Materi PA (2-8 Maret 2020)
BAHAN DASAR MASA PASKAH 2020
“PERCAYA DAN KATAKANLAH”
PENGANTAR
Sejak puluhan tahun yang lalu, selalu ada saja bullying / perundungan yang dialami oleh anak-anak Kristen terkait dengan agamanya. Bullying semakin menguat tatkala sekolah-sekolah negeri mulai didominasi oleh warna agama tertentu. Dominasi tersebut nampak melalui rumusan doa dari agama tertentu di saat upacara atau acara-acara bersama, juga melalui cara berpakaian. Hal ini terjadi pasca reformasi tahun 1998. Melaluinya Indonesia tidak hanya mengalami pembaruan di dalam tatanan pemerintahan, namun juga munculnya eforia kebebasan dimana-mana. Sel-sel radikalisme agama yang selama itu terbungkam seakan menemukan momentumnya untuk bangkit dan beraksi di bumi Pancasila.
Terkait radikalisme, menteri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu (periode 2014-2020) meminta kepada semua pihak agar mewaspadai munculnya benih-benih radikalisme di lingkungan pendidikan. Sementara itu, Komisi Nasional Perlin-dungan Anak juga pernah menyebutkan bahwa radikalisme sudah memasuki ruang kelas di sekolah-sekolah. Ironisnya, hal tersebut dilakukan oleh guru yang seharusnya mengajarkan bahwa paham tersebut berbahaya.
Melangkah Bersama Tuhan
Matius 4:1-11; Roma 5: 12-19
Di Minggu ini secara khusus umat diajak untuk menghayati bagaimana manusia dapat diperdaya iblis dan mengambil keputusan melawan perintah Tuhan. Manusia jatuh dalam dosa yang berakibat segala keturunannya jatuh dalam dosa dan kematian. Namun Allah tidak membiarkan manusia dalam dosa. Melalui ketaatan, Yesus Kristus sebagai Adam kedua (Roma 5: 12-19) telah mengalahkan setiap pencobaan. Selanjutnya Kemenangan Kristus atas kuasa maut menjadi jalan masuk bagi pembebasan seluruh umat manusia.
Pada dasarnya peristiwa manusia jatuh dalam dosa, memberi pemahaman bahwa manusia telah mengalami hidup yang paling rendah, mengalami kemunduran dan kemerosotan secara moral. Manusia berada di jurang terdalam. Manusia tak berdaya untuk naik merayap, sejengkal pun tidak, ke tempat yang lebih tinggi, tanpa kasih karunia Allah. Manusia telah mati karena dosa (… jangan kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau akan mati – Kej 2:17), dan Allah ternyata dengan kasih-Nya tetap sedia memberi kesempatan agar manusia memperoleh kembali hidupnya dengan penyertaan dan janji-Nya. Di dalam totalitas kasih Allah di dalam Sang Juruselamat, peristiwa pencobaan Yesus telah mengingatkan kita pada gagalnya manusia untuk percaya dan taat pada Allah. Kita belajar dari kunci keberhasilan Yesus yang berhasil menang atas pencobaan yang dialami-Nya, yaitu ketaatan/kesetiaan-Nya dalam berpegang pada Firman Allah.
Pesan Badan Pelaksana Sinode GKJ Dalam Rangka HUT ke-89 Sinode GKJ

Sinode GKJ sedang menghidupi tema: “Hidup Bersama dalam Keluarga Allah”, dengan sub-tema: “Creative Citizenship (Kewarganegaraan Kreatif) Sebagai Dasar GKJ Mengembangkan Kehidupan Persaudaraan dalam Bingkai Ke-Indonesia-an”. Gereja-gereja Kristen Jawa menghayati dirinya sebagai rumah bersama dalam keragaman corak spiritualitas dan dipanggil untuk hadir serta berperan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat gereja dalam menjawab tantangan berbangsa dan bernegara didasarkan pada refleksi firman: 1) Selalu ada harapan, tersedia berkat-Nya dan undangan untuk semua berpartisipasi (2 Petrus 1:1-11). 2) Gereja dipanggil untuk menjadi pelayan-pelayan perdamaian, yang menyampaikan berita perdamaian dan mewujudkan sikap hidup dengan etika perdamaian (2 Korintus 5:18-19).
Materi PD (24-29 Februari 2020)
Gusti, ingkang kawula purugi sinten?
1. WEKDAL ENING
2. KIDUNG PAMUJI
KPK 18:1, 2 SIH KAMIRAHANIPUN ALLAH
3. PANDONGA
4. KIDUNG PAMUJI
KPK 261:1-3 TINEBUS BABAR PISAN
5. PAMAOSING KITAB SUCI:
YOKANAN 6: 66-71
6. WEDHARING SABDA
Gusti, ingkang kawula purugi sinten?
Gusti, ingkang kawula purugi sinten? Pitakènan punika dipun aturaken déning Pétrus dhumateng Gusti sasampunipun Gusti ndangu, “Apa kowé ora padha arep lunga uga? Pandangonipun Gusti Yésus punika kadhasaraken bilih kathah para sakabatipun Gusti mundur lan mboten ndhèrèkaken Gusti malih (Yok.6:66). Injil Yokanan nyariosaken kénging punapa kathah saking para sakabatipun Gusti Yésus sami mundur karana sami mboten saged nampi pangandikanipun Gusti Yésus ingkang dipun anggep keras (Yok. 6: 61). Ing tengahing kawontenan kathah ingkang sami nilaraken Gusti Yésus, Pétrus mboten tumut mundur. Piyambakipun tetep setya dhateng sedyanipun inggih punika ndhèrèk Gusti Yésus.
Kuduslah, Sebab Aku Kudus
Matius 17:1-9
Salah satu dari sekian banyak panggilan hidup beriman adalah berkaitan dengan kekudusan. Meski demikian. Di satu sisi, kekudusan acap menjadi standar yang ditetapkan bagi manusia yang berelasi dengan Tuhan. Namun, di sisi lain, kekudusan dipandang sebagai sebuah kemustahilan di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia. Undangan Yesus bagi tiga orang murid untuk menjadi saksi peristiwa transfigurasi memberikan pemahaman baru mengenai kekudusan, yang memengaruhi cara manusia berelasi dengan Tuhan, termasuk di dalam hidup beriman beserta dengan segala macam hal yang menyertainya. Oleh karena itu, perlu ada pemaknaan ulang akan kekudusan di dalam upaya untuk memahaminya sebagai cara
Tuhan untuk menyapa manusia. Kekudusan perlu dipahami dalam kerangka anugerah Tuhan kepada manusia. Selanjutnya, orang yang menerimanya diajak untuk mewujudkannya dalam kehidupan bersama dengan sesama.












