Memberitakan Karya Tuhan
(Yohanes 9:1-41)
Hidup manusia sangatlah dinamis, sehingga banyak peristiwa yang harus dialami. Hidup itu juga berkembang sejalan dengan perkembangan dan kemajuan. Dari sekian banyak peristiwa yang terjadi dalam hidup bisa menjadi “bahan” untuk ditutur-kan atau diceritakan. Sekalipun tentu perlu adanya seleksi peristiwa mana yang layak untuk dituturkan karena akan memberi dampak bagi siapapun yang menerimanya. Dalam pengha-yatan iman, hidup manusia senantiasa ada dalam campur tangan Tuhan. Maka menuturkan kisah hidup, dalam pengha-yatan iman sama artinya memberitakan karya Tuhan. Di Masa Paska tahun ini kita diajak untuk mengayati pentingnya, memberitakan karya Allah yang dinyatakan dan teranyam dalam sejarah kehidupan manusia dan sekaligus diajak untuk mewartakannya.
Materi PA Masa Paskah (16-21 Maret 2020)
Apakah Dunia Hanya Pasar?
(Yohanes 2:13-22)
PENGANTAR
Judul “Apakah Dunia Hanya Pasar?” ditulis oleh Jean Vanier dalam salah satu bab dari bukunya Tenggelam Dalam Misteri Yesus. Dengan menyebut pasar maka dunia menjadi tempat perebutan. Itulah yang kita saksikan saat ini. Dunia menjadi ruang perebutan kekuasaan. Dengan kekuasaan, orang berang-gapan segala hal bisa direguk dari dunia ini. Kalaupun relasi dijalin semuanya diukur dengan transaksi keuntungan belaka. Dunia semacam itulah yang kita hidupi saat ini. Dalam dunia semacam ini, jabatan, pangkat, kekayaan, dan kelompok mayoritas memiliki posisi tawar yang tinggi. Itu sebabnya diperebutkan dengan berbagai cara. Karena dunia adalah pasar, yang dikejar adalah keuntungan. Spiritualitas pun diukur dari pencapaian atau kedudukan.
Yesus mengajarkan dunia sebagai altar. Hidup adalah memper-sembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan bagi kemanusiaan. Itu sebabnya Yesus rela berkorban, mengikuti jalan Tuhan yang menyesakkan. Itu pula yang membuat-Nya dikuasai kemarahan yang menyala-nyala, kala ibadah hanya sebatas keuntungan materi belaka.
Perjumpaan Yang Mengubahkan
Roma 5:1-11; Yohanes 4: 5-42
Perjumpaan berangkat dari kata dasar jumpa yang artinya berpandangan, bertemu muka, bersua atau berhadapan. Sementara itu berjumpa berarti ada pertemuan dan terjadi sikap saling bertatap muka, saling memandang dan interaksi. Mungkin hanya kontak mata dan hati yang bicara (menangkap kesan), namun demikian bisa jadi terdorong untuk meneruskan dalam bentuk percakapan mendalam. Perjumpaan merujuk pada sebuah kondisi yang terjadi dan mengharuskan seseorang saling bertemu muka, berhadapan dan tersedia ruang untuk berinteraksi mendalam. Demikianlah dalam berelasi dengan siapapun sebagai makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat yang majemuk, sangat mungkin terjadi perjumpaan dengan siapapun dan dalam kondisi apapun, baik dalam konteks keseharian hidup maupun melalui media sosial. Di dalam perjumpaan selalu terbuka kemungkinan dan kesempatan terjadinya banyak hal, baik yang berpengaruh positif maupun negatif.
Perjumpaan dapat mengubah sikap seseorang makin kuat dalam relasi sosialnya. Salah satu ukuran keberhasilan dalam berelasi sosial dan berdialog dengan masyarakat yang majemuk menurut Muhamad Ali (2003) yaitu menguatnya aspek “social trust”, yakni kepercayaan kedua belah pihak yang tumbuh secara natural oleh karena dua syarat yang sudah terpenuhi. Pertama, “rasa percaya” pada yang lain sekalipun berbeda latar belakang dan keagamaannya. Kedua, sikap “percaya diri” dalam menjalani kehidupan religiusitas keagamaannya sehari-hari, tanpa lagi berada dalam bayang-bayang dikotomi mayoritas-minoritas di masyarakat. Demikian juga sikap terbuka terhadap tetangga yang berbeda, mau mendoakan sekalipun berbeda agama dan budaya, mau mengucapkan selamat kepada yang berbeda, dan yang terpenting mau bekerjasama untuk mengatasi persoalan kemanusiaan bersama-sama.
MATERI PD MASA PASKAH 2020 (9-14 Maret 2020)
TULADHA KASETYAN SAKING SMIRMA
(Wahyu 2 : 8 – 11)
1. WEKDAL ENING
2. KIDUNG PAMUJI
KPK 112 : 1-3
GUSTI YÉSUS PANGÈN KULA
Gusti Yésus Pangen kula,
kula ménda kagungannya.
Dènnya nebus klayan rahnya,
mrih kula gesang slaminya.
Sang Kristus Pangèn utama
kang sampun ngetohken nyawa,
nebus kula saking dosa,
wah nuntun kula mring swarga.
Gusti ngayomi méndanya,
inguwalken sing rubéda,
mrih tan tiwas ing panandhang,
nging tansah manggih kabegjan.
Kasih Allah Menyelamatkan
Roma 4:1-5, 13-17; Yohanes 3:1-17
Kebaikan belum tentu diterima, apalagi kebenaran. Hal ini terjadi karena suatu kebenaran sering terlihat tidak baik dan tidak menyenangkan. Namun apabila seseorang dapat meneri-ma dan memercayai kebenaran, maka ia akan menemukan kebaikan. Contoh: pada masa lalu pengendara sepeda motor merasa terbeban kalau harus memakai helm. Mereka memakai helm hanya kalau melintasi jalan-jalan protokol yang sering ada polisinya. Banyak orang tidak menyadari pentingnya memakai helm saat mengendarai sepeda motor. Namun sekarang saat semua orang mengerti pentingnya memakai helm, mereka menjadikan helm sebagai suatu riding fashion style (gaya pakaian berkendara).
Orang telah menemukan kebaikan dalam memakai helm. Untuk memercayai suatu kebenaran memang diperlukan proses. Masing-masing orang bisa mengalami pro-ses berbeda untuk percaya dan menerima kebenaran tersebut. Bahkan ada orang yang tidak pernah sampai pada titik percaya dan menerima kebenaran itu karena telah menutup pintu hatinya sejak semula.












