Home » Renungan » Persahabatan Yang Memberdayakan

Persahabatan Yang Memberdayakan

Lukas 24:13-49

Adalah hal menarik jika Paskah tahun ini diadakan bertepatan dengan hari Kartini. R.A. Kartini dikenang sebagai pemberdaya perempuan, yang pada waktu itu terpinggirkan. Pemikiran Kartini yang memberdayakan perempuan nampak dalam kumpulan surat-suratnya yang kemudian diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Th. Sumartana, teolog yang banyak berkecimpung dalam dialog lintas iman, memasukkan pergumulan Kartini dalam salah satu bab disertasinya yang berjudul: Mission at the Crossroads (diterbitkan BPK Gunung Mulia, 1991). Menariknya, peminggiran itu, bagi Kartini, dilakukan juga melalui ajaran agama.

Dengan bahasa retoris, Kartini menulis kritis: “Agama harus menjaga kita dari dosa, tetapi betapa banyaknya dosa diperbuat atas nama agama.” Th. Sumartono mengutip pernyataan Kartini yang mengatakan: “Ajaran Islam memungkinkan laki-laki menikah dengan empat perempuan pada saat yang bersamaan.” Bagi Kartini hal itu adalah sebuah dosa. Katanya lagi terhadap poligami: “Saya akan tetap menganggapnya sebagai dosa. Dosa adalah menyakiti makhluk lain, manusia atau binatang. Dapatkah Anda membayangkan betapa tersiksanya seorang perempuan yang melihat suaminya membawa perempuan lain, dan Anda harus mengakuinya sebagai istri sahnya? Segalanya untuk laki-laki, itu adalah hukum dan pengajaran kami.”

Perayaan Paskah adalah kisah perlawanan terhadap peminggiran. Adalah hal yang menarik jika dalam peristiwa kebangkitan, Kitab Suci menempatkan perempuan sebagai saksi. Sekalipun saat itu perempuan dianggap sebagai makhluk yang tidak dapat dipercaya. Bacaan Injil yang dibacakan pada Paskah sore adalah kisah perjalanan Emaus, yang juga memperlihatkan peran dua orang yang terpinggirkan. Kedua tokoh itu, Kleopas dan temannya, tidak menonjol sebagai murid Yesus. Namun mereka menjadi saksi kebangkitan Yesus secara personal. Melalui pemberitaan di Paskah Sore ini umat diajak untuk mengikuti jalan Yesus, yang menghadirkan semangat persahabatan sebagai jalan yang memberdayakan.

Nama Kleopas tiba-tiba masuk dalam cerita tentang murid Yesus. Sebelumnya tidak pernah ada nama Kleopas disebut (Yoh. 19:25 menyebut nama Klopas, entah apakah ada hubungan antara Kleopas dan Klopas). Lukas dengan jelas menyebut bahwa Kleopas dan temannya adalah “dua orang dari murid-murid Yesus” (ay. 13). Memang Lukas pernah menuturkan adanya tujuh puluh murid yang lain (Luk. 10:1). Apakah Kleopas dan temannya masuk dalam tujuh puluh murid lain itu? Kita tidak tahu pasti, sebab memang tidak dituturkan dalam Alkitab. Kita bisa mengatakan bahwa Kleopas dan temannya adalah memang murid Yesus, tetapi murid yang tidak terkenal. Murid pinggiran. Mereka tenggelam dari nama-nama besar seperti Petrus, Yohanes, dan yang lain.

Menariknya, justru kepada dua orang pinggiran itu Yesus datang. Yesus menemani perjalanan mereka dengan semangat persahabatan. Semangat persahabatan itu dimulai dari kedatangan Yesus yang tiba-tiba bergabung dalam perjalanan mereka (ay. 15). Seorang yang memiliki semangat persahabatan dengan aktif dan hangat menjalin relasi dengan siapa saja.

Semangat persahabatan juga dinampakkan lewat percakapan yang tidak menggurui, apalagi menyudutkan. Kehangatan persahabatan itu membuat mereka berani mengungkapkan perasaannya, “…kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (Luk 24:21). Bahkan ketika perpisahan hendak terjadi, mereka dengan berat tidak ingin menghentikan perjalanan persahabatan itu. Lukas dengan impresif menulis: “… mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah la untuk tinggal bersama-sama dengan mereka” (ay. 29).

Barulah pada saat makan bersama di rumah dua orang itu, mereka melihat Yesus yang bangkit. Mereka baru menyadari betapa teman perjalanan mereka adalah teman yang hangat, yang membuat hati mereka berkobar-kobar saat

bercakap-cakap dengan-Nya (ay. 32). Bagi mereka, ini adalah perjalanan yang membebaskan. Sekalipun mereka bukan siapa-siapa. Hanya orang pinggiran, tetapi Yesus bersedia hadir secara pribadi bagi mereka.

Lukas kemudian menuturkan, mereka kembali ke Yerusalem untuk memberitakan kebangkitan Yesus. Mereka menjadi pemberita Paskah pada sebelas murid yang lain (ay. 33). Kleopas dan temannya menjadi pusat, bukan pusat kekuasaan tetapi pusat pemberitaan. Itu sebabnya nama mereka kemudian hilang. Kita tidak lagi menemukan catatan sepak terjang pelayanan mereka.

Mereka menceritakan bagaimana pengalaman perjalanan yang memberdayakan (ay. 35). Saat mereka bercerita, Yesus tiba-tiba hadir dan menyapa “Damai sejahtera bagi kamu!” (ay. 36). Kehadiran Kleopas dan temannya seakan mempersiapkan kehadiran Yesus di tengah murid-murid-Nya. Kleopas dan temannya diberdayakan untuk menjadi sahabat yang memberdayakan.

Kisah Yesus adalah kisah perlawanan terhadap mereka yang terpinggirkan. Demikan juga dengan perayaan Paskah yang adalah juga kisah perlawanan terhadap peminggiran. Paskah menempatkan perempuan sebagai saksi, sekalipun saat itu perempuan dianggap sebagai makhluk yang tidak dapat dipercaya. Kisah perjalanan Emaus menunjukkan peran dua orang yang terpinggirkan. Kedua tokoh itu, Kleopas dan temannya, tidak terlalu menonjol sebagai murid Yesus. Namun mereka menjadi saksi kebangkitan Yesus secara personal. Yesus hadir menemani perjalanan mereka dengan semangat persahabatan. Persahabatan yang menyadarkan mereka, hingga mereka kembali ke Yerusalem untuk menjadi pemberita kebangkitan Yesus kepada sebelas murid yang lain. Amin.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN