Home » Renungan » Keluarga Yang Membawa Keadilan

Keluarga Yang Membawa Keadilan

Markus 10:17-31

Ibarat sebuah perjalanan hidup, maka keadilan tak hanya perlu dibela namun juga dibawa dalam kehidupan atau dihidupi. Dalam konteks ini diharapkan barangsiapa yang membawanya pasti ia memilikinya. Maksudnya, keadilan harus dimiliki dan senantiasa dihidupkan sehingga mampu dirasakan bagi orang lain. Maka keadilan yang berisikan nilai-nilai kemanusiaan itu harus disentuh dalam lingkup kasih Tuhan. Dari berbagai teks kita Minggu ini ditegaskan bahwa Tuhan adalah pembela keadilan, bahkan Tuhanlah Sang Pemilik Keadilan itu. Dan kita diutus-Nya sebagai orang-orang yang membawa keadilan di tengah-tengah kehidupan dunia. Yang itu harus dimulai dari keluarga. Oleh karena itu, mari menjadi keluarga yang membawa keadilan.

Percakapan antara orang kaya dan Tuhan Yesus ini menghadapkan pembaca pada pilihan antara dua pola hidup. Yang pertama ialah berusaha hidup taat kepada tuntutan hukum dan tidak melanggar hak sesama manusia. Yang kedua ialah penyerahan diri kepada penyelenggaraan ilahi dan bimbingan Yesus, sambil melepaskan segalanya yang bisa menjadi halangan, khususnya harta kekayaan. Harta hendaknya diabdikan kepada orang yang berkekurangan. Cara hidup yang berserah kepada Tuhan ini akan membuka hubungan baru dengan sesama manusia: bukan hanya tidak melanggar haknya, tetapi hidup berbelas kasih serta berbagi dan solider dengannya.

Dalam Ibrani 4:12-16 dikatakan bahwa Firman Tuhan itu jauh lebih kuat dan tajam dari pedang bermata dua mana pun. Sanggup memisahkan jiwa dan roh; sumsum dan tulang. Sebab Firman Allahlah yang menjadikan segala sesuatunya, maka rahasia tentang segala sesuatunya juga ada pada Firman Allah. Dengan demikian tidak ada sesuatu apa pun yang dapat disembunyikan dari Tuhan. Tuhan mengenal kita secara menyeluruh, bahkan setiap helai rambut kita pun terhitung semuanya. Kekuasaan yang Maha Tinggi ini tak tertandingi dan tak terlampaui semakin menguatkan makna kebesaran TUHAN dalam Firman-Nya.

Firman yang telah menjadi manusia dan diam di antara kita (bandingkan Yoh 1:14), yang adalah Yesus Kristus, semakin kental hendak menunjuk kemahabesaran Kristus sebagai Imam Besar Agung yang telah melintasi segala langit. Kemahabesaran itu tak hanya dibatasi oleh tembok- tembok istana indah kerajaan Allah, namun justru melampaui itu semua. Ia “diam di antara kita” menjelaskan tentang kehadiran Kristus bersama dengan kita umat-Nya. Ia rela mengosongkan diri dan hidup bergaul bersama dengan kita orang berdosa. Tak hanya hadir bersama melainkan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh manusia. Firman itu hidup dan ada di antara kita, sehingga kita telah memiliki kuasa Allah yang besar dari sorga yang hidup, kuat dan ada bersama kita.

Kini, Kristus telah menyatu bersama dengan kita. Ia berkenan memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap bertahan melanjutkan perjalanan keselamatan yang menentukan hidup kita pada arah benar. Kesatuan ini adalah anugerah yang tak terukur. Ia yang adalah Firman yang tak tertandingi ada di pihak kita. Kita memang tidak hebat, tetapi Tuhan yang menyatu dengan kita adalah hebat.

Pola hidup seperti itu sulit, bahkan mustahil bagi manusia yang cenderung mempertahankan nyawanya sendiri. Harta kekayaan bila menjadi andalan orang, menjadi penghalang untuk mengikuti Yesus dan menyambut Kerajaan Allah. Bukan hanya kekayaan tetapi juga banyak hal yang lain (seperti: kedudukan, kekuasaan, gengsi) yang menjadi rintangan bagi para murid dan bagi kita untuk mengikuti Yesus dan menyerahkan diri kepada belas kasih Allah. Kita hanya dapat mengharapkan rahmat Allah yang mampu mengerjakan dalam diri kita apa yang mustahil kita lakukan sendiri.

Contohnya adalah murid-murid Yesus. Biarpun sebagai manusia mereka masih bermimpi tentang kebesaran, kemenangan, dan kekuasaan, namun berkat sabda panggilan Tuhan mereka telah dapat meninggalkan jala, perahu, rumah, sanak saudaranya, lalu mengikut Yesus. Karena rahmat panggilan Tuhan, mereka dan kita sudah masuk ke dalam Kerajaan Allah dan mulai mengalami aneka berkatnya di dalam keluarga baru jemaat Tuhan. Segala berkat dalam keluarga baru itu tidak dapat diambil dari kita, juga tidak di tengah kesusahan dan derita yang sebagai pengikut dan utusan Kristus masih kita alami sekarang

Mari kita menyediakan diri untuk bersekutu dengan Allah. Bersekutu dengan Tuhan Yesus yang adalah Imam Besar Agung. Imam Besar yang turut merasakan kelemahan-kelemahan kemanusiaan kita bahkan juga telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa (Ibrani 4:14-15). Jika demikian, tak ada yang perlu kita takutkan. Mari menjadi pembawa keadilan, dimulai dari komunitas yang paling kecil, yaitu keluarga. AMIN.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN