjukkan bahwa damai sejahtera dari Tuhan itu harus diperjuangkan. Orang-orang yang memperjuangkan damai sejahtera adalah orang-orang yang disebut berkenan kepada Allah. Sebagai orang-orang yang diperkanan Allah, mari kita mencintai Indonesia, Bumi Pancasila dengan dasar iman pada Yesus Kristus, Tuhan kita.

Kita adalah Kristen Sejati dan Pancasilais!

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN