Home » Bahan PA » Materi PA 22-27 Oktober 2018

Materi PA 22-27 Oktober 2018

“BETAPA MISKINNYA KITA”
(Amsal 19:1-8)

1. DOA PEMBUKA
2. PENGANTAR PA

“Betapa Miskinnya Kita”

Suatu hari, seorang ayah yang berasal dari keluarga kaya membawa anaknya dalam suatu perjalanan keliling negeri. Mereka lalu menghabiskan beberapa hari di sebuah rumah pertanian yang dianggap si ayah dimiliki keluarga yang amat miskin. Setelah kembali dari perjalanan mereka, si ayah berkata:
“Bagaimana perjalanannya nak?” “Perjalanan yang hebat, yah.” “Sudahkah kamu melihat betapa miskinnya orang-orang hidup?” si ayah bertanya. “O tentu saja,” jawab si anak. “Sekarang ceritakan, apa yang kamu pelajari dari perjalanan itu,” kata si ayah. Si anak menjawab: “Saya melihat bahwa kita punya satu anjing, tapi mereka punya empat anjing. Kita punya kolam renang yang panjangnya sampai pertengahan taman kita, tapi mereka punya anak sungai yang tidak ada ujungnya. Kita mendatangkan lampu-lampu untuk taman kita, tapi mereka memiliki cahaya bintang di malam hari. Teras tempat kita duduk-duduk membentang hingga halaman depan, sedang teras mereka adalah horizon yang luas. Kita punya tanah sempit untuk tinggal, tapi mereka punya ladang sejauh mata memandang. Kita punya pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani satu sama lain. Kita beli makanan kita, tapi mereka menumbuhkan makanan sendiri. Kita punya tembok di sekeliling rumah untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya teman-teman untuk melindungi mereka.” Ayah si anak hanya bisa bungkam. Lalu si anak menambahkan kata-katanya : “Ayah, terima kasih sudah menunjukkan betapa MISKIN-nya kita”

3. DISKUSI
Mendiskusikan kisah “Betapa Miskinnya Kita” bersama-sama peserta PAmemberikan pendapat terhadap kisah itu.

4. TEKS PENDALAMAN ALKITAB
Amsal 19:1-8
“Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya daripada seorang yang serong bibirnya lagi bebal. Tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap Tuhan. Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya. Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar. Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan, setiap orang bersahabat dengan si pemberi. Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat- sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi. Siapa memperoleh akal budi, mengasihi dirinya; siapa berpegang pada pengertian, mendapat kebahagiaan.“

5. PENJELASAN TEKS
Amsal 19:1-8
Realita miskin dan kaya merupakan bagian dari pengalaman hidup manusia yang disoroti oleh penulis Kitab Amsal dalam teks Amsal 19:1-8. Teks ini berisi ucapan bijak mengenai realita yang tidak seimbang yang dilihat dalam komunitas dimana penulis kitab Amsal hidup. Misalnya orang yang miskin dan jujur dianggap lebih baik dengan orang yang tidak jujur dan bebal (ayat 1). Penulis Kitab Amsal juga mengritik soal makna orang yang berpengetahuan dan orang yang bodoh (ayat 2). Bahwa sekalipun ia berpengetahuan, namun jika ia tergesa-gesa dan merasa yang paling tahu, maka ia akan salah langkah. Begitu pula kebodohan juga akan membawa seseorang pada jalan yang sesat dan membuatnya terus gelisah (ayat 3). Penulis Kitab Amsal menggambarkan realita yang berkebalikan antara orang kaya dan orang miskin. Orang kaya menambah banyak sahabat (ayat 4), menunjukkan bahwa pada jamannya pun Penulis Kitab Amsal hidup dalam komunitas yang berpikir bahwa orang kaya memiliki relasi yang banyak oleh karena kekayaannya. Sedangkan pernyataan bahwa orang miskin ditinggalkan sahabatnya (ayat 4) merujuk pada penderitaan orang miskin yang sejak jaman Penulis Kitab Amsal pun tidak diuntungkan dalam berbagai relasi yang ada.

Sebagai catatan, orang miskin dalam masyarakat Israel kuno merupakan orang yang berada di jenjang kehidupan sosial yang paling rendah. Dalam Alkitab, orang miskin menunjuk pada golongan masyarakat tertentu, seperti para janda, yatim piatu, orang yang ditawan atau mengungsi akibat perang, dan tentu saja orang yang tidak memiliki harta benda. Di tengah cara berpikir komunitas yang demikianlah, Penulis Kitab Amsal justru mengkritik ukuran-ukuran yang dikenakan oleh komunitasnya terhadap seseorang mengenai harta benda yang dimiliki. Penulis Kitab Amsal juga hendak mengkritik pikiran manusia yang terlalu cepat menyatakan keberhasilan melalui adanya harta benda yang melimpah dan selalu melihat dari sudut pandang si kaya saja. Sudut pandang tunggal ini terus menguasai kehidupan sehari-hari hingga tiap orang yang tidak memenuhi ukuran yang ditetapkan oleh komunitas ini menjadi semakin tersudut dan terpinggirkan. Padahal tindakan yang tergesa-gesa juga pikiran yang tidak disertai pengertian akan membawa seseorang kepada kemiskinan pengetahuan serta jauh dari kebahagiaan yang sejati.

6. RELEVANSI TEKS

Relevansi Amsal 19:1-8
dengan Konteks Keluarga Pemberi Harapan

Tiap keluarga selalu hidup di tengah pengalaman bersama masyarakat yang membutuhkan pemaknaan terus-menerus terhadapnya. Sebagai contoh, bagaimana masyarakat memaknai kemiskinan sangat bergantung dengan gambaran-gambaran yang diwariskan turun temurun dalam keluarga. Kemiskinan yang ditandai dengan tidak adanya kepemilikan akan harta benda yang melimpah membuat manusia berlomba-lomba untuk menampilkan gambaran-gambaran kehidupannya yang jauh dari kata miskin. Perkembangan media sosial mempercepat pergerakan ini dengan terus menampilkan hal-hal yang menggiurkan bagi satu sama lain yang seringkali tidak diimbangi dengan kesiapan menerima ketidaksempurnaan hidup melalui kesulitan-kesulitan yang ada. Harapan, yang merupakan kebaikan-kebaikan yang diharapkan seseorang terjadi atas dirinya, semakin dilekati oleh gambaran akan kepemilikan harta benda yang melimpah.

Jika saja himbauan Penulis Kitab Amsal dihiraukan, maka satu realita, seperti kemiskinan, dapat dilihat dari berbagai sisi kehidupan yang menghasilkan makna yang berbeda terhadapnya. Sehingga belajar dari Penulis Kitab Amsal, berarti meyakini bahwa melihat kehidupan sebatas ukuran-ukuran antara si miskin dan si kaya akan membuat tiap keluarga kehilangan harapan akan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang dilandaskan dengan pengertian dan keputusan yang tidak tergesa-gesa dinilai sebagai hal yang lebih baik diusahakan oleh setiap orang beriman. Sebagaimana seorang ayah yang mengira telah mengenalkan realita kemiskinan di sebuah rumah pertanian, namun justru diperkenalkan terhadap realita kemiskinan keluarganya sendiri oleh sang anak. Tiap keluarga tidak dapat lepas dari cara berpikir masyarakatnya. Tetapi tiap keluarga juga memiliki andil dalam membentuk harapan tiap anggota keluarganya bagi kehidupan bersama. Sejak dari keluarga, tiap anggota di dalamnya berlatih untuk mengasah pengetahuan, pengertian, yang tidak pernah berhenti terhadap kebaikan-kebaikan yang diharapkan terjadi atas hidup keluarganya. Baiklah kita terus berlatih, mulai dari diri sendiri dan keluarga, untuk melekatkan harapan pada kebahagiaan yang sejati.

7. DOA PENUTUP
(diucapkan bersama, dengan dibuka dulu dengan Doa dari Pemandu PA)

Ya Bapa, jadikanlah kami pembawa harapan sejak dalam keluarga, di tengah masyarakat, bak riak air yang saling bertautan satu sama lain. Kami berdoa di dalam nama Yesus, yang melaluinya kami mengenal Bapa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus.
Amin.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN