Home » Renungan » Sukacita Pendamaian

Sukacita Pendamaian

2 Korintus 5:16-21; Lukas 15: 1-3, 11-32

Ketika kita bicara tentang damai, biasanya hal tersebut terkait dengan situasi. Tetapi berbeda dengan kata pendamaian yang mengarah pada eksistensi proses dari adanya suatu situasi konflik menuju kondisi damai. Pendamaian bisa dilakukan dengan beragam cara, bisa dengan menghindari setiap potensi konflik, memilih mengalah kepada pihak lain, atau justru memaksa pihak lain untuk tunduk dalam keinginan kita, dan bisa dengan kompromi mengambil jalan tengah yang dikenal dengan fifty-fifty. Pendamaian tersebut bisa saja terjadi namun sangat mungkin disertai keluhan dari salah satu pihak. Maka diperlukan pendamaian melalui adanya kerja sama. Pendamaian ini dimulai dengan mengenal dasar kebutuhan tiap pihak dan bersama-sama membentuk kesepakatan sehingga terbentuklah sukacita lewat pendamaian tersebut.

Pada Minggu Pra Paskah IV ini kita akan merefleksikan sukacita pendamaian yang diharapkan Allah. Allah sebagai inisiator pendamaian kekal mengajak umat manusia untuk berkolaborasi membentuk pendamaian dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan-Nya.

Secara garis besar, bacaan ini merupakan bagian dari apologia (pembelaan/pengakuan agama) rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, setelah terjadi ketegangan antara mereka. Maka dapat kita baca perikop “Pelayanan untuk Pendamaian” merupakan sebuah pembelaan dari rasul Paulus bahwa dasar pelayanan yang ia lakukan ialah pendamaian, sama seperti yang telah dicontohkan Kristus.

Sebuah kerendahan ditunjukkan oleh rasul Paulus bahwa melalui Kristus, ia diubahkan untuk tidak menilai seorang pun, bahkan orang-orang yang meragukan kerasulan Paulus, dengan cara pandang manusia. Paulus mengakui bahwa Kristus berinisiatif mendamaikan manusia dengan diri-Nya dan Ia terpanggil untuk memberitakan kabar damai tersebut, baik kepada jemaat Kristen Korintus yang terpecah belah dan bahkan dengan mereka yang belum percaya kepada Kristus. Atmosfer perdamaian tersebut akan terlaksana jika setiap manusia mau bekerja sama, merespon inisiatif Allah dengan cara memberi diri untuk berdamai terlebih dahulu dengan Allah dan perdamaian akan tercipta.

Perikop perumpamaan tentang anak yang hilang tentu menjadi bahan makanan rutin bagi banyak teolog Kristen. Boleh dikatakan minimal sekali setahun dibaca dan kerap didramakan. Perumpamaan ini tak lepas dari suasana muram yang diciptakan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena melihat Yesus yang berkumpul dengan orang-orang kelas marjinal. Rasa iri atau jengkel terekspresikan dari kutipan pada ayat kedua. Dalam konstruksi kasta kesalehan yang mereka bentuk, seharusnya orang berdosa diabaikan atau justru dihukum, bukan dikasihi.

Nampaknya Yesus bisa membaca situasi hati tersebut dan memberikan tiga perumpamaan dengan kesamaan nada, yaitu kebahagiaan menemukan yang hilang. Pada nada ketiga disampaikan Yesus lewat perumpamaan tentang anak yang hilang. Secara sekilas cerita itu kita pahami sebagai anak bungsu yang berdosa, berfoya-foya secara salah, lalu ia sadar dan berencana untuk melamar sebagai orang upahan sang Bapa.

Hal ini seolah mau menggambarkan Yesus bersama orang-orang berdosa yang termajinalkan, yang tengah merayakan sukacita karena mereka datang kepada-Nya. Mereka mengakui kesalahannya dan bersedia menjalin relasi dengan makan bersama.

Tak selesai pada poin tersebut, narasi perumpamaan dilanjutkan dengan sosok sang anak sulung yang iri atas penyambutan si bungsu yang dulunya berdosa. Lensa penghakiman dan merasa diri benar dipakai seolah menggambarkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sang Bapa pun memberi respon yaitu dengan mengajak sang anak sulung untuk ikut bersukacita. Demikianlah Yesus juga berusaha ingin melakukan pendamaian antara orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersama mereka yang berdosa.

Allah selalu berinisiatif menciptakan kedamaian terjadi antara Dia dan ciptaan-Nya. Inisiatif itu dilakukan sejak manusia jatuh dalam dosa, masa kehidupan bangsa Israel, bahkan sampai sekarang. Hal tersebut dapat kita buktikan lewat karya keselamatan yang datang dari Kristus. Namun kedamaian tersebut akan benar-benar terwujud ketika umat mau ikut bekerjasama menerima keselamatan sehingga lahirlah sukacita. Tak berhenti pada karya keselamatan Kristus, Ia ingin agar umat yang telah hidup dalam sukacita-Nya menjadi pendamai, membawakan pesan damai dalam hidup mereka. Amin

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN