Home » Bahan PA » Materi PA (11-16 Oktober 2019)

Materi PA (11-16 Oktober 2019)

Jalani Saja Dulu
(Lukas 20:27-38)

Pertanyaan Pembuka
• Pernahkah jemaat memiliki atau mendengarkan pertanyaan seputar agama yang membuat dirinya mempertanyakan kebenaran? (diberikan waktu untuk berbagi)

Siapa Orang Saduki?
Kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan religius Bangsa Yahudi sangat majemuk. Ada golongan yang dikelompokkan pekerjaan serta pendapatan, berdasarkan keberadaannya sebagai rohaniawan, atau pun berdasarkan pandangan serta sikap mereka terhadap pemerintah. Salah satu dari berbagai macam golongan tersebut adalah orang-orang Saduki. Nama Saduki merupakan nama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka yakni Sadok.

Orang-orang Saduki termasuk golongan yang terhormat dan berada. Para imam besar dan imam kepala biasanya termasuk golongan dari orang-orang Saduki. Maka dari itu mereka mendapat bagian dari persembahan yang diberikan oleh rakyat. Bahkan beberapa mereka juga menjadi tuan tanah. Orang-orang Saduki biasanya berada di daerah Yerusalem yang semakin meneguhkan keberadaan mereka sebagai kaum rohaniawan elit.

Pemahaman religius orang-orang Saduki berbeda dengan orang-orang Farisi. Orang-orang Saduki hanya menerima Taurat Musa (Pentateukh) sebagai pegangan. Mereka menolak bagian-bagian lain dari Alkitab, serta tafsir-tafsir yang dituliskan oleh Para Ahli Alkitab. Mereka tidak percaya dengan konsep kebangkitan, keberadaan roh-roh serta para malaikat, dan mereka bersifat matrealis.

Orang Saduki turut menguji
Keberadaan dan ajaran Tuhan Yesus bukan hanya menarik perhatian orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Orang-orang Saduki yang merupakan kaum elit pun menaruh perhatian kepada keberadaan Tuhan Yesus. Dalam Lukas 20 diceritakan mengenai keberadaan para rohaniawan Yahudi yang memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji Tuhan Yesus. Tetapi tantangan berupa pertanyaan-pertanyaan tersebut justru ditanggapi dengan sangat cerdas oleh Tuhan Yesus.

Orang-orang Saduki memberikan pertanyaan berkaitan dengan kebangkitan. Pertanyaan ini hanya bisa diberikan oleh orang-orang Saduki, karena golongan merekalah yang secara terbuka menyatakan tidak percaya dengan kebangkitan setelah kematian. Contoh kasus yang diberikan oleh orang-orang Saduki berdasarkan peraturan yang dituliskan dalan Ulangan 25:5 25 yakni “Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar.”

Pertanyaan yang kemudian disampaikan adalah “siapa yang akan menjadi suami perempuan itu setelah masa kebangkitan?” Pertanyaan yang disampaikan oleh orang-orang Saduki tampak seperti mereka menertawakan konsep mengenai kebangkitan. Walaupun contoh kasus yang diceritakan terdengar aneh, tetapi hal itulah yang memang dituliskan di dalam Taurat Musa. Jika tidak berhati-hati dalam menjawab, Tuhan Yesus beresiko dituduh tidak taat kepada Taurat atau merendahkan Taurat.

Tuhan Yesus Menjawab dan Mengajar
Untuk menanggapi pertanyaan jebakan dari orang-orang Saduki, Tuhan Yesus memberikan jawaban yang sekaligus meluruskan kesesatan berpikir mereka. Jawaban pertama terdapat dalam Lukas 20:34-36 yakni kehidupan karena dibangkitkan oleh Tuhan berbeda dengan kehidupan yang saat ini kita jalani. Kehidupan setelah kematian bukanlah kesempatan kedua manusia, melainkan anugerah dari Tuhan untuk hidup bersama dengan Tuhan dalam keabadian. Maka dari itu konsep kehidupan di dunia dan kehidupan setelah kematian jauh berbeda.

Jawaban pertama Tuhan Yesus mengingatkan bahwa setiap manusia memang memiliki kesempatan untuk hidup di dunia, tetapi tidak semuanya memiliki kesempatan untuk hidup dalam keabadian bersama dengan Tuhan. Hanya mereka yang layak di hadapan Tuhan yang akan menerima kehidupan kekal tersebut. Mudahnya, “memangnya yakin 8 orang tadi (satu perempuan dan tujuh suaminya) seluruhnya akan mendapatkan hidup kekal?” Selain itu konsep berpikir, tujuan, dan cara hidup manusia di dunia tentu berbeda dengan manusia yang dibangkitkan. Apa yang saat ini prioritas, belum tentu berharga di dalam kekekalan.

Jawaban kedua Tuhan Yesus berada dalam Lukas 20:37-38 mengenai kebenaran mengenai kebangkitan. Tuhan Yesus mengetahui bahwa orang-orang Saduki tidak percaya dengan konsep kebangkitan. Demi meluruskan kesalahpahaman itu, Tuhan Yesus menggunakan kisah dalam Taurat Musa yang sangat dihormati dan dipercayai oleh orang-orang Saduki.

Dalam perjumpaan Tuhan dengan Musa, Tuhan menyatakan bahwa diri-Nya adalah Allah orang hidup. Jika semua orang di dunia ini mati dan tidak pernah dibangkitkan, maka Allah menjadi Allahnya siapa? Maka dari itu Tuhan Yesus menegaskan bahwa untuk Allah, bagi Allah, dan di hadapan Allah semua manusia hidup. Kata Yunani yang digunakan untuk adalah pantes yang berarti seluruhnya, semuanya, seutuhnya. Dengan demikian, seluruh manusia, baik yang hidup maupun mati, selama mereka manusia, maka hidup di hadapan Allah.

Pertanyaan Refleksi
• Apa yang menjadi pemahaman baru setelah membaca percakapan Tuhan Yesus dan orang Saduki?
• Apa yang jemaat hayati dari percakapan Tuhan Yesus dan orang-orang Saduki?
• Apa yang ingin dilakukan setelah menghayati percakapan tersebut?

Penutup
Di dunia ini ada begitu banyak hal yang tidak diketahui oleh manusia. Salah satu yang terbesar di antaranya adalah perihal kematian. Kematian adalah misteri yang sangat besar, yang hingga kini belum bisa dianalisa secara sempurna oleh manusia. Penyebabnya, waktu kedatangannya, caranya, dan masih banyak lagi. Lalu bagaimana mungkin manusia yang tidak memahami mengenai kematian dapat memahami mengenai kehidupan setelah kematian? Maka, jalani saja dulu kehidupan yang dianugerahkan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya di hadapan Tuhan. Hingga pada waktunya kita dilayakkan untuk hidup bersama Tuhan dalam kekekalan.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Latihan Macapat “SWARA LANGEN GITA” : Senin 18 November 2019 jam 16.00 WIB

Persekutuan Doa Pagi : Rabu 20 November 2019 jam 04.30 WIB

Dialog Teologis Seputar Kristologi bersama Dr. Bambang Noorsena, M.H : Sabtu 30 November 2019 jam 16.00 WIB di GKJ Wonosari

Jadwal PA Wilayah/Panthan  >> 11 – 16 November 2019 <<