Home » Bahan PA » Bahan PA Intergenerasional 17-22 Desember 2018 (Minggu Adven III)

Bahan PA Intergenerasional 17-22 Desember 2018 (Minggu Adven III)

JAUH DAN DEKAT, BERSATU  DALAM TUHAN!

Efesus 2:11-22

Tujuan

  1. Peserta memahami dorongan manusia untuk berkelompok
  2. Peserta memahami bahwa persatuan antar kelompok membawa kebaikan bersama
  3. Peserta dapat menentukan sikapnya untuk membangun persatuan Indonesia

Pengantar

Salah seorang tokoh filsafat, Karl Marx, mengatakan bahwa manusia hanya dapat berkembang seutuhnya bila ia berada dalam kelompok. Ia menyebut manusia sebagai ‘social being’ yang terus terhisap atau menghisapkan dirinya dalam kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dari sejak dilahirkan, manusia hidup dalam kelompok yang bernama keluarga. Setelah beranjak besar, mereka mulai mengenal kelompok berdasarkan usia dalam kelas-kelas di sekolah. Di sana mereka juga mengidentifikasi diri dengan persamaan-persamaan baik dari ciri fisik, ras, suku, agama, dan bahkan gender.

Mereka mulai mengenal adanya ‘kami/kita’ dengan ‘mereka. Manusia terus memetakan ‘kami/kita’ dan ‘mereka’ sepanjang hidupnya. Dengan adanya pengelompokkan ini, potensi perpecahan terus menerus mengancam umat manusia. Dorongan mempertentangkan in group (kelompok sosial di mana seseorang mengidentifikasi diri sebagai bagian dari dirinya) dengan out group (kelompok sosial di luar dirinya) terus terjadi. Apabila sentimen pengelompokan memuncak, kelompok-kelompok ini akan mudah berbenturan dan menyebabkan konflik sosial yang parah dan berkelanjutan.

Kita sering mendengar kisah pertikaian antar kampung karena pesta dangdut. Hanya karena salah satu pemuda terinjak kakinya oleh pemuda dari kampung lain, terjadi peperangan yang merenggut jiwa dan mengakibatkan kerusakan bangunan serta kendaraan di sana-sini. Belum lagi sentimen kelompok agama di negara ini,menjadi hal yang terus hangat dari masa lampau sampai kini.

Kelompok-kelompok dalam masyarakat berkecenderungan menegaskan identitasnya dengan simbol-simbol. Sengaja atau tidak, simbol-simbol dimainkan sedemikian rupa untuk menegaskan in group dan out group itu. Simbol ini bisa berbentuk bangunan, tanda khusus (salib, bulan sabit, bintang segi enam), bendera, warna, dan sebagainya. Simbol-simbol ini mewakili kelompok mereka. Dalam konflik, perusakan pertama biasanya menyasar pada simbol-simbol itu terlebih dahulu. Lihatlah perusakan gereja (simbol Kristen) adalah bukti bahwa sasaran pertama kebencian terhadap kekristenan dengan merusak simbolnya, sebelum memikirkan kehancuran pada anggota dan aset-asetnya.

Dalam era kebebasan di masa reformasi ini, kita disuguhi menguatkan identitas kelompokyang lebih kecil. Atas nama kebebasan, mereka bisa mengedepankan identitas sempit dan mengalahkan identitas luas. Kelompok mereka dikuatkan sedemikian rupa bahkan mengupayakan dominasi atau tirani terhadap sistem kehidupan yang lebih luas. Upaya-upaya ini, entah dilakukan secara sadar atau tidak, mengancam persatuan Indonesia dan sekaligus mengancam kemanusiaan dan keadilan. Bahkan, jauh dari azas ke-Tuhan-an.

Yang Jauh – Yang Dekat

Kehidupan bangsa Israel pun berada dalam ketegangan antar kelompok. Kelompok yang berbau rohani sampai yang bersifat politis dan bahkan percampuran keduanya. Mereka pun terjebak dalam konflik ini dan tak jarang melahirkan perpecahan yang menyedihkan.

Istilah ‘yang jauh’ dan ‘yang dekat’ ini, dalam bahasa kita hari ini, dapat diganti dengan ‘orang kafir’ dan ‘orang suci’. Bangsa Israel menganggap bahwa orang Yahudi adalah orang yang sangat diberkati Allah. Di luar mereka tidak ada kasih Allah. Di luar mereka adalah najis. Perdebatan ini bahkan terjadi setelah Yesus datang ke dunia dan menebus dosa di kayu salib.

Dalam sejarah kekristenan mula-mula, orang Kristen Yahudi ada yang masih merasa bahwa orang Kristen non Yahudi adalah orang-orang Kristen yang belum sempurna. Orang Kristen Yahudi mengklaim diri menjadi kelompok eksklusif yang lebih segala-galanya dibanding orang Kristen non Yahudi. Ini sebabnya penulis mengajak untuk segera kembali pada Kristus. Kristus bukan hanya menyelamatkan orang Yahudi. Kristus datang bagi dunia (Yoh. 3:16). Dunia bahkan dapat diartikan bukan hanya manusia, tetapi seperti pemahaman ekumenis gereja-gerejadi dunia, Kristus adalah sosok pemulih dan penjaga keutuhan ciptaan (semuaciptaan).

Penulis kitab Efesus menghendaki orang-orang percaya tidak terjebak dalam ‘identitas sempit’ (Kristen Yahudi dan Kristen non Yahudi) tetapi menyatukan diri dalam ‘identitas yang lebih luas’, yaitu Kristus sendiri.

Untuk Indonesia

Penulis kitab Efesus sangat berjasa bagi kita untuk merenungkan kebangsaan Indonesia. Ditengah menguatnya ‘identitas sempit’ di Indonesia, baik agama (aku Kristen, aku Islam, Aku Hindu, dsb.), suku (aku Jawa, aku Batak, aku Bali, dsb.), politik (aku PDIP, aku Demokrat, aku Gerindra), dan lain sebagainya, ‘identitas luas’ harus menjadi payung bersama. ‘Identitas luas’ sebagai bangsa Indonesia harus lebih di kuatkan.

Dalam kehidupan yang menginginkan kemanusiaan yang beradab, keadilan, permusyawaratan, dan persatuan antar ciptaan, ‘identitas luas’ perlu terus digaungkan. Kekristenan sangat akrab dengan penguatan ‘identitas luas, seperti:

  Identitas Sempit Identitas Luas
1 Kristen Yahudi vs Kristen non Yahudi Kristus sebagai identitas pemersatu
2 Anak kecil vs dewasa Semua berharga di mata Allah
3 Kelompok Paulus vs Kefas, Petrus, dsb. Semua membentuk ‘tubuh Kristus’
4 Aku vs musuh Kasih menjadi identitas pemersatu. ‘Kasihilah musuhmu’
5 Aku vs kamu, kami vs mereka ‘Sesama manusia’ sebagai identitas luas pemersatu

Dalam kehidupan berbangsa, ke-Indonesia-an adalah pemersatu. Bukan berarti semua sama dan tanpa kelompok kecil. Tetapi kepentingan golongan/kelompok tidak boleh lebih besar dari persatuan dan kepentingan bangsa Indonesia itu sendiri. Ketika berbicara tentang kemanusiaan, kepentingan umat manusia harus lebih besar dari kepentingan bangsa-bangsa di dunia. Ketika berbicara tentang dunia ini, kepentingan makhluk hidup lebih penting ketimbang kepentingan manusia saja (ramah hewan dan tumbuhan).

Mari usahakan terus persatuan dengan mengidentifikasi diri sebagai kelompok yang lebih luas, tanpa membuang identitas sempit, serta terus bergandeng tangan tanpa mengkafirkan dan menajiskan.

Langkah Penyampaian

  1. Sampaikan pengantar PA ini dengan mengemas kalimat yang ada dengan kalimat yang dapat dipahami oleh semua usia.
  2. Berilah kesempatan semua orang untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok yang ada ditengah masyarakat mereka! Fasilitator dapat mempermudah dengan meminta mereka mengingat simbol-simbol yang betebaran di tengah masyarakat itu dan meminta peserta untuk mengidentifikasi simbol itu mewakili komunitas apa. Terbukalah terhadap semua simbol, baik politik, keagamaan, usia, dan sebagainya yang diwakili dengan simbol apapun, baik bendera, tanda khusus, warna khusus, pakaian khusus. Ajaklah mereka berpikir lebih jauh adanya kelompok dalam kelompok, misalnya dalam kelompok Kristen ada kelompok Kristen Jawa, kelompok Kristen Indonesia, Kelompok Katolik, bahkan pembagian kategori usia dalam gereja (Komisi Anak, Komisi Remaja, dan sebagainya)
  3. Ajaklah peserta melihat perpecahan! Carilah beberapa berita perpecahan kelompok dimasyarakat Anda atau di Indonesia!
  4. Ajaklah peserta melihat bahwa seringkali ‘identitas sempit’ sangat menguasai!
  5. Ajaklah mereka menyadari perlunya penguatan ‘identitas luas’ baik sebagai bangsa Indonesia maupun sebagai sesama umat manusia.
  6. Bagaimana cara mereka membangun ke-Indonesia-an? Diskusikan!
  7. Tutuplah dengan menyajikan ulang bagian ‘Untuk Indonesia’ di atas.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN