Home » Renungan » Merengkuh Yang Lemah

Merengkuh Yang Lemah

Markus 10:46-52

Merengkuh, secara harafiah bermakna menarik (mendekatkan, meraih) arah ke dada (tubuh). Dari arti hafariah tersebut, kata merengkuh memiliki makna kesediaan aktif seseorang membuat orang lain berada di dalam dekapannya. Melalui dekapan, kehangatan dan kenyamanan dirasakan sehingga seseorang yang berada dalam rengkuhan merasa dirinya diterima, dimengerti dan dihargai. Penerimaan mendatangkan pemulihan dan semangat baru. Kisah Bartimeus disembuhkan oleh Yesus merupakan cerita tentang rengkuhan kasih-Nya pada yang lemah. Saat Bartimeus datang pada Yesus mohon pemulihan, banyak orang menolak kehadirannya. Namun tidak demikian dengan Yesus. Ia memberikan teladan merengkuh yang lemah. Rengkuhan-Nya mendatangkan pemulihan bagi Bartimeus. Buah dari pemulihan itu adalah ucapan syukurnya melalui tindakan nyata. Ia mengikut perjalanan Yesus.

Keluarga-keluarga Kristen perlu meneladan Yesus. Kehidupan keluarga tidak selalu dalam keadaan menyenangkan, sukses, berhasil dan berjumpa dengan hal-hal serba indah. Dalam perjalanannya, keluarga berjumpa dengan hal-hal lain seperti kegagalan, kelemahan, kekurangan dan lain sebagainya. Merengkuh hal-hal menyenangkan sangatlah mudah. Namun sebaliknya, merengkuh kelemahan, kekurangan, kegagalan terkadang sulit dan banyak keluarga tidak siap. Pada penutupan Bulan Keluarga ini, keluarga-keluarga diajak untuk menghayati kehidupannya bersama Yesus. Ia meneladankan pada setiap orang dan keluarga untuk menerima segala keadaan, termasuk menerima kelemahan. Semangat itu ada karena kasih. Kasih menerima kekuatan dan kelemahan, sekaligus membaharui kelemahan menjadi kekuatan baru. Karena itu adalah benar akronim KASIH ciptaan Pdt. Em. Daud Adiprasetya. Menurut beliau, KASIH merupakan akronim dari: Karena Allah Semua Indah Hasilnya.

Kisah penyembuhan Bartimeus merupakan mukjizat terakhir Yesus sebelum Ia masuk ke Yerusalem dan disalibkan. Peristiwa itu terjadi di Yerikho. Kisah penyembuhan Bartimeus menerangi tema ibadah penutup Bulan Keluarga 2018 dan menarik untuk dikhotbahkan. William Barclay memberikan keterangan jarak antara Yerikho ke Yerusalem sekitar 15 mil. Dalam kisah ini Yesus bersiap menuju Yerusalem untuk merayakan Paska, hari besar umat Yahudi. Rupanya banyak orang sudah mendengar dan melihat Yesus dan karya-Nya. Ia menjadi sosok terkenal. Karena itu banyak orang ingin berjalan berbondong-bondong bersama-Nya menuju Yerusalem (Luk. 10:46). Di Yerikho terdapat 20 ribu imam dan 20 ribu orang Lewi. Mereka bekerja di Bait Allah. Dalam menjalankan pekerjaannya, mereka dibagi menjadi 26 kelompok. Maka di saat Yesus dikerumuni banyak orang, bisa jadi di antara para imam dan orang-orang Lewi itu ada yang turut serta bersama Yesus. Di Yerikho ada seorang pengemis bernama Bartimeus. Markus memberi keterangan bahwa Bartimeus adalah anak Timeus.

Ia seorang yang buta dan sehari-hari duduk di pinggir jalan. Sekalipun Bartimeus tidak dapat melihat, rupanya ia telah mendengar tentang Yesus dan karya-Nya. Hal itu sangat mungkin sebab Bartimeus biasa duduk di pinggir jalan dan mendengar banyak orang mempercakapkan Yesus. Ketika didengarnya Yesus orang Nazaret hendak melewati jalan yang biasa digunakan untuk mangkal, Bartimues berseru, ”Yesus, Anak Daud, Kasihanilah aku!” (Luk. 10:47). Dalam Injil Markus, sebutan Yesus sebagai Anak Daud hanya satu kali dan hal itu dinyatakan oleh Bartimeus. Seruan Bartimeus,”Yesus kasihanilah aku”, merupakan seruan dari orang-orang sengsara yang berseru kepada Allah seperti dalam Mazmur (Mzm. 4:1, 6:2, 41, 123:3). Seruan Bartimues mendapat tanggapan dari banyak orang berupa teguran. Rupanya mereka merasa terganggu oleh Bartimeus. Mengapa mereka terganggu? Bisa jadi mereka terganggu pada Bartimeus karena ia menyebut Yesus sebagai Anak Daud. Mungkin pula mereka terganggu karena Bartimeus dianggap tidak pantas berjumpa Yesus karena ia seorang pengemis lemah. Semakin banyak orang menegor Bartimeus, semakin kuatlah teriakannya pada Yesus. Dalam kelemahannya, Bartimeus memiliki iman dan pengharapan.

Sikap Yesus berbeda dengan sikap banyak orang. Ia berempati terhadap dia dan meminta Bartimeus dipanggil agar berjumpa dengan Yesus. Seseorang memanggil Bartimeus dengan mengatakan, ”Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau” (Mark. 10:49). Pernyataan itu menunjukkan bahwa Bartimeus dianggap lemah dan dalam kelemahannya Bartimues tidak akan memiliki pengharapan. Ungkapan itu juga seperti bentuk satire pada Bartimues yang lemah. Namun, Yesus adalah harapan bagi Bartimeus. Ia yang mengenali iman Bartimeus mengatakan, ”Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pernyataan ini menyebutkan bahwa iman merupakan respons Bartimeus dan membuatnya melihat. Dalam Injil Markus, kekuatan iman menjadi elemen penting dalam karya mukjizat Yesus (2:5-11, 5:30-34, 7:27-29, 9:21-24). Di akhir kisah ini diceritakan Bartimeus mengucap syukur pada Yesus dengan cara mengikut Dia.

Kisah penyembuhan Bartimeus ini terjadi selain karena iman Bartimeus, tetapi juga karena belas kasih Yesus. Sikap belas kasih-Nya berbeda dengan para imam dan orang-orang Lewi di Yerikho. Ia juga menunjukkan sikap berbeda dengan orang-orang yang berbondong-bondong berjalan bersama Yesus menuju Yerusalem. Orang-orang itu menolak Bartimeus. Kelemahan Bartimeus menjadi alasan penolakan mereka. Penolakan terhadap kelemahan menghentikan pemulihan. Rengkuhan kasih Yesus mendatangkan pemulihan dan pengharapan. Sikap itulah yang mestinya diwujudkan dalam kehidupan keluarga-keluarga Kristen.

Orang yang lemah perlu dirangkul, bukan diabaikan. Dengan dirangkul, orang yang lemah mendapat pengharapan. Dalam karya-Nya, Yesus merangkul semua orang termasuk orang-orang lemah. Mereka disingkirkan oleh banyak orang, terutama orang-orang yang merasa kuat. Kehidupan keluarga tidaklah sempurna. Dalam keluarga selalu terdapat kekurangan dan kelemahan. Apakah hal itu diabaikan? Keluarga Kristen diundang untuk merengkuh yang lemah. Hal itu sebagai bentuk iman pada Yesus. Amin.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN