Home » Renungan » Berani Meminta, Berani Bersyukur

Berani Meminta, Berani Bersyukur

Lukas 17:11-19

Suatu kali seorang pemuda datang pada sahabatnya dengan raut wajah suntuk. Rupanya pemuda itu sudah beberapa kali mencoba melamar kerja namun hasilnya sama, yaitu ditolak. Kepada sahabatnya si pemuda itu memohon diperbolehkan bekerja di usaha milik sahabatnya. Sabahat dari pemuda itu memiliki usaha kecil-kecilan di kotanya. Sebagai pengusaha yang melihat keberadaan sahabatnya itu, ia mengizinkan sahabatnya bekerja di tempat usahanya dengan syarat menjalankan semua aturan perusahaan. Sekalipun pemilik usaha adalah seorang sahabat, namun dalam hal kerja, semua harus mengikuti aturan. Pemuda yang tadinya tidak memiliki pekerjaan itu kini bekerja di perusahaan sahabatnya. Pada awal-awal kerja, ia tampak menjalankan semua aturan perusahaan dan rajin bekerja. Namun pada waktu-waktu berikutnya, ia mulai bolos kerja, mengabaikan peraturan bahkan melakukan korupsi. Singkat kata pemuda itu dipecat dari pekerjaannya. Ia menyesal dengan semua perbuatannya. Ia lupa saat mengiba datang pada sahabatnya dan meminta pekerjaan serta lupa mensyukuri kebaikan-kebaikan sahabatnya.

Kisah sepuluh orang kusta dalam Injil Lukas 17:11-19 mengajak kita menghayati bagaimana ucapan syukur itu mestinya menjadi kebiasaan setiap orang. Ketika Tuhan Yesus berkata “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir?” (Luk. 17:17), Ia menunjukkan betapa sulitnya orang mengucap syukur. Kadang meminta lebih mudah ketimbang mengucap syukur saat permintaan dikabulkan. Di sini kita melihat pula bahwa kadang menuntut hak lebih mudah ketimbang menjalankan kewajiban. Hal ini membuat mereka yang kerap menuntut haknya merasa tidak perlu berterima kasih dan bersyukur atas kebaikan yang mereka alami.

Di minggu kedua bulan keluarga ini, kita diajak untuk menghayati bersama kehidupan sebagai keluarga. Apa wujud ungkapan syukur kepada Tuhan atas kebaikan-Nya. Apa pula ungkapan terimakasih bagi orang-orang di sekitar kita yang telah mengasihi kita?

Bagian perikop kita ini dalam terjemahan LAI tidak ada paralelnya di Injil lain. Bukan kebetulan dalam bagian ini yang bersyukur adalah orang Samaria, dan yang tidak bersyukur adalah orang-orang (yang kemungkinan besar) Yahudi. Kalau kita mau sedikit merekonstruksi, di daerah manakah kisah ini terjadi? Di daerah Samaria rasanya tidak mungkin, karena orang-orang Yahudi pasti tidak mau tinggal di sana. Jadi yang lebih mungkin adalah orang Samaria yang menderita kusta itu bergabung dengan orang-orang Yahudi yang sama-sama terkena kusta, mungkin di daerah dekat perbatasan, atau lebih ke arah daerah Yahudi. Saat mengalami kesembuhan di tengah perjalanan, orang Samaria itu bersyukur dan menjumpai Yesus, namun orang Yahudi tidak melakukannya.

Orang Yahudi sangat menjunjung tinggi “kekudusan”, baik itu kekudusan Allah maupun kekudusan diri. Makanya ada tingkatan/derajat yang paling kudus s/d kafir, najis dan haram. Contoh mulai dari yang paling kudus sampai dengan yang kafir, najis, haram:
1) Bait Suci: ada ruang Maha Kudus – Ruang Kudus – Pelataran
2) Kota/tempat: Yerusalem – kota-kota lain di Israel – Samaria dan kota lain di luar Israel sifatnya ‘najis’
3) Binatang: ada binatang halal – haram. Dari yang halal, ada yang layak untuk dijadikan korban, dan yang tidak layak.
4) Manusia: Para Imam – Kaum Lewi – Umat Israel “totok” – para petobat – bekas budak – para imam “non job” (anak-anak tidak sah dari para imam) – budak-budak di Kenisah – anak-anak tidak sah – mereka yang mengalami masalah dalam organ reproduksinya.

Bagaimana dengan orang “pinggiran” (dipinggirkan/ dimarginalkan) seperti orang kusta, buta, pincang, dll.) Mereka dianggap bukan orang Yahudi sejati dan suci. Khusus dalam hal kusta, penyakit kusta menyebabkan kekacauan pada margin tubuh dan itu menajiskan, dan bahkan mengalami keadaan paling berat, dikucilkan, dinajiskan.

Dikatakan dalam bagian ini, orang-orang kusta berdiri agak jauh, karena memang ada hukum yang mengatakan bahwa mereka harus bersikap seperti itu, yakni tidak bisa dekat-dekat dalam berelasi dengan sesama mereka. Jarak yang jauh ini sangat menyiksa kehidupan orang-orang penderita kusta ini. Hal ini bukan hanya sekedar persoalan sakit penyakit yang sepertinya sudah tidak mungkin bisa sembuh, tetapi terutama pada keterisolasian, keterputusan relasi. Penderitaan mereka tidak sekadar fisik, tetapi juga psikis (dianggap berdosa besar), sosial (disingkirkan/dikucilkan), dan juga secara religius/agama (tidak bisa menjalankan ritus agama di tempat ibadah bersama sesamanya).

Orang yang menderita kusta sudah dianggap “mati”, karena sangat terisolasi dari sesamanya orang-orang Yahudi, juga terisolasi dari kehadiran Tuhan, Bait Suci. Semua hak yang dimilikinya seperti dicabut. Orang-orang kusta ini terasing, seperti di-exile, dibuang, seperti seolah-olah masuk di dalam masa pembuangan lagi. Orang-orang kusta ini adalah orang-orang yang sangat miskin relasi dan mereka hanya berelasi dengan orang-orang yang menderita penyakit yang sama. Mereka dijauhi oleh orang-orang yang normal, dan mereka “mengalami kematian itu setiap hari”. Di dalam keadaan seperti ini, wajar kalau kita membaca kemudian mereka tidak bisa mengharapkan banyak hal kecuali belas kasihan. Oleh sebab itu ketika mereka mendengar dan melihat kehadiran Yesus, mereka merasa tidak ada ruginya untuk mencoba mendapatkan belas kasihan Tuhan.

Dalam bagian ini Yesus memang tergerak oleh belas kasihan dan Dia tidak berkata banyak, hanya sebentuk kalimat yang menguji iman, “pergilah, perlihatkan dirimu kepada imam-imam”. Di sini Yesus sama sekali tidak menyebutkan istilah sembuh. Yesus juga tidak segera menyembuhkan mereka, lalu setelah sembuh silahkan mereka pergi menuju kepada imam-imam (supaya dinyatakan sembuh – kudus – layak untuk diterima dalam masyarakat dan Rumah Ibadah). Kita tahu akhirnya tidak semuanya mengalami keselamatan yang sejati dari Tuhan, hanya orang Samaria ini yang dicatat akhirnya mengalami keselamatan yang sejati.

Seringkali di dalam kehidupan kita, kita diminta oleh Tuhan untuk pergi terlebih dahulu dan kemudian kita baru melihat atau menyaksikan bukti/konfirmasi penyertaan Tuhan di dalam kehidupan kita. Sebagai contoh waktu Naaman diminta oleh Elisa untuk mandi 7 kali dalam sungai Yordan sehingga tubuhnya akan dipulihkan kembali. Tanda ajaib ini ditaruh dibelakang, artinya: terjadi setelah mereka menaati apa yang diperintahkan. Ini sesuatu yang brilian, tetapi seringkali kita tidak mau seperti ini, kita merasa agak insecure (tidak aman), tidak yakin, kalau diberikan tanda seperti ini. Kita maunya tanda di depan, kalau tanda tidak jelas, kita tidak mau bergerak. Tetapi di dalam Alkitab seringkali bukan seperti itu, termasuk juga dalam bagian ini, Yesus mengatakan, “pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam”; dan juga “mandilah 7 kali di sungai Yordan”. Ini bisa menjadi sebuah ujian iman. Mereka menjadi tahir di dalam perjalanan dan di dalam proses ketaatan.

Tapi waktu kita membaca di dalam cerita ini, kemudian kita melihat bahwa walaupun semuanya sembuh, semuanya tahir, hanya satu yang waktu melihat bahwa dia tahir, disembuhkan, lalu mengambil keputusan untuk kembali, memuliakan Allah, tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang ini kembali, merayakan relasi dengan Yesus, yang tadinya hanya bisa berdiri agak jauh. Menarik, bukan ke Yerusalem, bukan ke tempat lahiriah itu, tetapi kepada Yesus Kristus.

Allah adalah Allah yang maha murah dan Maha Kasih, maka Allah selalu menyediakan dan memberikan segala sesuatu di dalam kehidupan kita. Kitapun juga bangga memiliki Allah yang seperti itu. Oleh karenanya kita selalu memohon berkat dalam kehidupan kita kepada Allah kita. Namun demikian, ketika kita telah menerima apa yang kita perlukan, kita lupa untuk mengucap syukur atas kebaikan Allah itu dalam kehidupan kita.

Keluarga masa kini berjumpa dengan berbagai realitas. Ada kalanya mengalami kegembiraan, ada kalanya sebaliknya. Di tengah berbagai situasi itu keluarga telah berpengalaman bersama Allah. Allah yang diyakini adalah Allah Sang Immenuel. Ia menyertai kehidupan umat agar dapat tetap bersama mengayuh biduk keluarga supaya berani menjalankan gumul dan juang di tengah samudra raya kehidupan yang terus berubah. Atas hal itulah sepantasnya setiap keluarga yang berani meminta dan berani bersyukur kepada Allah. Amin.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Latihan Macapat “SWARA LANGEN GITA” : Senin 18 November 2019 jam 16.00 WIB

Persekutuan Doa Pagi : Rabu 20 November 2019 jam 04.30 WIB

Dialog Teologis Seputar Kristologi bersama Dr. Bambang Noorsena, M.H : Sabtu 30 November 2019 jam 16.00 WIB di GKJ Wonosari

Jadwal PA Wilayah/Panthan  >> 11 – 16 November 2019 <<