Home » Bahan PA » Materi Sarasehan Bulan Keluarga (4-9 November 2019)

Materi Sarasehan Bulan Keluarga (4-9 November 2019)

MENDISRUPSI DIRI
(Lukas 5 : 1 – 6)

Di sebuah foodcourt (pusat kuliner), sepasang suami istri dengan dua anak yang masih masih remaja dan pra remaja tampak berdiskusi memilih menu makanan. Mereka sedikit membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai berhasil memilih makanan sesuai dengan selera. Menariknya, saat pembayaran mereka masing-masing mengeluarkan handphone. Dengan fasilitas aplikasi di handphone mereka masing-masing membayar menu makanan. Mengapa tidak dibayar sekaligus, apa sebab? Ternyata, fasilitas aplikasi itu memberi mereka cashback (pengembalian uang) sebesar 20% dengan maksimal pembayaran jumlah tertentu. Itu sebabnya semua HP mereka kerahkan agar cashback maksimal mereka dapatkan. Kita menjadi mengerti bahwa mereka memilih makanan bukan sekadar semata-mata berdasarkan selera tetapi juga berdasarkan bonus cashback yang didapat.

Gambaran di atas menunjukkan kehidupan keluarga kekinian itu tengah mencoba berselancar di tengah arus perubahan. Perubahan inilah yang kerap disebut dengan istilah disrupsi. Dalam KBBI disrupsi dipahami sebagai hal yang tercabut dari akarnya. Secara sederhana, melanjutkan penjelasan dari KBBI, disrupsi bermakna perubahan yang mendasar atau bersifat fundamental. Pembayaran dengan aplikasi seperti cerita di atas adalah contohnya. Kemajuan teknologi telah membuat perubahan model pembayaran dari tunai yang harus membuka dompet menjadi non-tunai dengan membuka handphone.

Perubahan-perubahan akan terus terjadi dalam kehidupan kita. Dan pasti semakin pesat karena teknologi informasi memang terus berinovasi memberi banyak kemudahan dan kebaruan. Dengan perubahan yang ada, kehidupan di masa kini tampak menjadi lebih sederhana (simpler), lebih murah (cheaper), lebih cepat (faster), dan lebih mudah terjangkau (accessible). Kemampuan berselancar di atas arus perubahan hanya dapat dilakukan ketika kita mampu mendisrupsi diri.

TIDAK LAGI SAMA
Kehidupan yang telah mengalami disrupsi menyentuh semua bidang kehidupan. Sebagai keluarga kita perlu sadar bahwa kehidupan yang berubah itu turut memengaruhi anggota keluarga kita. Memang pada umumnya manusia – apalagi yang sudah semakin menua dan mapan – tidak menyukai perubahan, apalagi yang tidak dapat diprediksi. Akan tetapi, suka atau tidak suka, perubahan terus kita alami dengan sedemikian cepat.

Dalam arus perubahan itu, ada berbagai perangkap yang siap menjebak kita hingga tidak mampu menyambut perubahan dengan sikap yang proaktif. Jebakan-jebakan itu dapat menguasai siapa, termasuk keluarga dan juga gereja. Rhenad Kasali memberikan rangkuman enam jebakan yang kerap membuat kita tidak mampu menyongsong perubahan secara aktif. Enam jebakan itu adalah:

Jebakan pertama adalah paradigma kesuksesan masa lalu. Orang hanya menatap ke belakang melihat kisah kesuksesan masa lalu belaka, tanpa mencoba untuk melihat ke depan dan berjuang menghadapi masa depan. Jebakan kedua keengganan untuk meningkatkan kompetensi diri. Jebakan ketiga hanya comot-comot belaka, tidak melihat perubahan secara utuh. Jebakan keempat, terkait dengan biaya yang dikeluarkan namun tidak produktif. Jebakan kelima hanya menyalahkan pihak lain, termasuk keadaan yang tengah terjadi. Jebakan keenam ketidakmandirian dan ketidakpercayaan diri hingga selalu mencari konfirmasi pada pihak lain. Kesemua jebakan itu akan membuat kita terpuruk di tengah gelombang perubahan.

Dampak dari perubahan itu membawa kita pada era baru yang kerap disebut revolusi industri 4.0 yang menghadirkan kehidupan dengan kekuatan teknologi tinggi seperti robot cerdas, 3D Printer, dan sebagainya yang menggantikan posisi kerja manusia. Tak hanya soal kerja, bahkan teknologi menjadi empire (kekaisaran) yang menguasai manusia. Itu sebabnya perubahan karena teknologi menyentuh seluruh aspek hidup manusia, termasuk sosial. Inilah yang kemudian disebut dengan disrupted society. Ikatan-ikatan sosial tradisional, termasuk keluarga, terdisrupsi hingga kehilangan tujuan dan jantung kehidupan berkeluarga.

Salah satu yang kemudian hilang atau kurang diperhatikan adalah aspek kedalaman, termasuk kedalaman makna hidup berkeluarga. Serba instan dan keterasingan menjadi roh yang mengganggu relasi kehidupan. Tentu hal itu tidak membuat kita menghindari kemajuan zaman, sebab itu tidak mungkin dilakukan. Yang perlu kita lakukan adalah memanfaatkan dan mengelola perubahan demi kemajuan kehidupan bagi semua. Pola yang dilakukan keluarga dalam cerita di atas adalah contoh bagaimana mendisrupsi diri, hingga mampu menikmati dampak positif perubahan zaman.

BERTOLAKLAH

Tema Bulan Keluarga tahun 2019 ini mengajak kita belajar dari penggalan kisah Yesus menurut Lukas 5. Sabda Yesus “bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu” dipahami sebagai ajakan untuk tidak lari dari gelombang perubahan, namun justru masuk, belajar, dan mendapatkan manfaat dari gelombang perubahan itu.

Menariknya kisah ini diawali dengan persekutuan para nelayan yang “mendengarkan firman Allah” (ay. 1) dan diakhiri dengan panggilan untuk “menjala manusia” (ay. 10). Dengan demikian kita bisa saja menyatakan bahwa awal dari semua adalah “persekutuan.” Perubahan tidak pernah boleh menenggelamkan kehidupan persekutuan, khususnya di tengah keluarga. Kebersamaan keluarga di meja makan, saat teduh bersama, rekreasi, dan sebagainya perlu terus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Keluarga yang puasa gadget saat makan bersama adalah contoh bagaimana berfokus dalam persekutuan dapat dilakukan dengan cara yang sederhana.

Selanjutnya kita juga bisa mengatakan bahwa berselancar di arus gelombang perubahan bukanlah tujuan akhir. “Bertolak ke tempat yang dalam” (ay. 4) bukan sekadar demi mendapatkan ikan yang banyak. Dengan jelas dinyatakan bahwa tujuan akhir adalah menjadi penjala manusia. Penjala manusia bermakna menjadi pekabar Injil Kerajaan Allah. Injil Kerajaan Allah akan menghasilkan manusia yang menghargai kehidupan, kehidupan yang memanusiakan manusia.

Dalam terang pemahaman itu, menjadi jelas bahwa tujuan berselancar adalah memanfaatkan teknologi untuk memanusiakan manusia. Namun hal itu bukan kemudian menjadikan kemampuan berteknologi kita sekadarnya saja. Pemanfaatan teknologi dilakukan sedemikian rupa hingga kita menjadi expert atau ahli yang memiliki daya saing agar mampu menangkap “sejumlah besar ikan” (ay. 6). Kemampuan menjadi expert adalah anugerah Tuhan yang harus ditanggapi dengan kerja keras. Ketika Yesus meminta mereka untuk menebarkan jala, mereka menyatakan –sesuai dengan keahlian mereka– bahwa tidak mungkin mendapat ikan sebab “sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa” (ay. 5). Namun, keahlian mereka kalah dengan anugerah Tuhan sehingga “mereka menangkap sejumlah ikan, sehingga jala mereka mulai koyak” (ay. 6).

Menjadi pembelajar yang menguasai teknologi menjadi kebutuhan penting, agar kita mampu menjadi kemajuan teknologi sebagai alat pemberitaan Injil Kerajaan Allah. keluarga perlu mendorong setiap anggotanya berkemampuan menguasai teknologi, bukan sekadar ikut arus belaka. Tentang hal tersebut, menarik kita perhatikan catatan dari Rhenald Kasali yang membagi pengguna teknologi dalam empat kategori yaitu:

Sebagai keluarga dan gereja, kita seringkali masih dalam kelompok Beginners (pemula), konservatif (menolak) atau sekadar fashion (gaya belaka). Itu sebabnya pekerjaan rumah buat keluarga dan gereja adalah bagaimana menjadikan diri sebagai digital masters, agar mampu memanfaatkan kemajuan teknologi bagi kehidupan bersama yang lebih baik.

SUGESTI PELAKSANAAN SARASEHAN
 Sarasehan bisa dilakukan dalam metode ceramah, dengan memanfaatkan bahan di atas. Adalah baik jika dilakukan penyesuaian dari bahan di atas agar lebih relevan dengan kebutuhan warga gereja.
 Diskusi dilakukan dalam kelompok keluarga, menjawab pertanyaan: apa yang dapat dilakukan oleh keluarga dalam menyikapi disrupsi yang tengah terjadi?
 Jawaban hasil diskusi dapat dibuat dalam bentuk bahasa slogan atau iklan (seperti kalimatnya pendek, mengena, lucu, dan sebagainya) yang kemudian dituliskan di media sosial milik salah satu anggota keluarga.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Latihan Macapat “SWARA LANGEN GITA” : Senin 18 November 2019 jam 16.00 WIB

Persekutuan Doa Pagi : Rabu 20 November 2019 jam 04.30 WIB

Dialog Teologis Seputar Kristologi bersama Dr. Bambang Noorsena, M.H : Sabtu 30 November 2019 jam 16.00 WIB di GKJ Wonosari

Jadwal PA Wilayah/Panthan  >> 11 – 16 November 2019 <<