Home » Bahan PA » Materi PA (13-18 Januari 2020)

Materi PA (13-18 Januari 2020)

MENJADI BIJAK
[Yohanes 8:2-11]

PENGANTAR
Dalam menjalani kebersamaan di tengah keluarga, gereja, maupun masyarakat, sering kali kita menghadapi perbedaan pendapat atau pandangan, yang dapat berujung pada konflik. Kalau pun tidak menimbulkan konflik, perbedaan tersebut terkadang menimbulkan rasa tidak nyaman satu dengan yang lain. Kehadiran kita selaku orang yang dituakan menjadi harapan banyak pihak, untuk dapat memulihkan suasana yang kurang nyaman tersebut.

“Kehadiran Yang Memulihkan” itu menjadi harapan orang-orang yang ada di sekitar kita. Selain itu, ada pemahaman yang sudah melekat pada kebanyakan orang adalah bahwa Lansia atau Adiyuswo Gereja itu memiliki segudang pengetahuan dan pengalaman hidup, sehingga menjadi figur yang bijaksana, yang selalu membawa damai dan kesejukan.

Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah bagaimana kita bisa mewujudkan harapan mereka itu? Hal inilah yang perlu kita diskusikan bersama melalui PA kali ini.

PENJELASAN TEKS
Dalam Yohanes 8:1-11, dikisahkan bahwa pada saat Tuhan Yesus sedang mengajar orang banyak di Bait Allah, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi datang membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan tersebut di tengah-tengah, lalu mereka bertanya kepada Tuhan Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapatmu tentang ini?” (ay. 4-5).

Tentu Orang Farisi dan ahli Taurat bertanya kepada Yesus bukan karena mereka tidak paham akan hukum Taurat. Sebab mereka adalah para penjaga hukum Taurat. Merekalah yang dipercaya untuk menentukan seseorang melanggar hukum Taurat atau tidak. Mereka sengaja melakukan semua itu dengan tujuan untuk menjebak Tuhan Yesus. Supaya mereka dapat mempunyai alasan yang kuat untuk menyalahkan dan bahkan menjerat Yesus dengan hukum yang berlaku saat itu (ay. 6).

Sebagai pakar hukum Taurat mereka tentunya sangat menguasai seluk beluk hukum Taurat dan celah-celah dari hukum Taurat tersebut. Sebenarnya masalah yang mereka ajukan kepada Tuhan Yesus tidak hanya sekadar apakah perempuan tersebut dianggap bersalah dan patut dihukum atau tidak. Tapi di balik semua itu sebenarnya ada kondisi yang lebih pelik lagi. Kalau kita melihat situasi dan kondisi konteks hukum pada masa itu, bangsa Israel masih dalam jajahan Roma. Akibatnya, di tanah Israel berlaku hukum ganda. Di satu sisi, sebagai pemeluk agama Yahudi, mereka harus tunduk pada hukum Taurat. Di sisi yang lain, sebagai bangsa jajahan, mereka juga harus tunduk pada hukum Romawi yang menjajah mereka.

Dalam hukum Taurat perempuan yang kedapatan berzinah harus dihukum dengan cara dirajam atau dilempari dengan batu. Namun pemerintahan Romawi yang berkuasa saat itu melarang keras hukum rajam diberlakukan, karena dianggap hukum itu tidak manusiawi. Di sinilah jebakan yang dibuat oleh para penjaga hukum Taurat itu. Kalau Tuhan Yesus menjawab bahwa perempuan itu layak untuk dilempari batu, mereka sudah siap untuk menangkap Tuhan Yesus dan mengajukan kepada otoritas pemerintahan Romawi dengan tuduhan bahwa Tuhan Yesus telah membangkang dengan melanggar hukum yang diberlakukan oleh Pemerintahan Romawi. Namun jika Tuhan Yesus tidak menghukum perempuan tersebut maka para penjaga hukum Taurat tersebut sudah memiliki cukup bukti untuk menyeret Tuhan Yesus dengan hukuman yang terberat. Di sinilah letak buah simalakama yang harus dipilih Tuhan Yesus.

Apa yang dilakukan Yesus? Tuhan Yesus membungkuk dan menulis di tanah dengan jari-Nya. Ia tidak gegabah dalam memberi jawab. Ia sangat berhati-hati dalam merespon cecaran pertanyaan ahli Taurat dan orang Farisi tersebut. Tuhan Yesus tidak terpancing dengan desakan dan cecaran pertanyaan yang dapat membangkitkan emosi tersebut. Ia bangkit berdiri dan berkata : “Barangsiapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (ay. 7). Lalu Tuhan Yesus kembali membungkuk menulis di tanah dengan jariNya.

Tampaklah kebijaksanaan Tuhan Yesus yang sangat luar biasa. Ia mengajak orang-orang yang ada pada saat itu untuk melakukan transformasi paradigma dalam melihat hukum. Tuhan Yesus tidak mau dijebak dengan cara pandang normatif (kaidah hukum), yang hanya melihat hukum dari apa yang tertulis. Ia mengajak melihat hukum dengan cara pandang yang dijiwai dengan kesadaran moral/etis (kaidah moral), yang berkaitan dengan alasan, motivasi, solusi, rasa kemanusiaan.

Mendengar apa yang dikatakan Tuhan Yesus tersebut, satu persatu dari mereka meninggalkan tempat itu hingga tinggal Tuhan Yesus dan perempuan itu. Lalu Tuhan Yesus berkata : “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Permpuan itu menjawab: “Tidak ada Tuhan.” Lalu Tuhan Yesus kembali berkata: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ay. 10-11).

Komunikasi yang Tuhan Yesus bangun dengan perempuan berdosa tersebut sebenarnya tidak hanya bersifat informatoris, yang bertujuan untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Ini merupakan sebuah percakapan pastoral yang dibangun untuk menempatkan perempuan berdosa itu sebagai sesama yang setara (sesama yang pernah dan bisa berbuat dosa). Ini bukan berarti Tuhan Yesus melegalkan perzinahan. Atau melihat berzinah tidak berdosa dan tidak perlu dihukum. Tuhan Yesus melakukan dialog untuk membangun kesadaran perempuan itu akan dosa yang telah dilakukannya dan membawanya menuju pertobatan. Tuhan Yesus ingin menyadarkan semua orang bahwa hukum agama yang berlaku saat itu bukanlah semata-mata menjadi dasar untuk menjatuhkan sangsi atau hukuman bagi orang yang melanggarnya. Hukum adalah alat untuk menyadarkan orang yang melakukan perbuatan dosa, sehingga mereka melakukan pertobatan.

PERTANYAAN DISKUSI
1. Belajar dari firman Tuhan yang kita pergumulkan di atas, bagikan pengalaman saudara dalam membawa pemulihan yang selama ini saudara alami!
2. Carilah contoh kasus yang pernah atau mungkin sedang dihadapi di dalam kebersamaan di gereja dan diskusikan bagaimana langkah-langkah bijak yang dapat kita ambil untuk membawa damai dan kesejukan di tengah kebersamaan kita!

Bagikan :



2 Komentar

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga

Renungan Harian Online : Setiap hari jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Pemuda : Setiap hari Sabtu jam 19.00 WIB live di Instagram Kompa GKJ Wonosari

Persekutuan Remaja : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Juli 2020 >> DILIBURKAN