Home » Renungan » Membangun Pemulihan Relasi

Membangun Pemulihan Relasi

1 Korintus 3:1-9; Matius 5:21-37

Hukum/aturan dibuat, pada dasarnya, adalah untuk menciptakan keteraturan kehidupan. Mengapa untuk mengatur kehidupan diperlukan aturan? Kehidupan memerlukan aturan karena setiap manusia memiliki kebutuhannya masing-masing. Jikalau tidak diatur maka setiap manusia akan memenuhi kebutuhannya dengan semaunya sendiri, yang dapat menyebabkan kekacauan. Dalam kehidupan agama, peraturan/hukum juga sangat dibutuhkan. Setiap agama tentu memiliki aturan/hukum masing-masing dalam rangka membangun kehidupan bersama. Tidak terkecuali agama/iman Kristen.

Dalam menjalani kehidupan sebagai umat pilihan Allah tentu kita juga harus bersedia diatur oleh Allah. Hukum Allah pada dasarnya adalah untuk menciptakan kehidupan dalam keteraturan. Jadi bukan sekadar melakukan aturan,melainkan memahami tujuan dibuatnya aturan itu. Saat Allah memilih bangsa Israel menjadi umat-Nya, Ia memberikan aturan, yaitu Sepuluh Hukum Tuhan. Dalam perkembangannya, sepuluh hukum ini dijabarkan dalam berbagai aturan yang dikenal dengan istilah Hukum Taurat. Hukum Taurat merupakan seperangkat aturan yang lebih operasional dan detail mengatur kehidupan bangsa Israel sebagai umat Allah. Dalam pidato perpisahannya, Musa mengingatkan kembali agar bangsa Israel hidup sebagai umat yang tunduk kepada Hukum Allah (baca: Ulangan pasal 29-30). Ketertundukkan kepada hukum bukan semata-mata wujud ketaatan dankasih kepada Allah, melainkan keyakinan akan kelangsungan kehidupan umat itu sendiri. Musa mengingatkan bahwa kehidupan umat sungguh hanya bergantung kepada kasih dan kuasa Allah. Jadi melakukan Hukum Tuhan adalah wujud mencintai kehidupan.

Sedangkan Tuhan Yesus, dalam khotbahnya, menerangkan bahwa Hukum Tuhan harus dapat menghasilkan relasi yang indah antar manusia (baca: Matius 5:21-37). Ritual menjadi sia-sia jikalau tidak menghasilkan pulihnya relasi manusia (ayat 23-24). Hal ini untuk mengkritik sikap legalistik sebagian kalangan umat Yahudi. Legalistik (Legalistic mind) adalah cara berpikir sempit dan kaku, sekadar melakukan aturan tanpa melihat nilai-nilai yang lebih luas. Hukum menjadi seperangkat aturan yang, dengan kaku, harus dipatuhi tanpa melihat tujuan yang sesungguhnya dari adanya aturan itu. Tuhan Yesus menuntut umat untuk berani melihat dan memahami hukum secara utuh dengan perumpamaan tentang lebih baik masuk ke sorga dengan anggota tubuh yang tidak utuh (ayat 29-30).

1 Korintus 3:1-9
Bacaan ini merupakan ajakan Rasul Paulus untuk memahami kehidupan umat Tuhan dengan mengutamakan persekutuan yang lebih luas dibanding kepentingan kelompok atau golongan. Paulus mengajak umat untuk tidak berpikir sempit.

Minggu lalu kita belajar tentang sense of identity/perasaan identitas, yaitu perasaan yang justru dapat menjadi alasan untuk memisahkan diri dari kelompoklain. Paulus mengajak umat untuk menyadari akan panggilan tugas yang harus dikerjakan secara bersama-sama.

Matius 5:21-37
Bacaan ini merupakan bagian dari khotbah Tuhan Yesus di bukit. Tuhan Yesus, dalam khotbahnya, menerangkan bahwa Hukum Tuhan harus dapat menghasilkan relasi yang indah anar manusia. Ritual menjadi sia-sia jikalau tidak menghasilkan pulihnya relasi manusia (ayat 23-24). Hal ini untuk mengkritik sikap legalistik sebagian kalangan umat Yahudi. Legalistik (Legalistic mind) adalah cara berpikir sempit dan kaku, sekadar melakukan aturan tanpa melihat nilai-nilai yang lebih luas. Hukum menjadi seperangkat aturan yang, dengan kaku, harus dipatuhi tanpa melihat tujuan yang sesungguhnya dari adanya aturan itu. Tuhan Yesus menuntut umat untuk berani melihat dan memahami hukum secara utuh dengan perumpamaan tentang lebih baik masuk ke sorga dengan anggota tubuh yang tidak utuh (ayat 29-30).

14 Februari yang lalu adalah Hari Valentine, Hari kasih sayang. Khotbah kali ini juga merupakan ajakan untuk membangun kembali relasi dengan sesama secara lebih luas, bukan hanya bagi seseorang. Umat terpanggil untuk menyatakan sikap hidup yang taat kepada Firman Tuhan. Ketaatan ini bukan semata-mata sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan, melainkan keyakinan bahwa dengan melakukan hukum itu kita akan dapat menikmati kelangsungan kehidupan.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa hakikat hukum Tuhan adalah untuk membangun kehidupan manusia menjadi lebih baik. Ketaatan melakukan Firman Tuhan bukan sebagai bentuk tindakan legalistik, melainkan harus dengan semangat membangun kehidupan yang lebih baik. Menjadi sia-sia menjalankan hukum itu dengan ketaatan jika tidak menghasilkan pemulihan relasi.

Gereja terpanggil untuk membangun komunitas yang melek hukum, yaitu komunitas yang sadar dan memahami serta mencintai hukum. Artinya gereja hidup dalam kesadaran untuk membangun keteraturan. Gereja merupakan komunitas yang terpanggil untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Gereja, sebagai sebuah komunitas, harus bersaksi melalui kehidupan yang taat hukum. Gereja harus bersaksi sebagai komunitas yang taat hukum dengan adannya pemulihan relasi di dalam kehidupan komunitasnya. Amin.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *