Home » Renungan » Berkarya dengan Kudus dan Gembira

Berkarya dengan Kudus dan Gembira

(Lukas 3: 7-18)

Berkarya bisa dipergunakan sebagai sarana dan wahana mengungkapkan jati diri. Jati diri orang yang bersyukur atas kasih karunia dari Tuhan. Banyak karya dihasilkan seseorang atau sekelompok orang karena kecintaan dan jiwa yang dekat dengan Tuhan, misalnya, karya seni suara dan karya musik. Karya yang dipergunakan sebagai wujud pemujaan dan penyembahan kepada Tuhan Allah Yang Mahabaik. Berkarya dapat juga menjadi alat mengungkapkan jiwa yang selalu ingin dekat dengan Tuhan.

Dalam kerangka menantikan kedatangan Tuhan pada masa Adven ini, banyak karya dihasilkan oleh Jemaat. Baik karya seni, karya kriya atau kerajinan tangan, maupun karya pelayanan sosial. Semua dipersembahkan bagi Tuhan dan sebagai alat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Allah. Berkarya di masa penantian kedatangan Tuhan dapat menjadi sumber inspirasi yang segar dan membangun. Masa penantian bukanlah masa berdiam dan berpangku-tangan. Pada masa penantian, umat Allah dipanggil melaksanakan karya kongkret, sebagai buah pertobatan, dalam bentuk berbagai karya yang berguna bagi sesama, untuk memuji Tuhan Allah.

Situasi sekitar yang permisif, ditambah kondisi keuangan yang kepepet bisa menjadi faktor kuat bagi terbentuknya mentalitas suka melanggar. Mentalitas itu bisa berwujud peri laku apa pun. Termasuk tidak punya rasa takut dan hormat kepada Tuhan. Selanjutnya, jika mentalitas itu menjadi perilaku sehari-hari, itu berarti pelanggaran sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Dalam keadaan demikian, seorang pelanggar tidak lagi bisa membedakan tangan kiri dan tangan kanan. Semua dianggap sama, semua cara boleh dilakukan demi mencapai kesenangan itu.

Demikianlah sekilas gambaran masyarakat yang dilayani Yohanes Pembaptis pada waktu itu. Di tengah-tengah mentalitas demikian, Yohanes Pembaptis berjalan mewartakan Injil. Umat Israel diingatkan agar sadar dan kembali ke jalan Tuhan. Berita yang dibawa Yohanes Pembaptis adalah pertobatan. Pertobatan berarti berbalik dari perilaku tidak takut Allah, dan memusuhi sesama; menjadi hormat dan takut kepada Tuhan Allah. Dalam situasi kongkret, waktu itu, bertobat menurut Yohanes Pembaptis adalah berubah menjadi pribadi yang menghormati Tuhan Allah. Apa arti hal itu? Pertama, menghindari pikiran bahwa menjadi keturunan Abraham sama dengan mendapat hak istimewa, dan boleh bertindak semaunya. Kedua, iman dan perbuatan tobat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari seturut dengan hati yang takut dan hormat kepada Tuhan. Ketiga, menjauh dari pikiran berani melanggar hak orang lain. Keempat, Yohanes Pembaptis memberikan teladan kongkret, yaitu dengan jujur dan terbuka mengaku bahwa dirinya bukan Mesias, walau terbuka kesempatan untuk itu. Bertobat, kembali ke jalan Tuhan, berperilaku sepadan dengan pertobatan, dan keteladanan, semua itu adalah karya yang dihasilkan dari hati dan jiwa yang takut dan menghormati Tuhan Allah. Amin.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN