Home » Renungan » Bermegah di dalam Tuhan

Bermegah di dalam Tuhan

I Korintus 1:18-31; Matius 5:1-12

”Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:9). Tidak terbantahkan bahwa hikmat Tuhan jauh melebihi hikmat manusia. Manusia penuh keterbatasan, sementara Tuhan melampaui segalanya. Apa yang dibanggakan manusia tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Umumnya manusia membanggakan diri, kepandaian, kekayaan, jabatan, atau keelokannya. Namun, semua itu tidak berarti apa-apa di hadapan Tuhan. Manusia mengutamakan penampilan, tetapi Tuhan memperhatikan isinya.

Begitu juga ketika berbicara soal kebahagiaan dan ukuran kebahagiaan. Manusia mengukur kebahagiaan berdasarkan kesenangan duniawi. Orang yang berbahagia adalah mereka yang bisa memenuhi segala keinginannya. Orang yang berbahagia adalah orang yang selalu sehat, kuat, dan panjang umur. Orang yang berbahagia adalah orang yang sukses dalam pekerjaan dan cinta. Orang yang berbahagia adalah orang yang perjalanan hidupnya lancar, tidak mengalami masalah-masalah berat. Sebaliknya, kebahagiaan dalam pandangan Tuhan Yesus berbeda dengan itu semua. Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa mengarahkan hati dan hidupnya kepada Tuhan.

Tuhan menghendaki agar kita hidup rendah hati di hadapan-Nya. Firman Tuhan menyadarkan kita bahwa kemegahan, kebesaran, dan kehebatan kita bukan terletak pada diri kita sendiri, melainkan pada Tuhan yang mengasihi kita. Karena itu, tidak sepantasnya kita menyombongkan diri dan membanggakan harta atau pun jabatan yang kita miliki. Selayaknya kita hanya bermegah di dalam Tuhan, yaitu bersyukur atas kasih Tuhan, mengandalkan Tuhan dalam segala hal, serta hidup seturut kehendak-Nya.

I Korintus 1:18-31
“Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah” (ayat 24) menjadi pokok perikop ini. Paulus menyadari bahwa pemberitaan tentang Kristus menjadi bahan cemoohan orang yang tidak percaya. Orang-orang Yahudi umumnya tidak percaya bahwa Yesus adalah Kristus (Mesias, Yang diurapi Allah untuk maksud penyelamatan). Karena itu pemberitaan tentang Kristus menjadi sandungan bagi iman mereka. Sedangkan bagi orang bukan Yahudi, pemberitaan tentang Kristus, yang menderita sengsara, mati di atas kayu salib, dan dibangkitkan, adalah kebodohan. Sejatinya memang manusia tidak bisa menyelami maksud Allah. Hikmat Allah terlalu tinggi bagi manusia. Menurut Paulus, Kristus adalah hikmat dan kekuatan Allah. Kristus adalah wujud kebijaksanaan Allah untuk menyelamatkan orang berdosa. Apa yang dianggap bodoh oleh dunia itu dipakai Allah untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Matius 5:1-12
Perkataan-perkataan Yesus dalam bagian ini merupakan pengajaran yang sulit dipahami. Perkataan Yesus bertolak belakang dengan yang dipikirkan manusia. Orang yang berbahagia menurut Yesus, justru dilihat sebagai orang-orang yang jauh dari kebahagiaan oleh dunia. Dunia melihat kebahagiaan terletak pada kekayaan berlimpah, kekuasaan untuk menentukan apa saja, terhindar dari segala keprihatinan, aman dari gangguan dan penganiayaan.

Kelemahlembutan, kejujuran, membela kebenaran, kemurahan hati justru bisa menyusahkan manusia itu sendiri. Bukankah kenyataan hidup memperlihatkan bahwa orang yang mengutamakan hal-hal itu malah menjadi bulan-bulanan dari berbagai penderitaan? Apalagi orang miskin, orang yang lemah, mereka selalu dijadikan obyek penderita di dunia ini.

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah…”. Orang yang demikian menyadari “kemiskinannya” di hadapan Tuhan. Dia sadar bahwa dirinya penuh keterbatasan dan kepandaiannya tidak berarti apa-apa dibandingkan hikmat Tuhan. Oleh karena itu, dia tidak berani mengandalkan kehebatannya sendiri, melainkan memohon pertolongan dan belas kasih Tuhan.

Kita perlu rendah hati untuk memahami maksud Tuhan dalam hidup kita. Tuhan menghendaki agar kita mengarahkan hidup pada-Nya. Kita diajarkan untuk tidak mengandalkan kekuatan sendiri melainkan bersandar pada kasih Tuhan. Orang yang berbahagia adalah orang yang taat dalam segala keadaan dan selalu mengandalkan Tuhan.

Tuhan adalah satu-satunya sumber hikmat dan kebahagiaan. Orang percaya harus menjalani hidup berdasarkan hikmat Tuhan, bukan mengandalkan hikmat diri sendiri dan hikmat dunia. Hikmat Tuhan menuntun orang percaya untuk memahami betapa lebar, dalam, dan tingginya kasih Tuhan. Pengenalan akan Tuhan dan kasih-Nya itulah yang mendorong setiap orang percaya bermegah di dalam Tuhan. Bermegah di dalam Tuhan adalah sikap bersyukur kepada Tuhan serta senantiasa bersandar dan berbakti kepada Tuhan. Amin.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN