Home » Renungan » Dimana Hartamu, Disitulah Jiwamu

Dimana Hartamu, Disitulah Jiwamu

(Kolose 3:1-13; Lukas 12:13-21)

Banyak orang menghendaki supaya hidupnya berkelimpahan dengan materi. Siapa yang tidak tergiur dengan kekayaan dan kenikmatan duniawi? Manusia modern sekarang ini sudah dipengaruhi gaya hidup hedonisme dan konsumerisme. Tanpa sadar, gaya hidup semacam inilah yang menyeret manusia memiliki hidup yang berorientasikan materi. Segala sesuatu diukur dengan materi. Orang bekerja tidak lagi memiliki orientasi sebagai panggilan hidup tetapi sudah mengarah pada materi. Tidak heran jika korupsi merajalela. Tanggung jawab utama terhadap pekerjaan diabaikan. Persahabatan juga diukur dengan materi,. sehingga ketulusan dan pengorbanan tidak hadir dalam persahabatan itu. Lebih disayangkan lagi jika kehidupan persekutuan di gereja juga selalu diukur dengan materi. Pelayanan di gereja tidak dijalani dengan sukacita dan pengorbanan, tetapi sudah memiliki kepentingan (terselubung) untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Hidup bukanlah semata-mata untuk dan demi materi. Manusia memang harus bekerja demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Namun yang mesti diperhatikan adalah segala hasil capaiannya itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan hidup bersama (keluarga dan sesama). Di hadapan Tuhan, harta kekayaan yang dimiliki manusia tidaklah ada artinya. Peristiwa kematian sebenarnya menegaskan kepada manusia bahwa segala sesuatu yang ia kerjakan dalam hidup ini pada akhirnya akan selesai. Apakah segala upaya dan hasil dari kerjanya itu berdampak baik bagi kehidupan sesama? Sebab di hadapan kematian, harta kekayaan itu akan tidak lagi bermakna.

Mengupayakan diri untuk bisa hidup menjadi keniscayaan bagi manusia. Tetapi kemelekatan diri pada kehidupan dunia akan menjadi hal berbahaya. Terlebih jika manusia memperjuangkan hidupnya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan panggilan hidupnya sebagai umat Tuhan. Untuk itulah Rasul Paulus memberi nasihat agar umat Tuhan menjauhisegala bentuk kemelekatan hidup pada dunia ini.

Paulus menjelaskan bahwa ketika umat Tuhan percaya pada Kristus maka mereka sudah masuk pada hidup baru. Namun yang harus disadari adalah status ‘hidup baru’ tadi harus dipelihara. Ungkapan: “Lebih mudah membangun daripada memelihara dan lebih mudah membeli daripada merawat” sangat tepat. Umat Tuhan harus berjuang melawan setiap hal dalam kehidupan dunia yang bisa merusak kehidupan barunya itu. Umat Tuhan harus secara sadar berusaha menepis keinginan-keinginan untuk kembali ke kehidupan mereka yang lama. Paulus menyebutkan bahwa percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan (penyembahan terhadap berhala materi), kemarahan, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor adalah tindakan-tindakan yang harus dibuang. Sepanjang hidup di dunia, umat Tuhan mesti berusaha untuk mentransformasi diri. Di dalam Kristus, kita sudah menjadi manusia baru yang akan terus menerus memperbarui diri.

Ketika membaca teks ini seringkali muncul stereotip tentang orang kaya. Ketamakan selalu dituduhkan kepada orang-orang kaya. Padahal sifat tamak itu ada pada setiap manusia. Tidak hanya orang kaya dan orang yang berkuasa saja, orang miskin dan tidak berkuasa sekalipun memiliki kecenderungan untuk menjadi tamak. Meskipun Yesus menempatkan orang kaya dalam perumpamaan ini, bukan berarti Ia menyudutkan kelompok kaya. Pengajaran Yesus tentang bahaya ketamakan ini bermula dari permintaan seseorang agar Yesus menyuruh saudaranya berbagi warisan dengannya. Sepertinya Yesus enggan masuk pada urusan harta warisan, sekalipun ditengarai ada ketidakadilan dalam pembagiannya.

Jawaban Yesus sangat jelas bahwa diri-Nya bukanlah hakim atau perantara dalam persoalan warisan. Permintaan orang tadi menjadi pintu masuk bagi Yesus untuk memberi pengajaran tentang bahaya ketamakan. Yesus menuturkan tentang arah hidup manusia yang seharusnya lebih mengandalkan pemeliharaan Tuhan daripada harta duniawi. Hal ini digambarkan melalui perumpaan tentang orang kaya. Orang kaya ini mengira bahwa hidupnya ditentukan oleh kekayaannya. Ia berpikir bahwa dengan membuat lumbung yang lebih besar untuk menyimpan gandum dan semua harta kekayaannya, hidupnya akan menjadi aman dan tenteram. Bagi Yesus, tindakan ini adalah sia-sia. Yesus pun menyebut orang kaya tadi bodoh sebab ia bergantung penuh pada harta kekayaannya. Ia membiarkan dirinya dibodohi oleh harta. Yesus mengingatkan bahwa, di hadapan Tuhan, harta kekayaan yang dimiliki manusia tidak ada artinya. Kekayaan tidak akan dibawa sampai mati. Ada pepatah yang menyebutkan, ‘Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama’. Setelah orang meninggal, yang diingat bukan hartanya, melainkan perbuatan-perbuatan selama ia hidup. Sudah menjadi keharusan bagi setiap manusia bekerja atau mengumpulkan harta, karena hal ini dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Yang mesti diwaspadai adalah sikap hidup yang menggantungkan diri kepada harta kekayaan serta memberhalakan harta.

Hidup yang penuh kebahagiaan menjadi harapan setiap orang. Sayangnya ukuran kebahagiaan sering terikat dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kekayaan, kehormatan, dan kedudukan sering menjadi ukuran utama kebahagiaan. Pandangan inilah yang kemudian melahirkan sikap tamak dan sombong dalam diri manusia. Ukuran bahagia tidak terletak pada segala yang dimiliki dan didapat manusia. Jika seseorang memiliki kekayaan dan kedudukan apakah lalu disebut bahagia? Atau sebaliknya, jika orang itu miskin, apakah kemudian disebut tidak bahagia? Kebahagiaan adalah proses olah batin dalam rangka mensyukuri setiap usaha dan segala sesuatu yang dimiliki. Kekayaan, kedudukan, dan segala sesuatu yang melekat dalam hidup di dunia ini pada akhirnya akan terlepas ketika kematian menjemput. Oleh karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk senantiasa hidup bersandar pada Allah Sang Sumber Kehidupan.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN