Home » Bahan PA » Bahan Dasar PA 1-6 Okt 2018

Bahan Dasar PA 1-6 Okt 2018

KELUARGA PEMBERI HARAPAN

 

SATU REALITAS SITUASI KELUARGA MASA KINI

Di bulan pertama tahun 2018 kita disuguhi berita yang mengejutkan! Baru saja tahun baru berlalu, tetapi ternyata sudah ada beberapa orang yang bunuh diri. Kasus bunuh diri terus bergulir sampai beberapa waktu yang lalu. Dari berita-berita tersebut, penyebab bunuh diri adalah adanya masalah keluarga (terkait relasi maupun ekonomi), beban pekerjaan yang berat[1], penyakit yang tidak kunjung sembuh, tidak tahan di-bully (dirundung) orang[2], hubungan asmara yang tidak direstui orangtua, dan lain-lain.[3]

Yang menarik di antara kasus bunuh diri tersebut adalah bahwa mereka tidak sendirian bunuh diri tetapi juga membunuh anggota keluarganya terlebih dahulu. Salah satu berita menyebutkan, ada seorang ibu yang meminumkan racun serangga kepada ketiga anaknya hingga mati, baru kemudian ia melakukannya untuk dirinya sendiri. Malang, ketiga anaknya mati. Tetapi dia bisa dibawa ke rumah sakit dan selamat. Pertanyaannya, mengapa mereka juga menghendaki kematian anggota keluarganya? Apakah orang tersebut tidak bisa memercayakan anggota keluarganya kepada keluarga besarnya? Adakah peran dan fungsi keluarga yang sudah mulai menipis bahkan hilang? Dari semuanya itu, kita menyadari bahwa ada persoalan kesehatan mental yang genting yang perlu segera ditangani.

KESEHATAN MENTAL DAN REVITALISASI KELUARGA KRISTEN

Kesehatan mental adalah kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan dengan masyarakat sekitarnya, sehingga hal itu membawanya kepada kehidupan yang penuh vitalitas dan terhindar dari goncangan, stress dan depresi.[4] Orang yang sehat mentalnya dapat menerima diri apa adanya dan dapat menjalani kehidupan yang serasi dengan masyarakat sekitarnya. Dia tidak akan melakukan hal-hal yang tidak wajar. Sikap yang demikian menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki stabilitas jiwa, emosi dan pikiran yang sehat di segala tempat dan keadaan.

Namun sayang bahwa akhir-akhir ini banyak orang mengalami persoalan kesehatan mental. Persoalan kesehatan mental tersebut tidak terlepas dari situasi kehidupan masyarakat kita yang sudah semakin modern. Pengaruh majalah, radio, televisi (dengan sinetron dan iklan-iklan yang ditayangkannya), dan penggunaan gawai/gadget, tanpa kita sadari, telah merasuki hidup manusia. Manusia seakan “dituntut“  memiliki standart hidup yang tinggi dan kemewahan materiil. Persoalannya, ketika keinginan dan usaha untuk mendapatkan kemewahan, kedudukan sosial dan kekuasaan tidak tercapai, maka akan memunculkan rasa malu, bingung, cemas, takut dan rendah diri. Semua itu akan menjurus pada kekecewaan yang terus menumpuk yang berujung pada rasa frustasi bahkan gangguan batin yang beranekaragam, seperti stress dan depresi.

Tidak hanya itu saja, kehidupan manusia sekarang ini juga diwarnai dengan nafsu memburu keuntungan komersial, popularitas, yang sangat individualistis dan mengandung unsur-unsur eksplosif. Akibatnya, manusia menderita ketegangan urat syaraf dan tekanan-tekanan batin, secara khusus ketika mereka tidak bisa memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup dan keinginannya. Tanpa kita sadari, modernitas telah memunculkan bentuk kebudayaan baru yang disebut sebagai kebudayaan eksplosif. Yaitu suatu ”high tension culture” (kebudayaan bertegangan tinggi) yang sangat melelahkan jiwa-raga penduduknya, yang bisa menyebabkan munculnya gangguan-gangguan psikis.[5]

Sebuah survei yang dilakukan kepada hampir 1.500 remaja dan dewasa muda, oleh Survei#StatusOfMind (publikasi oleh Royal Society for Public Health Inggris), ditemukan bahwa Instagram adalah media sosial terburuk bagi kesehatan mental dan kesejahteraan. Urutan berikutnya adalah Snapchat, Facebook, Twitter, dan You Tube.[6]

Media-media sosial tersebut telah menyebabkan meningkatnya kecemasan, depresi, bullying, dan Fear of Missing Out (FOMO). FOMO adalah ketakutan bahwa orang lain sedang mengalami kejadian menyenangkan, di mana ia tidak merasa terlibat. Bahkan studi sebelumnya telah menemukan bahwa anak muda yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari di situs media sosial, lebih cenderung mengalami tekanan psikologis.

Tekanan psikologis tersebut terjadi karena anak muda tersebut melihat teman-temannya yang terus-menerus berlibur atau menikmati malam luar biasa, yang foto-fotonya terus di-upload, sementara di sisi lain ia merasa tidak bisa menikmati yang sama. Perasaan seperti ini juga bisa meningkatkan sikap membandingkan, putus asa, menetapkan harapan yang tidak realistis, dan menciptakan perasaan tidak mampu serta rendah diri.

Psikolog anak yang juga praktisi terapi “Bach Flower Remedies” bernama Alva Paramitha mengatakan bahwa tayangan tersebut berdampak negatif pada anak.  Mengapa? Karena tayangan-tayangan tersebut penuh gimmick (kepura-puraan atau sesuatu yang dianggap serius padahal sebetulnya hanya sekadar candaan), drama berlebihan, dan candaan yang kelewatan yang bisa berpengaruh pada sifat dan kesehatan mental anak. Tayangan apa pun yang mempertontonkan sikap hidup, gaya hidup yang dibuat-buat, atau terlalu alay pasti akan memberikan pengaruh cara berpikir bagi orang yang menonton. Selain itu, tayangan semacam itu diakui dapat merusak otak anak.[7]

Di Tengah situasi semacam itu, banyak keluarga rupanya belum bisa memberi harapan bagi anggotanya untuk menjadi tempat melepaskan segala kepenatan mental tersebut. Dengan kata lain, fungsi keluarga belum bisa dipenuhi dengan baik. Yaitu fungsi sebagai yang memelihara, merawat dan melindungi anak dalam kehidupan fisik, psikis, sosial maupun spiritualnya, sehingga mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial. Selain itu, keluarga juga berfungsi menstabilkan ekonomi keluarganya agar bisa sejahtera.

Namun, alih-alih orangtua melakukan fungsi tersebut, orang-tua-orangtua masa kini pun menghadapi persoalan yang sama dengan anak-anak mereka terkait dengan media sosial. Bahkan para oranagtua seringkali mengalami beban tuntunan yang lebih karena pekerjaan dan tanggung jawab mereka di tengah keluarga. Hal ini disebabkan karena yang mengalami persoalan-persoalan kesehatan mental tersebut tidak hanya anak-anak tetapi juga orangtua. Selain stress dari pekerjaan dan pengaturan kehidupan keluarga, para orangtua yang aktif di media sosial juga mengalami stress yang serupa dengan yang dialami anak-anak mereka. Dalam situasi yang semacam ini setiap orang dalam keluarga (orangtua maupun anak) diharapkan tidak boleh terlalu saling menuntut. Semua diajak untuk bisa saling memberi harapan bagi kehidupan yang baik. Masing-masing menyadari bahwa fungsi keluarga itu bisa terwujud lewat kerja bersama antara orangtua dan anak.

Di tengah situasi semacam itu, kita dipanggil untuk menata ulang, membenahi dan merevitalisasi kehidupan keluarga kita. Bulan Keluarga menjadi bulan yang baik untuk secara intensif melakukan upaya tersebut, meski sesungguhnya upaya tersebut seharusnya dilakukan terus menerus, hari lepas hari.

Di Bulan keluarga ini kita diajak untuk menggumuli tema “KELUARGA PEMBERI HARAPAN”. Yaitu pengharapan di tengah situasi zaman saat ini, yang diwarnai pementingan diri sendiri dan sikap hidup individualis. Sebuah zaman yang membutuhkan pengharapan. Yaitu pengharapan untuk dimaafkan, diterima apa adanya, dimengerti dan dikasihi. Keluarga-keluarga Kristen diajak untuk saling memberi harapan, baik kepada setiap anggota keluarganya, kepada keluarga besarnya, kepada gereja maupun kepada masyarakat secara lebih luas

[1]https://news.okezone.com/read/2018/01/11/338/1843562/ini-deretan-peristiwa-bunuh-diri-di-awal-2018, diakses 5 April 2018.

[2] http://kupang.tribunnews.com/2018/02/01/tak-tahan-di-bully-gadis-can tik-ini-mengakhiri-hidupnya (diakses pada tanggal 18 April 2018).

[3] http://kupang.tribunnews.com/tag/bunuh-diri (diakses pada tanggal 18 April 2018).

[4] Musthafa Fahmi, Kesehatan Mental dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, Jilid 1, alih bahasa, Zakiah Daradjat, Jakarta: Bulan Bintang, 1977, hlm. 20-22.

[5] https://makalah-ibnu.blogspot.co.id/2011/05/kesehatan-mental.html#axzz5Bkir XXra. (diakses pada tanggal 18 April 2018).

[6] https://www.liputan6.com/global/read/2986744/survei-instagram-adalah-medsos-terburuk-untuk-kesehatan-mental (diakses pada tanggal 18 April 2018).

[7] https://www.liputan6.com/health/read/3371932/dikritik-deddy-corbuzier-tayang an-alay-pengaruhi-kesehatan-mental-dan-otak-anak (diakses pada tanggal 18 April 2018).

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN