Home » Bahan PA » Materi PD Masa Pentakosta (8-13 Juli 2019)

Materi PD Masa Pentakosta (8-13 Juli 2019)

Menemukan Makna Hidup di Tengah Arus Modernisasi

1. SAAT TEDUH

2. MENYANYIKAN KJ. 240A : 1-2

3. DOA

4. MENYANYIKAN KJ. 240A : 3

5. PEMBACAAN ALKITAB:
    Roma 15: 1-13

6. RENUNGAN

Menemukan Makna Hidup di Tengah Arus Modernisasi

Era modernisasi dan globalisasi menjadi tantangan bagi manusia Indonesia. Salah satu tantangan tersebut yaitu dampaknya terhadap Perubahan perilaku. Di balik modernisasi dan globalisasi terdapat kepentingan kapitalisme yang menyebabkan faham Kapitalisme global menjadi panutan peradaban umat manusia. Kapitalisme mendorong manusia berperilaku dalam arogansi ekonomi, yang kemudian melahirkan perilaku yang hanya memandang manusia sebatas sebagai alat ekonomi (homo economicus). Homo economicus artinya manusia hanya termotivasi mengejar keuntungan untuk memuaskan kebutuhan biologis dan psikologis. Tata nilai ini kemudian menjadi kepentingan dasar globalisasi, yaitu penyerapan keuntungan sebesar-besarnya melalui pertarungan pasar dunia.

Indonesia sudah masuk dalam arena globalisasi. Indonesia merupakan pasar sekaligus penyedia bahan mentah untuk mendatangkan keuntungan bagi perusahaan transnasional. Untuk memenangkan pertarungan, Kapitalisme global bergerak melalui tiga bidang yaitu dominasi politik, eksploitasi ekonomi dan infiltrasi bidang kebudayaan. Khusus di bidang kebudayaan, Kapitalisme Global menggunakan sosialisasi nilai-nilai hidup, yang diharapkan mampu merubah perilaku hidup manusia Indonesia.

Salah satu dampak negatif dari proses modernisasi adalah bahwa manusia dibentuk hanya sebagai manusia individual, diorientasikan hidupnya hanya semata mendapatkan uang dan kekayaan. Eksistensi diri manusia diciptakan menjadi bagian dari mesin ekonomi untuk pertambahan kekayaan. Manusia menjadi robot-robot yang segala pola hidupnya diatur oleh kepentingan-kepentingan produksi dan pasar. Maka tidak heran, bila pola hidup masyarakat di kota-kota besar di tentukan oleh kesibukan kerja. Manusia kehilangan orientasi atas kebutuhan terhadap hakikat kemanusiaannya.

Manusia semakin kehilangan orientasi sosialnya, yaitu hilangnya kepedulian terhadap kehidupan orang lain, dan hilangnya semangat gotong royong. Pada sisi yang lain, manusia menjadi semakin konformis dan konsumtif. Hidup manusia dipenuhi hasrat untuk mengidentifikasikan pada apa yang sedang trend. Manusia menjadi kehilangan harga diri dan kepercayaan diri bila tidak mampu mengikuti gaya hidup yang diciptakan pasar. Manusia cemas bila dirinya dikatakan tidak modern atau tidak mengikuti perkembangan zaman. Sikap konformis berakibat pada hilangnya identitas diri, dan menghilangkan kebutuhan sosialnya. Kecendrungan ini yang mendorong manusia melakukan kejahatan, seperti perilaku korupsi yang hanya untuk meningkatkan gaya hidup.

Meraih kehidupan yang bermakna merupakan salah satu harapan hidup bagi manusia. Makna hidup menentukan tujuan dari setiap tindakan manusia. Dalam perspektif masyarakat Jawa, hal ini disebut sebagai pencapaian kesadaran pada sangkan paraning dumadi, yaitu suatu ajaran yang mengajak manusia untuk memahami dari mana asal muasal manusia dan ke mana tujuan hidup manusia akan dicapai. Memang sering hidup manusia berjalan lain dari rencana dan cita-citanya, namun manusia menyadari hal itu, justru karena ia tahu siapakah dirinya dan ke mana sebetulnya arah tujuan hidupnya.

Hidup bermakna dapat dicapai bila manusia memiliki kebebasan untuk merealisasikan potensi kemanusiaannya. Setiap manusia mendambakan kebebasan, dalam suasana yang bebas, manusia dapat tumbuh, berkembang dan merealisasikan dirinya. Kebebasan tidak diartikan sebagai kebebasan mutlak (tidak terbatas) sebab eksistensi manusia dibatasi oleh kondisi-kondisi biologis, budaya, nilai-nilai dan hukum-hukum Tuhan, alam serta negara.

Kebebasan bermakna positif bagi manusia, apabila manusia bebas menentukan tujuan hidupnya, dan mampu mengaktualisasikan perasaan, pikiran, sikap serta nilai-nilai spiritualitas (nilai-nilai Ketuhanan) sebagai otoritas yang diyakini. Akhirnya, kebebasan dapat menjamin eksistensi manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Melalui bacaan Alkitab dari Roma 15:13 kita diingatkan bahwa semua itu bisa kita dapatkan dari kuasa Roh Kudus yang Tuhan berikan kepada kita. Ayat tersebut berbunyi, ”Semoga Allah sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan roh kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.”

Sebagai makhluk sosial, manusia mengalami kehidupan bersama dengan orang lain. Kehidupan bermakna muncul di saat manusia mengalami kebersamaan dengan sesamanya. Menemui sesamanya dengan suatu penerimaan terhadap segenap keunikan dan ketunggalannya dari sesamanya berarti mencintai. Dengan dorongan untuk mencintai, makna hidup seseorang akan semakin kaya dengan pengalaman dan semakin punya arti dalam kehidupan orang lain. Makna hidup memampukan manusia mengembangkan perasaan cinta terhadap sesamanya, produktif serta kreatif dalam mengembangkan potensinya. Makna hidup merupakan bagian dari usaha manusia untuk membebaskan diri dari perilaku fanatisme, intoleran dan keserakahan. Kiranya Tuhan menolong kita untuk menemukan makna hidup tersebut. Amin.

7. MENYANYIAN KJ. 237: 1-3

8. DOA SYAFAAT DAN PENUTUP

[sbsa]

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN