Home » Bahan PA » Materi Sarasehan Masa Pentakosta (1-6 Juli 2019)

Materi Sarasehan Masa Pentakosta (1-6 Juli 2019)

Ketuhanan Yang Berkebudayaan

Manusia diciptakan Tuhan dengan kelengkapan fisik, pikiran, perasaan, kehendak dan religiusitas. Manusia menjadi makhluk yang sempurna. Alkitab menyebutkan bahwa manusia diciptakan segambar dengan Allah. Sebagai makhluk Tuhan, manusia diberi karunia dan kemampuan untuk menemukan, melindungi dan mengelola alam. Kodrat atas eksistensi ini memampukan manusia menciptakan kebudayaan. Kebudayaan adalah karya manusia, yang lahir karena kekuatan pikiran, rasa, kehendak dan religiusitas. Manusia menciptakan kebudayaan agar mampu bertahan hidup dengan cara beradaptasi, menemukan, memelihara, mengembangkan dan memanfaatkan ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, kebudayaan tidak hanya dipahami sebagai karya seni saja, tetapi kebudayaan adalah bagian dari seluruh aspek kehidupan manusia seperti ilmu pengetahuan, teknologi, sistem sosial, karya seni, bangunan (arsitektur), tata pemerintahan bahkan agama pun bagian dari kebudayaan.

Tanggal 1 Juni 1945, Soekarno dalam pidatonya di depan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) terkait dasar negara Indonesia Merdeka, menyebutkan 5 dasar negara Indonesia, yaitu Kebangsaan, Kemanusiaan (humanisme), Demokrasi (bermufakat), keadilan sosial, dan Berketuhanan Yang Maha Esa. Kelima gagasan ini digali dari realitas pengalaman dan perjuangan hidup bangsa Indonesia melalui refleksi pikiran (thinking), pancaindra (sensing), rasa (feeling) dan keyakinan (believing). Lima gagasan ini kemudian disebut dengan Pancasila. Dalam perkembangannya, Ketuhanan Yang Maha Esa ditetapkan sebagai dasar atau sila yang pertama.

Pancasila adalah sebuah karya kebudayaan yang digunakan sebagai dasar untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia adalah Negara-Bangsa. Artinya, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara yang diciptakan oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, negara Indonesia merdeka adalah negara milik dan digunakan untuk seluruh rakyat Indonesia, tanpa harus membedakan Suku, Agama, Ras dan Golongan.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menunjukkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang menyembah dan meyakini eksistensi Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pengatur manusia. Dalam kata lain, Tuhan diyakini ikut campur tangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keyakinan atas Tuhan ini menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragama. Agama mengajarkan adanya Tuhan dengan segala ajarannya yang ditulis dalam kitab suci. Ada berbagai macam agama yang diyakini oleh bangsa Indonesia, sehingga perbedaan keyakinan atas agama menjadi realitas-empiris dari pengalaman hidup berbangsa. Dengan demikian, negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini mesti membebaskan rakyat Indonesia untuk beribadah sesuai dengan keyakinan atau agamanya. Selain itu, adalah wajib bagi rakyat Indonesia untuk saling menghormati atas perbedaan ini.

Pertanyaan teologis yang kemudian muncul: “Nilai-nilai Ber-Ketuhanan yang seperti apa yang wajib di kembangkan di dalam konteks realitas Ke-Indonesiaan? Pancasila mengajarkan makna Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai keyakinan atas Tuhan yang berkebudayaan. Seperti yang di sampaikan Ki Hajar Dewantara: “Pancasila adalah puncak-puncak kebudayaan dari bangsa Indonesia.” Di dalam konsep filsafat Pancasila, sila-sila Pancasila adalah satu kesatuan yang utuh, dimana kelima sila merupakan kesatuan organik yang saling melengkapi satu dengan yang lain (satu tubuh). Seperti sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, diharapkan dapat menumbuhkan dan memperkuat nilai-nilai perikemanusiaan (humanisme), yang dalam terjemahan keseharian disebut sebagai Budi Nurani Manusia (social Conscience of Man). Budi nurani manusia ini kemudian membentuk budi pekerti yang menjadi kerangka acuan bangsa Indonesia untuk bersikap dan berperilaku toleran (tepa selira), mengasihi sesama dan rela berkorban untuk kepentingan bersama (kemanusiaan).

Kesadaran atas Budi Nurani Manusia (social Conscience of Man) tersebut kemudian mendorong lahirnya kesadaran untuk bersatu dan berjuang membangun kehidupan yang demokratis dan berkeadilan sosial. Bung Karno sering mengutip perkataan Mahatma Gandhi: My Nasionalisme is Humanity (Artinya: Nasionalismeku adalah perikemanusiaan/perihal kemanusiaan). Kesadaran atas nilai-nilai kemanusiaan tersebut melahirkan rasa kesamaan nasib atas ketertindasan dari sistem kapitalisme-imperalisme dan kolonialisme, yang selanjutnya berkembang membentuk identitas kebangsaan untuk menyatukan semua perbedaan. Oleh karena itu, paham kebangsaan Indonesia, tidak boleh dipahami sebagai paham kebangsaan yang Cauvinis, yaitu paham yang muncul karena kebencian dan merendahkan harkat martabat manusia dan bangsa-bangsa lain.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang telah memiliki budaya untuk memutuskan sebuah kebijakan bersama melalui musyawarah mufakat. Perbedaan pendapat di musyawarahkan untuk mencapai kesepakatan. Musyawarah adalah cara untuk mencari persamaan di antara perbedaan. Persamaan maksudnya menemukan keputusan yang diyakini dan bermanfaat untuk kepentingan bersama. Tradisi musyawarah-mufakat didasari oleh hikmat kebijaksanaan, yang menyadari perbedaan itu sebagai kodrat alam. Oleh karena itu perbedaan tersebut harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan kebencian dan perpecahan antar sesama manusia, yang dapat mengakibatkan hilangnya harkat dan martabat manusia.

Dalam sejarah Nusantara kita mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu), Crah Agawe Bubrah, Rukun Agawe santosa. Arti semua semboyan tersebut adalah “bercerai kita runtuh, bersatu kita teguh”. Sila keempat “Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” menjadi dasar, Negara Indonesia yang menganut sistem demokrasi, yang dilandasi semangat bermusyawarah. Demokrasi di Indonesia menempatkan Kedaulatan di tangan rakyat bukan di tangan raja atau imam Agama. Dengan demikian, bila cara berketuhanan atau cara beragama kita kemudian melahirkan atau mendorong perpecahan, memperuncing perbedaan, mau menang sendiri karena merasa golongan mayoritas yang setiap keputusan harus dimenangkan atau dituruti, maka cara berketuhanan kita tidak sesuai dengan kebudayaan atau keadaban ke-indonesiaan.

Demokrasi Pancasila tidak hanya mengakui hak-hak politik rakyat Indonesia, tetapi juga hak-hak atas keadilan sosial. Nilai-nilai keadilan sosial adalah nilai kemanusiaan universal yang juga diajarkan oleh agama-agama yang di yakini oleh Bangsa Indonesia. Pancasila mengakhiri sila kelimanya dengan menyatakan ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Artinya, tujuan membangun Negara Bangsa pada prinsipnya agar bangsa Indonesia mencapai kehidupan yang adil, damai sejahtera dengan terpenuhinya hak-hak dasar rakyat seperti tanah-perumahan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, keamanan, dll. Hal ini kemudian secara eksplisit diamanatkan oleh UUD’ 45, bahwa negara Indonesia wajib memelihara fakir miskin, memberikan akses pendidikan, pekerjaan, kesehatan, lingkungan tempat tinggal yang sehat, dan tidak boleh ada penghisapan manusia satu dengan manusia yang lain. Untuk menjamin dan melindungi semua itu, maka perekonomian disusun berdasarkan azaz kekeluargaan (kepemilikan bersama seperti Koperasi), cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara, dan Kekayaan alam dikuasai negara untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Berangkat dari konsepsi di atas, dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah produk kebudayaan. Sila-sila Pancasila adalah satu kesatuan organik dimana antar sila harus saling menjiwai dan melengkapi. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa yang kemudian diaktualisasikan dalam beragama, diharapkan dapat menumbuhkan spiritualitas kemanusiaan, semangat nasionalisme (persatuan). serta mendorong lahirnya demokrasi yang dilandasi oleh kehendak untuk bermusyawarah dan sistem yang berkeadilan sosial. Begitu pula sebaliknya: sistem berkeadilan sosial, semangat musyawarah, persatuan dan perikemanusiaan menjadi landasan untuk menafsirkan ajaran-ajaran Berketuhanan.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN