Home » Renungan » Menjadi Pelaku Firman

Menjadi Pelaku Firman

(Lukas 10:25-37)

Isu yang sedang menjadi sorotan dunia saat ini adalah penggunaan plastik yang berlebihan sehingga menimbulkan sampah plastik yang berbahaya bagi bumi dan seluruh makhluk di dalamnya. Berbagai upaya dilakukan untuk menghimbau masyarakat agar mengurangi penggunaan plastik. Akan tetapi masih banyak orang yang merasa bahwa penggunaan plastik lebih dibutuhkan saat ini dibandingkan dengan keperluan menjaga bumi dari limbah plastik. Setiap orang selalu memiliki prioritas masing-masing, yang dianggap jauh lebih penting dan lebih genting dibandingkan perkara yang lain.

Persoalan prioritas ini yang menjadi sorotan dalam perumpamaan Orang Samaria yang murah hati. Keputusan imam dan Orang Lewi yang berlalu begitu saja didasarkan pada pertimbangan mengenai prioritas. Imam dan Orang Lewi memiliki tugas yang dianggap suci dan mulia yakni berhubungan dengan ritual ibadah serta mengatur Bait Suci. Untuk melayani di Bait Suci, mereka harus menjaga kekudusannya, termasuk menjauhkan diri dari kenajisan, seperti bersentuhan dengan jenazah misalnya. Keadaan korban yang dirampok sangat memprihatinkan dan setengah mati, maka jika imam dan Orang Lewi memutuskan untuk menolong, ada resiko mereka bersentuhan dengan orang mati sehingga tidak bisa melakukan pelayanan.

Imam dan Orang Lewi mengetahui bahwa mereka harus membantu korban tersebut, tetapi mereka memutuskan untuk tidak membantu. Menjalani ritual keagamaan di Bait Suci saat itu dianggap lebih penting dan lebih genting dibandingkan menolong seorang manusia yang setengah mati. Orang yang menjadi tokoh protagonis dan bersedia membantu adalah Orang Samaria yang dianggap lebih rendah, berdarah campuran, dan penyembah berhala. Perumpamaan ini sungguh ironi bagi pendengar saat itu karena seorang yang dianggap tidak memiliki pengetahuan agama justru mampu melakukan perintah Tuhan dibandingkan mereka yang pemuka agama.

Pengetahuan para pemuka agama dan orang Yahudi mengenai perintah Tuhan ditunjukkan oleh seorang ahli Taurat yang berdiskusi dengan Yesus. Ia menunjukkan pengetahuannya dengan menjelaskan bahwa intisari seluruh Hukum Taurat adalah perintah untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Tetapi kata sesama yang dipakai dalam Bahasa Yunani adalah kata plesion yang berarti tetangga. Ahli Taurat ingin menunjukkan kebenaran dalam pola pikirnya yang ekslusif yakni menunjukkan kasih hanya bagi mereka yang dekat. Hal ini tentu dipahami oleh Yesus sehingga Yesus menggunakan Orang Samaria sebagai perumpamaan untuk meluruskan pemahaman Orang Yahudi pada masa itu mengenai mengasihi sesama.

Kisah diskusi Tuhan Yesus dengan Ahli Taurat berkaitan dengan kasih yang dijelaskan dalam perumpamaan Orang Samaria mengajarkan kita dua hal. Pertama, Firman Tuhan dekat dan bisa dipahami oleh semua orang. Perintahnya sederhana saja, yakni mengasihi. Orang Samaria yang mungkin belum pernah mendengarkan perintah tersebut saja memahami bila yang terpenting adalah mengasihi. Ia berpikir secara sederhana. Sedangkan imam dan Orang Lewi memperumit perintah yang sebenarnya sederhana, mereka merasa bahwa mereka mengemban tugas pelayanan yang melibatkan banyak pihak sehingga mereka justru melupakan perintah yang paling dasar.

Kedua, kita diajak untuk berani menjadikan perintah mengasihi sebagai prioritas dan bersedia mengorbankan kepentingan yang lain, malah kalau perlu mengambil resiko. Imam dan Orang Lewi tidak mau mengorbankan dirinya dan pelayanannya, mereka tidak mau mengambil resiko. Lebih baik satu orang yang tidak dikenal meninggal daripada menunda pelayanan ritual keagamaan di Bait Suci. Berkhotbah, menyerahkan persembahan, melayani dalam ibadah, dan menjaga barang-barang yang harus dikuduskan lebih penting dari nyawa seorang manusia.

GKJ Wonosari adalah gereja yang merupakan bagian dari tubuh Kristus. Tugasnya jelas sebagai garam dan terang untuk menyatakan kasih Kristus di bumi ini. Dalam menyambut ulang tahun yang ke-88, masihkah kita setia dan sibuk menyatakan kasih Kristus? Atau jangan-jangan kita sibukkan dengan ritual keagamaan, program yang rumit, dan kesibukan pelayanan hingga kita lupa mengasihi? Selamat berefleksi dalam menyambut usia ke-88 sambil menengok karya kita sebagai tubuh Kristus. Selamat menyatakan kasih Kristus. Tuhan memberkati. Amin

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN