Home » Bahan PA » Apa itu PA Intergenerasional?

Apa itu PA Intergenerasional?

PA yang dipraktikkan di gereja, biasanya dihadiri oleh orang-orang dewasa (yang sudah menikah?). Kita dapat menyebutnya dengan PA dewasa. Remaja dan pemuda juga punya PA dengan nama persekutuan atau kelompok kecil. Antar kelompok-kelompok itu nyaris tidak ada relasi. Kalau pun orang dewasa kadang datang di persekutuan atau kelompok kecil remaja/pemuda, kemungkinan besar ia menjadi fasilitator atau pendamping. Di PA dewasa kadang anak-anak juga diajak. Namun mereka tidak ikut PA. Umumnya mereka diberi ruang yang dikhususkan untuk anak-anak. Sepanjang PA mereka bermain atau nonton bersama teman sebaya. Anak-anak akan bergabung kembali saat waktu konsumsi (makan-makan) tiba. Hasilnya, acara PA yang paling menarik adalah bagian makan-makannya.

PA intergenerasional menggagas PA dengan melibatkan semua anggota keluarga. Keterlibatan adalah hakikat komunitas. Belajar dari William J. Smith Jr., yang dilakukan dalam PA intergenerasional adalah mengubah “from age-segregated congregations to an integrated faith community”. Jadi dalam PA Intergenenerasional ini, diharapkan peserta dapat belajar bersama dalam komunitas.

Terkait dengan hal tersebut, Jack L. Seymour – dalam Maping Christian Education – menunjukkan bahwa tujuan dalam pendekatan komunitas iman adalah membangun komunitas-komunitas yang mempromosikan perkembangan manusia yang otentik; membantu pribadi-pribadi membentuk komunitas. Dengan menyebutkan manusia yang otentik, peserta diajak untuk menemukan dirinya, bukan menjadi fotokopi orang lain. Pada gilirannya, ia akan membentuk komunitas berdasarkan pengalaman berharganya. Di sini peran pemimpin adalah memfasilitasi kelompok-kelompok, bukan menjadi si maha tahu, sehingga PA tidak berjalan dalam model yang disebut Paulo Fraire sebagai sistem banking.

Dalam PA dapat saja dibentuk kelompok kecil berdasarkan keluarga atau kelompok kecil berdasarkan kategori usia. Dengan adanya kelompok kecil, keuntungan yang diperoleh antara lain:

  1. Suasana menjadi non-formal yang ditandai dengan keakraban, rileks, dan terbuka sehingga semakin mengenal secara lebih dalam.
  2. Komunikasi terjalin timbal balik ke segala arah. Semua anggota dimungkinkan untuk berperan atau terlibat aktif serta secara bermakna.
  3. Memungkinkan suasana belajar yang ideal. Peserta bukan saja menerima tetapi menemukan bersama. Materi yang dipelajari tidak saja dibahas secara umum, tetapi bisa didaratkan ke kebutuhan pribadi anggota. Aspek pengalaman dan kepribadian, bukan saja rasio, turut dilibatkan.
  4. Bersifat dinamis, sehingga dapat diberi “muatan” sesuai dengan tujuan/kepentingan kehidupan gereja masing-masing.
  5. Menggiatkan anggota jemaat gereja untuk menghayati Kekristenan secara berpengaruh dalam masyarakat.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN