Home » Bahan PA » Bahan Dasar Masa Pentakosta (10-15 Juni 2019)

Bahan Dasar Masa Pentakosta (10-15 Juni 2019)

“ROH KUDUS BAGI INDONESIA”

 

EKSLUSIF, INKLUSIF REALITAS KEHIDUPAN

Dari zaman dahulu hingga kini ada saja orang-orang yang eksklusif. Mereka berpikir bahwa mereka beda dari yang lain. Beda dalam etnis/suku, tingkatan materi, jabatan, agama, dll. Mereka menganggap diri superior dibanding yang lainnya. Mereka biasanya menjauhkan diri atau membatasi pergaulan dari yang lainnya, yang dianggap berbeda. Mereka merasa bahwa keberadaan yang lain menjadi ancaman.

Lawan kata dari eksklusif adalah inklusif. Kalau eksklusif bermakna “terpisah dari yang lain, khusus”, maka inklusif1 mempunyai arti “terbuka dengan yang lain, membaur”. Orang yang inklusif memandang orang lain sama berharganya dengan dirinya, la menghargai keberadaan pihak lain meski beda etnis, tingkatan materi, jabatan, agama, dll. dan mau bergaul dengan mereka.

Di dalam kekristenan dan agama apapun selalu ada dua kelompok tersebut. Ada orang-orang yang merasa dirinya superior dari pemeluk agama lain. Akibatnya, orang-orang tersebut cenderung eksklusif, menjauhkan diri dari yang lainnya. Atau ada pula yang merasa perlu untuk memertobatkan yang lain untuk masuk dalam kelompoknya. Bahkan ada yang menganggap yang lain sebagai musuh yang patut diserang dan dibinasakan.

Sikap yang eksklusif dan inklusif tersebut tergantung dari sudut pandang seseorang dalam menilai suatu hal. Itu semua tergantung pada mindset atau pemahaman yang dimiliki. Pertanyaannya, bagaimana pemahaman Kristen terhadap fenomena kehidupan eksklusif-inklusif tersebut? Apakah Allah adalah Allah yang ekslusif? Apakah Roh Kudus itu eksklusif ataukah inklusif?

INKLUSIVITAS ROH KUDUS

Di Masa Pentakosta ini kita diajak untuk melihat kembali dan merasakan inklusivitas Allah, secara khusus Roh Kudus yang menjadi tokoh kunci dalam peristiwa Pentakosta. Inklusivitas yang sudah dimulai sejak masa penciptaan langit dan bumi (Kejadian 1). Yang berlanjut dalam hidup dan karya Yesus Kristus. Dilanjutkan oleh karya Roh Kudus sampai saat ini. Itulah karya Allah Tritunggal. Tiga yang satu, yang kita hayati dalam Minggu Trinitas (Minggu penutup dari Masa Pentakosta).

Allah Trinitas itu adalah Allah yang terbuka. Terbuka dalam cara berada (perwujudannya) dan dalam karya. Ketiganya tidak saling meniadakan. Ketiganya selalu ada dalam kebersamaan. Oleh karena itu, Yesus berkali-kali menyebut bahwa la dan Bapa adalah satu (misalnya dalam Yohanes 14 dan 17). la pun minta kepada Bapa agar memberikan kepada para murid-Nya seorang Penolong yang akan menyertai mereka selama-lamanya (Yoh. 14:16).

Dalam kisah karya Roh Kudus, kita melihat dan merasakan betapa karya Roh Kudus itu inklusif. Bacaan Alkitab memberikan kesaksian:

Mazmur 104:24-34, misalnya, menulis tentang permohonan agar Roh datang untuk memperbarui/mentransformasi bumi. Roh yang melayang-layang pada masa penciptaan, diundang untuk menghidupkan dan memperbarui dunia ini. Permohonan tersebut bukan permohonan yang ekslusif untuk diri pemazmur dan komunitasnya sendiri. Permohonan itu inklusif. Pemazmur percaya bahwa Roh Kudus yang bersama-sama dengan Allah dalam penciptaan langit dan bumi akan berkenan hadir kembali untuk memperbarui langit dan bumi yang sudah rusak ini.

Pembaruan atau transformasi itu nyata melalui karya Yesus Kristus yang dilanjutkan oleh Roh Kudus. Karya yang ditujukan bagi semua ciptaan. Karya yang didasarkan atas kasih-Nya yang begitu besar kepada dunia ciptaan-Nya (Yohanes 3:16).

Inklusivitas karya Kristus dan Roh Kudus ini mengingatkan kita akan ajakan pemazmur dalam Mazmur 67. Kita diajak untuk mengenal jalan Tuhan dan untuk mengakui pemerintahan-Nya atas seluruh umat manusia. Bahwa negeri tempat kita berpijak ini, yaitu Indonesia, adalah pemberian Tuhan. Oleh karena itu kita patut mengakui dan memuji nama-Nya.

Sebagai murid Tuhan Yesus, kita diajak menghayati kebaikan Tuhan tersebut sambil terus dengar-dengaran akan Roh Kudus. Karena Dialah yang mengajar dan mengingatkan kita tentang apa yang diajarkan oleh Yesus (Yohanes 14:23-29). Dengan demikian, pada saatnya nanti kita akan melihat kehidupan baru, seperti yang diibaratkan sebagai Yerusalem baru (Wahyu 21:10, 22-22:5). Kehidupan yang dilandasi dengan kasih Allah yang tanpa pandang bulu kepada seluruh ciptaan.

BERSAMA MELAKUKAN TRANSFORMASI BAGI INDONESIA

Di dalam kehidupan umat manusia yang telah rusak, Allah selalu berkenan melakukan pembaruan/transformasi, pun di dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dalam proses transformasi tersebut, la berkenan memakai siapapun untuk menjadi agen ataupun aktor pembaruan/transformasi. la bahkan memanggil siapapun untuk menjadi kawan sekerja-Nya, termasuk orang-orang yang kadang di luar dugaan kita. Salah satu contohnya adalah raja Koresy (2 Tawarikh 36:22- 23; Ezra 1:1-4; Yesaya 44:28). la adalah raja kerajaan Persia yang dipakai Tuhan untuk membebaskan umat-Nya dari tanah pembuangan di Babel. Contoh lain: Paulus yang sebelumnya adalah penganiaya jemaat.

Indonesia di dalam lintasan sejarah hingga kini juga mengalami transformasi.

  • Transformasi dari bangsa yang dijajah menjadi bangsa yang merdeka (1945). Dari hampir dikuasai oleh kelompok tertentu dengan ideologi agama mereka menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila yang berbhinneka tunggal ika (1 Juni, 22 Juni, 18 Agustus 1945)2.
  • Dari bangsa yang dikuasai oleh rezim otoriter (32 tahun berkuasa) menjadi bangsa yang mengalami pembebasan melalui gerakan reformasi 1998.

Proses transformasi tersebut belum berakhir hingga kini, la terus bergulir dalam berbagai bentuk dan cara, meski harus berhadapan dengan berbagai tantangan dan rintangan. Salah satu tantangan dan rintangan yang mesti dihadapi saat ini adalah gempuran dari kelompok tertentu yang ingin kembali menegakkan ideologi agama mereka untuk mengganti dasar negara Pancasila.3 Mereka dengan rapi, terstruktur, sistematis dan masif melakukan gerakan dan upaya-upaya itu. Sementara di pihak lain, gerakan yang melawan arus tersebut sangatlah lemah dan minim. Gereja (baca: Protestan / Kristen, kecuali Katolik) pun kurang memberikan kepedulian terhadap hal tersebut.

Elwin Tobing dalam bukunya berjudul “Indonesian Dream” menuliskan hasil survey yang dilakukan oleh LSI (Lembaga Survey Indonesia) pada tahun 2016, yang menyebutkan: 50% dari 1.520 responden mengatakan bahwa mereka tidak rela untuk hidup bertetanggaan dengan warga negara Indonesia yang mereka benci (beragama non-Muslim, etnis Tionghoa, dll.). Selain itu, di kampus-kampus yang seharusnya menjadi tempat dimana generasi muda belajar memahami dan menerima perbedaan malah justru dikuasai oleh kelompok-kelompok yang mengedepankan primordialisme (mengedepankan kesukuan, agama, ras). Di dunia birokrasi, faktor agama (bukan kecakapan dan prestasi kerja) menjadi penentu kemajuan jenjang karier, dll.4

Dalam situasi yang seperti itu, gereja-gereja mesti ikut berjuang untuk tetap menegakkan Pancasila sebagai dasar negara, melalui berbagai cara. Gereja mesti mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh siapapun (termasuk oleh rezim manapun) yang menegakkan Pancasila dan melakukan transformasi sosial ke arah yang lebih baik. Ke arah Indonesia yang lebih adil, makmur dan sejahtera. Oleh karena itu Sinode GKJ sejak tahun 2015 terus menyerukan dan mengajak gereja-gereja untuk peduli dan beraksi terhadap kondisi ini.

Gereja-gereja harus berani mengajak umatnya untuk secara khusus memberi perhatian dan mengamalkan Pancasila secara utuh, tidak secara parsial (terpisah-pisah) seperti yang cenderung dilakukan banyak orang saat ini.5 Karena sesungguhnya Pancasila dihasilkan dari budaya bangsa Indonesia sendiri, la berakar dari nilai-nilai religius agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan yang dianut di Indonesia,6 yaitu cinta kasih7. “Itulah mengapa ketika mencetuskan Pancasila untuk pertama kali8, Bung Karno menempatkan ketuhanan sebagai akar dari semua sila kenegaraan. Meskipun letaknya sebagai sila kelima, namun justru menjadikan ketuhanan sebagai dasar semua sila di atasnya, (sila kebangsaan, kemanusiaan, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat)”9

Tentang hal itu dengan tegas Petrus Danan Widharsana mengatakan, “Jika pancasila bertumpu pada cintakasih, bukankah Iman Katolik (baca: juga Kristen) juga bertumpu pada cintakasih” (Matius 22:37-40)? Jadi, jika kita menghayati ajaran Yesus tentang cintakasih, maka semestinya kita juga mengamalkan Pancasila. Dengan demikian, umat kristiani bisa sungguh-sungguh menjadi garam dan terang dalam hidup sehari-hari, bukan sekadar menjadi wacana khotbah dan berhenti pada ajaran dan anjuran.10

Di dalam proses transformasi yang saat ini terjadi, kita melihat adanya upaya-upaya (meski tantangannya pun besar) yang ingin meletakkan kembali kebangsaan Indonesia kepada kedudukannya yang semula. Yaitu bahwa bangsa ini adalah terdiri dari berbagai etnis, suku, agama, golongan, dlsbg. Bahwa semuanya mempunyai kedudukan yang sama dalam hukum dan HAM.

Beberapa upaya dan gerakan yang sekarang ini ada, yang mesti didukung oleh gereja-gereja dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik adalah gerakan transformasi mental dan juga upaya-upaya untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif. Dukungan dan partisipasi / keterlibatan gereja-gereja tersebut mesti dilakukan secara “positif, kreatif, kritis dan realistis”11 serta merangkul yang lain. Prinsip dan sikap inilah yang perlu terus dicamkan oleh gereja sehingga siapapun rezim yang memerintah, ada keterlibatan yang positif dan kritis dari gereja. Artinya, gereja tidak hanyut dalam partisipasi begitu saja, namun mampu memberikan masukan-masukan kritis terhadap pemerintah (sekali lagi, siapapun rezimnya) dengan terus menggerakkan warga jemaatnya untuk terlibat dalam gerakan pembaruan yang positif, kreatif dan realistik.

Adapun gerakan transformasi mental/karakter yang sekarang ini mesti dikerjakan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah gerakan transformasi karakter yang bercita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang:

  1. ber-lntegritas: jujur, dapat dipercaya
  2. ber-Etos kerja: inovatif, kreatif, mandiri
  3. ber-Gotongroyong: menghargai, solidaritas, kerjasama.

Secara konkret, diharapkan bahwa melalui gerakan tersebut akan terwujud kehidupan bersama di semua lini yang:

  1. pelayanan publiknya berintegritas (termasuk pelayanan yang dilakukan oleh gereja sebagai lembaga)
  2. orang-orangnya berperilaku hidup bersih dan sehat
  3. orang-orangnya berperilaku hidup tertib di ruang publik
  4. orang-orangnya berperilaku kreatif, inovatif dan beretos kerja tinggi
  5. orang-orangnya berperilaku saling menghargai dan gotong royong.

Cita-cita tersebut mengarah kepada terwujudnya masyarakat yang inklusif. Yaitu sebuah masyarakat yang terbuka, yang mengajak dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya untuk bergerak maju bersama. Maju untuk menuju kepada kehidupan yang lebih bermartabat, adil, saling menghargai dan saling menghormati perbedaan yang ada.

Semua itu dilakukan melalui pembangunan manusia inklusif. Yaitu pembangunan yang merata untuk semua, termasuk untuk kelompok masyarakat miskin, yang termarjinalkan (masyarakat adat dan kaum minoritas), kelompok masyarakat di daerah terpencil/wilayah perbatasan, kelompok berkebutuhan khusus (disabilitas), kaum perempuan, dsb.

Pembangunan inklusif tersebut mendorong semua kelompok masyarakat untuk berkontribusi dalam menciptakan peluang, manfaat dan partisipasi dalam pengambilan keputusan, termasuk kelompok yang memiliki keterbatasan akses terhadap pembangunan. Pembangunan Inklusif ini penting dalam rangka mencegah pertumbuhan yang diikuti oleh kesenjangan, dan juga agar kemajuan ekonomi dapat dirasakan oleh semua komponen masyarakat.

Bukankah semua itu yang menjadi cita-cita Tuhan Yesus, yaitu terwujudnya Kerajaan Allah di bumi ini?

Semua itu kalau kita kerjakan secara bersama (sekali lagi secara positif, kreatif, kritis dan realistis) akan menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan kebaikan secara bersama sebagai bangsa Indonesia. Selalu ada transformasi yang sedang dikerjakan oleh Roh Kudus di negara kita. Marilah kita ikut berpartisipasi di dalamnya. Amin.

 

[1] The definition of inclusiveness is an aura or environment of letting people in and making them feel welcome, (diunduh pada tanggal 7 Januari 2019 dari http://www.merriamwebster.com/dictionarv/inclusivitvl. Definisi lain: the quality of including many different types of people and treating them all fairly and equally (diunduh pada tanggal 7 Januari 2019 dari https: / /dictionarv.cambridee. ore /dictionary/english /inclusiven essl.

2 Pancasila yang lahir pada tanggal l Juni 1945 ternyata mengalami jatuh bangun perkembangan. Pada tanggal 22 Juni Panitia Sembilan dan kemudian disepakati oleh BPUPKI merumuskan kembali Pancasila yang kemudian oleh Moh. Yamin disebut sebagai Piagam Jakarta. Di dalam rumusan tersebut, ada tujuh kata yang ditambahkan di dalam sila Ketuhanan yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Rumusan ini muncul sebagai hasil kompromi antara kelompok yang memperjuangkan dasar negara nasionalisme dengan kelompok yang memperjuangkan dasar negara Islam. Sedangkan Pancasila yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945, sebagaimana yang kita miliki sekarang adalah yang dirumuskan kembali oleh PPKI hasil kompromi kaum nasionalis, Islam dan Kristen-Katolik. Yaitu Pancasila yang berakar atau bertitik tolak dari pidato Bung Karno yang ditetapkan pada tanggal 1 Juni 1945. Lihat: Dr. P.J. Suwarno, “Pancasila Budaya Bangsa Indonesia: Penelitian Pancasila dengan Pendekatan Historis, Filosofis dan Sosio-Yuridis Kenegaraan”, Yogyakarta: Kanisius, 1993, hal. 76-77.

 3 Pertarungan perebutan ideologi tersebut sudah terjadi sejak berdirinya negara ini sampai sekarang. Yaitu bagaimana kelompok Islam tertentu mendesakkan ideologi agamanya untuk menjadi dasar negara di Republik ini. Lihat: Dr. P.J. Suwarno, S.H., “Pancasila Budaya Bangsa Indonesia: Penelitian Pancasila dengan Pendekatan Historis, Filosofis dan Sosio-Yuridis Kenegaraan”, Yogyakarta: Kanisius, 1993, hal. 56-58,72

 4 Elwin Tobing, Indonesia Dream: Revitalisasi dan Realisasi Pancasila sebagai Cita-cita bang|p., Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2018, hal. 7.

 5 Cara melihat yang parsial tersebut yang kini cenderung terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Elwin Tobing mengatakan, “Indonesia yang jaya tidak mungkin terwujud apabila masyarakat dan bangsanya melihat, memaknai, meyakini dan memperjuangkan Pancasila secara parsial” (Ibid, hal. XVI).

 6 Yudi Latif dalam buku Petrus Danan Widharsana, “Mengamalkan Pancasila dalam terang Iman Katolik”, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, hal. 5.

 7 Yudi Latif, “Revolusi Pancasila, Bandung: Mizan Media Utama, hal. 44.

8 Dalam pidato yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila (1 Juni 1945).

 9 Ibid. Lebih lanjut tentang hal ini silakan baca: Dr. P.J. Suwarno, S.H., “Pancasila

Budaya Bangsa Indonesia: Penelitian Pancasila dengan Pendekatan Historis, Filosofis dan Sosio-Yuridis Kenegaraan”, Yogyakarta: Kanisius, 1993, hal. 48-49.

 10 Petrus Danan Widharsana, “Mengamalkan Pancasila dalam terang Iman Katolik”, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, hal. 20.

 11 H.M. Viktor Matondang, Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995, hal. 86.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN