Home » Renungan » Berjuang dalam Doa dan Karya

Berjuang dalam Doa dan Karya

(Kolose 2:6-19 ; Lukas 11:1-13)

Perjuangan adalah sebuah keniscayaan yang harus dijalani manusia di tengah kehidupan. Tanpa perjuangan, manusia tidak akan mampu keluar dari setiap pergumulan hidupnya dan juga akan sulit untuk meraih setiap harapannya di masa depan. Bagi umat Kristen semboyan “Ora et labora”(berdoa dan bekerja) menjadi salah satu prinsip utama dalam menjalani proses kehidupannya di dunia,namun sayangnya dalam menerapkan prinsip ini umat Kristen seringkali bersikap ‘pasif’ dan bahkan ‘membabi buta’. ‘Kepasifan doa’ itu bisa nampak dalam suasana ketidakberdayaan umat untuk menerima jawaban/tanggapan Tuhan, sehingga menerima begitu saja setiap jawaban Tuhan atas doanya. Seakan-akan tidak ada daya juang yang ditunjukkan umat lewat kengototannya dalam meminta kepada Tuhan (berdoa). Di sisi lain, sikap keras kepala dalam meminta kepada Tuhan jangan sampai membuat umat terjatuh pada kesombongan rohani. Merasa bahwa umat mampu tawar menawar dengan Tuhan maka bisa menentukan arah keputusan dan jawaban Tuhan. Doa bukanlah tujuan utama, melainkan sarana bagi umat untuk menghayati relasinya bersama Tuhan. Berjuang dan memperjuangkan apa yang didoakan adalah wujud kemelekatanrelasi antara umat dengan Tuhan.

Dalam surat pastoralnya kepada jemaat Kolose, Paulus menasehati supaya jemaat Kolose mampu mempertahankan imannya. Bagi Paulus, menerima Kristus sebagai Jurusélamat tidak berarti menjadikan jemaat bebas dari godaan dan ancaman. Justru yang terjadi sebaliknya, jemaat akan menghadapi berbagai macam persoalan yang bisa saja merenggut iman mereka kepada Kristus. Di sini Paulus menyinggung tentang ajaran-ajaran kosong dan palsu yang bisa mempengaruhi dan menggoyahkan iman jemaat. Sélain itu budayadan tradisi (dalam suratnya Paulus memberi contoh tentang hal sunat) yang diterapkan secara ketat dan kaku bisa melunturkan pemahaman kesélamatan yang berpusat pada Kristus. Dalam menghadapi persoalan ini, Paulus menasehati supaya jemaat senantiasa waspada terhadap segala ancaman dan godaan itu serta berani menghadapinya. Godaan dan ancaman dilihat sebagai sarana untuk menumbuhkan iman kepada Kristus.

Pengajaran Yesus tentang hal berdoa dilatar belakangi oleh keinginan para murid supaya mereka juga diajarkan berdoa sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Dari sinilah lahir rumusan Doa Bapa Kami yang biasa diucapkan oleh umat. Doa Bapa Kami versi Lukas memang lebih pendek dibandingkan versi Matius. Namun jika kita membaca pengajaran Yesus tentang hal berdoa versi Lukas, ternyata tidak hanya berhenti pada rumusan kata ataupun cara berdoa saja. Lebih dalam dari itu, Yesus mengajarkan bahwa doa adalah sebuah perjuangan keras manusia dalam meminta kepada Tuhan. Bukan semata-mata ‘status relasi’ yang dekat saja. Dari penggambaran tentang seseorang yang pada tengah malam meminta roti kepada sahabatnya, Yesus secara tidak langsung mengkritik pemahaman bahwa ‘status relasi’ antara manusia dengan Tuhan dapat mempengaruhi dikabulkan atau tidaknya sebuah permohonan (doa). Sebab dalam gambaran tersebut dengan gamblang Yesus mengatakan bahwa bukan karena orang itu adalah sahabatnya kemudian mau memberi, tetapi karena sikapnya yang tidak malu sehingga diberikanlah apa yang menjadi keperluannya.

Berjuang menjadi sikap utama dalam hal berdoa.Memintadengan berbagai cara bahkan pula sampai mengorbankan harga dirinya (tidak tahu malu). Mengapa hal ini menjadi penekanan dalam hal berdoa? Karena hakekat berdoa bukan terletak pada tujuannya, melainkan setiap proses yang mengiringi sampai pada tujuan dalam doa itu tercapai.Sikaptidak pernah lelah dan bosan dalam berdoa dengan pokok yang sama memperlihatkan keuletan seseorang dalam meminta kepada Tuhan. Meskipun Yesus mengajarkan tentang upaya keras dalam berdoa, tetapi Ia juga mengingatkan tentang kehendak Bapa di sorga. Hal ini untukmenyadarkan agar seseorang tidak terjatuh pada kesombongan rohani. Merasa bisa ‘mengatur dan meminta” Tuhan dengan sikap doanya yang memperlihatkan kesungguhan dan tidak tahu malu. Memang kita harus mencari dan meminta kepada Tuhan,tetapi apa yang diberikan Tuhan kepada kita itulah yang menjadi kehendak bebas Tuhan. Sebab kita sendiri tidak tahu apakah yang kita minta itu ikan atau ular, telur atau kalajengking. Kita tidak tahu apa yang sungguh baik bagi hidup kita di masa mendatang. Tuhan yang mengerti dan tahu akan masa depan kita sehingga Ia akan memberikan yang terbaik bagi hidup kita.

Setiap keinginan dan harapan haruslah diperjuangkan oleh manusia. Berdoa dan berkarya menjadi prinsip utama orang percaya untuk memperjuangkan kehidupan. Kesungguhan dan keuletan tidak hanya sekedar ditunjukkan lewat karya saja, tetapi juga dalam berdoa. Begitu pula sebaliknya. Berani menghadapi dan melewati setiap persoalan hidup adalah tanggung jawab dari setiap orang percaya. Bukan hasil akhir yang menjadi tujuan utama bagi orang percaya dalam berjuang, melainkan proses demi proses yang akan membentuk dan menumbuhkan iman. Tuhan senantiasa memperhatikan perjuangansetiap orang percaya. Tuhan juga yang memberikan kekuatan kepada setiap orang percaya sehingga mampu menjalani persoalan hidup dan mensyukuri segala sesuatu yang Tuhan berikan. Amin

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN