Home » Renungan » DamaiMu, Jembatan Dunia!

DamaiMu, Jembatan Dunia!

Lukas 19 : 28 – 40

Konflik identitas selalu marak dalam sepanjang nafas hidup manusia. Setiap manusia membawa begitu banyak identitas, seperti laki-perempuan, kaya-miskin, kristen-nonkristen, tua-muda, janda-duda, menikah-single, suku A-suku B, dan sebagainya. Identitas itu ada yang melekat dari lahir dan ada yang melekat karena pilihan. Identitas suku dan jenis kelamin adalah identitas yang terbawa karena kelahiran. Namun kaya-miskin, agama A atau B, janda-duda, dan sebagainya adalah identitas yang lebih mudah berubah.

Dalam sejarahnya, seringkali identitas-identitas ini membawa kehancuran kehidupan bersama di muka bumi. Adalah kenyataan jika pengelompokan/pengutuban identitas ini akan membawa ketegangan-ketegangan yang menyedihkan bagi kehidupan manusia. Jurang yang lebar dan menganga lahir karena pandangan sempit tentang identitasnya sendiri dan memandang identitas lainnya adalah musuhnya.

(Sebagai catatan, hari ini gereja merayakan sekaligus Minggu Sengsara dan Minggu Palmarum adalah juga dua identitas bagi minggu Pra Paska VI. Minggu sengsara adalah kisah di mana Yesus berada di hadapan Pontius Pilatus yang menjatuhinya vonis mati. Minggu Sengsara bernuansa gelap dan mengerikan. Sedangkan Minggu Palmarum adalah minggu sukacita. Yesus dielu-elukan di Yerusalem. Disambut sebagai sosok Raja bagi kegalauan bangsa Israel. Keduanya sering dipertentangkan, alih-alih didamaikan.)

Pada Minggu Pra Paska VI ini kita diminta untuk meneladan Yesus. Dia hadir menjadi pendamai. Pendamai itu berarti bersedia menjembatani dua kutub. Dalam tradisi minggu Palmarum, Yesus hadir sebagai Raja yang memberi pengharapan pada dunia. Dia hadir dalam sukacita besar karena pengharapan yang meluap. Sekaligus pada saat penjatuhan vonis, minggu Sengsara, Ia menggenapi pendamaian Allah bagi dunia melalui kesiapannya menderita. Dalam suka maupun duka, Yesus hadir sebagai jembatan manusia dengan Allah. Manusia yang berdosa ditolong-Nya menuju Allah yang suci, kudus, dan mulia. Ia tidak membawa perpecahan. Ia selalu menghadirkan pendamaian. Ia bersedia menjadi Raja Yang Sengsara. Ia bersedia menjadi Jembatan Agung. Jembatan itu selalu bersedia menderita dan dihina, bukan? Jembatan selalu diinjak, bukan? Jembatan bersedia menerima beban yang melewatinya, bukan? Karena kesediaan-Nya menjadi jembatan, maka pendamaian Allah dapat dinyatakan.

Untuk memperdalam pemahaman kita terhadap Lukas 19, marilah kita tengok perikop-perikop sebelumnya. Kita bisa melihat gap antara kebahagiaan dan kehancuran. Tengoklah penderitaan bangsa Israel! Mereka berada dalam penjajahan yang membuat penderitaan itu semakin menjadi-jadi. Bangsa yang terjajah itu dipenuhi dengan orang yang hancur hati dan hancur raga. Sakit-penyakit di mana-mana dan setan-setan berkuasa (seperti kisah kerasukan setan). Kehadiran Yesus dalam kehidupan Israel adalah seperti air yang melegakan dahaga. Ia ‘blusukan’ untuk mengantar yang sakit menuju kesembuhan, yang kerasukan menuju pemulihan, yang berdosa menuju kekudusan.

Yesus masuk ke kota ‘hancur’ Yerusalem dengan jiwa damai dan semangat pendamaian. Mengapa? Karena Yerusalem terkenal sebagai kota biadab, tempat banyak nabi Tuhan dibantai. Ia masuk dengan semangat membawa kerajaan Allah, bukan duniawi. ‘Diberkatilah Ia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, Damai Sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang Maha Tinggi!’ Seruan ini jelas menunjukkan Yesus adalah pendamai.

Sosok Nabi Agung yang datang dari Allah dan Imam Agung yang membawa suara dunia yang berdosa. Jembatan, bukan?

Ia tahu dengan pasti. Meski Ia masuk kota itu dengan damai, tetapi ada dua kubu yang siap menyambutnya. Kubu yang penuh sukacita dari pengikut dan murid-Nya, juga kubu orang Farisi yang galau dan siap mengajak khalayak berteriak ‘salibkan Dia’. Orang Farisi dan pengikutnya sudah bersiap memberikan perlawanan sebelum Yesus masuk Yerusalem (Luk. 19:14).

Meski dilarang, Yesus tetap kukuh menjalani panggilan-Nya. Ia tetap menyuarakan damai. Ia tetap meminta murid-murid-Nya menyerukan diri-Nya sebagai pendamaian Allah. Ia berujar, biarlah Aku dan murid-Ku dibungkam, tetapi suara perdamaian itu akan diperdengarkan oleh batu-batu (bdk. Hab. 2:11). Ia tetap setia menjadi Hamba Yang Menderita menggenapi nubuatan Nabi Yesaya. Dengan menyatu dalam penderitaan dunia karena dosa, Ia bersedia menjembatani hubungan Allah dan manusia yang terputus karena dosa.

Menjadi jembatan damai diperlihatkan Yesus saat Ia memasuki Yerusalem. Di kota itu, yang terkenal biadab karena banyak nabi Tuhan dibantai, penderitaan seakan membuka tangan siap menyambut-Nya. Yesus memasuki kota itu dengan keledai menandakan diri-Nya adalah Raja yang lemah lembut dan penuh damai. Amin

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN