Home » Renungan » Berita yang Menarik untuk Semua

Berita yang Menarik untuk Semua

1 Korintus 1 – 9; Yohanes 1:29-42

Ada dua kecenderungan mengenai bagaimana seseorang menyikapi sebuah berita yang menarik. Kecenderungan pertama, seseorang akan menerima berita tersebut dan memilih menikmatinya untuk diri sendiri. Ia tidak terpanggil untuk meneruskan berita tersebut sebagai bagian yang juga dapat dinikmati oleh orang lain. Kecenderungan kedua, seseorang menerima berita tersebut, menikmati untuk diri sendiri, kemudian tergerak untuk menyampaikan berita tersebut agar orang lain juga merasakan kenikmatan/berkat yang sama dengan apa yg dia rasakan.

Kasih karunia Tuhan merupakan berita menarik yang setiap hari kita rasakan. Setiap orang yang menerima kasih karunia Tuhan, sudah semestinya mewartakan berita baik tersebut pada sesama sebagai sebuah cara menghayati dan mensyukuri kasih karunia Tuhan. Dalam tema perayaan iman minggu ini, umat dipanggil untuk mengarahkan hati ke dalam sprititualitas meneruskan kabar sukacita tersebut.

Isi ucapan syukur Paulus di surat 1 Korintus adalah “kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada kamu dalam Kristus Yesus” (ay. 4). Apa yang dimaksud dengan “kasih karunia” (charis) di sini? Dalam teologi Paulus, kata charis bisa memiliki beragam arti: keselamatan (Rm. 3:24; Ef. 2:8-9), panggilan (Rm. 1:5) maupun pemberian tertentu (2 Kor. 8:1, 4). Dalam 1 Korintus 1:4, kata caris tampaknya merujuk pada pemberian/ karunia rohani. Arti ini didukung oleh konteks, khususnya ayat 5yang menyebutkan karunia berkata-kata dan pengetahuan (bdk. 1 Kor. 12:8-10). Dari sini terlihat bahwa karunia-karunia rohani (charisma/charismata) merupakan salah satu bentuk kasih karunia (caris) Allah. Hubungan seperti ini terlihat jelas dari Roma 12:6a “demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita”.

Sebagai salah satu bentuk kasih karunia, karunia rohani merupakan pemberian Allah kepada mereka yang tidak layak menerima dan tidak mengupayakan hal itu.

Jika mereka layak, maka hal itu bukan kasih karunia melainkan “hak”. Jika mereka mengupayakan, maka hal itu bukan kasih karunia melainkan “upah” (bdk. Rm. 4:4-5). Penyebutan “karunia rohani” sebagai “kasih karunia” memiliki maksud tertentu. Penyebutan ini dimaksudkan sebagai teguran halus kepada jemaat Korintus yang memegahkan diri atas karunia rohani yang mereka miliki (ps. 12-14). Jika mereka menyadari bahwa semua itu adalah kasih karunia, maka mereka tidak akan menyombongkan hal itu (bdk. 4:7 “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”). Secara garis besar bacaan ini mengajak kita untuk mensyukuri kasih karunia dengan cara membagikannya pada semua orang yang juga layak menerima kasih karunia.

Istilah anak domba Allah melekat pada maksud dan tujuan penebusan atau penghapusan dosa (bdk. Kel 29:38-42, Bil 28:4). Penghapusan (NIV=takes away) diartikan sebagai yang membawa, memikul, dan mengangkut. Bisa dipahami dengan cara memikul hukuman dosa di kayu salib. Penghapusan dosa tersebut ditujukan untuk dunia (Yunani: Kosmos), yang dalam teks-teks perjanjian baru memiliki bermacam-macam makna antara lain: seluruh alam semesta (Kis 17:24), bumi (Yoh 13:1), hal-hal duniawi (Yak 4:4, 1 Yoh 2:15), seluruh umat manusia (Rom 3:19), semua orang yang tidak percaya (Yoh 15:18), semua orang non-Yahudi (Rom 11:12), dan semua orang percaya (2 Kor 5:19).

Yang menarik di sini adalah Yohanes menggunakan kata ‘dunia’ di sini untuk menentang pandangan Yahudi yang mengatakan bahwa hanya orang Yahudilah yang bisa diampuni, diselamatkan dan masuk surga. Keselamatan untuk semua orang, kasih karunia Tuhan untuk kita semua.

Dalam minggu baptisan Yesus yang lalu, umat diajak meyakini bahwa Roh Allah dinyatakan kepada siapa saja dan kemudian dipanggil untuk mampu mewujudkan kehidupan yang adil. Roh yang demikian juga dihayati oleh para murid Yesus dalam bacaan Injil kita saat ini (Yohanes 1:29-42). “Kosmos” yang adalah seluruh bagian dari dunia ini juga berhak mendapatkan kasih karunia Tuhan. Ide ini dikuatkan oleh bacaan 1 (Yesaya 49:1-7) yang merupakan kesaksian Yesaya akan panggilan kenabiannya yang tidak terbatas pada suku-suku Israel, tapi seluruh dunia (ay 6) agar semua diselamatkan. Selain itu bacaan II (1 Korintus 1:1-9) mengajak kita untuk mensyukuri kasih karunia dan membagikannya pada orang lain. Inti pewartaan dari ketiga bacaan tersebut adalah bagaimana segala pengalaman indah (berita, panggilan, kesaksian, dll) adalah sesuatu yang perlu kita syukuri. Cara mensyukurinya adalah dengan membagikannya pada orang lain.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *