Home » Bahan PA » Materi PA (Bulan Keluarga 21-26 Oktober 2019)

Materi PA (Bulan Keluarga 21-26 Oktober 2019)

KELUARGA SIAGA
Keluaran 12:11

Tujuan: Keluarga memahami makna menjadi keluarga siaga serta mewujudkan keluarga sebagai keluarga siaga.

LANGKAH PA : Awali PA dengan membaca pengantar sebagaimana ada di bahan ini (oleh salah satu peserta PA)

Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, entah esok, lusa, minggu depan, bulan depan, apalagi tahun depan. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan dihadapi. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menyiapkan diri, berjaga-jaga supaya bisa menghadapi apapun yang nanti ditemui. Waspada, bersiaga, dan berusaha mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Kewaspadaan dan kesiagaan ini mesti dilakukan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan berkeluarga. Setiap keluarga menghadapi berbagai peluang, tantangan dan pergumulan, yang tidak bisa dipastikan bentuknya dan kapan waktunya. Tantangan yang dihadapi akan selalu berbeda dari waktu ke waktu, akan ada hal-hal tidak terduga yang sering mengguncangkan kehidupan keluarga. Lalu bagaimana caranya sebuah keluarga bisa menjadi keluarga yang siaga?

1. Dialog awal
a. Pernahkah merasa takut terhadap masa depan?
b. Apa yang dilakukan saat rasa takut melanda?

2. Membaca Keluaran 12:1-12 (Nas: Keluaran 12:11)

PENJELASAN TEKS

Siap siaga menghadapi situasi/kondisi baru itu sangat penting. Dalam peristiwa exodus, setiap keluarga di tengah bangsa Israel selain diperintah untuk menyiapkan perjamuan Paska. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah, saat mereka mengadakan perjamuan Paska harus sudah dalam keadaan siap berangkat. Tuhan Allah melalui nabi Musa memberi perintah kepada mereka untuk mengadakan Perjamuan Paska dengan kondisi bersiap untuk pergi. “Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-buru kamu memakannya; itulah Paska bagi TUHAN.” (Kel 12:11) Mereka berpakaian lengkap dengan ikat pinggang, terumpah, dan tongkat. Kondisi yang tidak lazim dalam mengadakan suatu perjamuan.

Ketika menerima informasi dan perintah dari nabi Musa bahwa mereka sebentar lagi akan pergi keluar dari Mesir, kira-kira apa yang ada dalam pikiran setiap keluarga bangsa Israel saat itu? Lalu apa saja yang mereka lakukan?

 Membayangkan perjalanan yang cukup jauh.
Setiap keluarga, terutama para orang tua pasti sudah bisa memerkirakan bahwa perjalanan yang akan mereka lakukan bukanlah perjalanan jarak dekat, melainkan akan menempuh jarak yang sangat jauh. Perjalanan mereka bukan hanya dalam hitungan hari, tapi bisa berbulan-bulan. Setiap keluarga pertama-tama harus menyiapkan mental, menyiapkan hati, ketika membayangkan dan menyiapkan diri.

 Membayangkan kondisi padang pasir yang akan mereka lewati.
Sadar konteks. Selain menyadari bahwa perjalanan mereka menempuh jarak yang jauh dan waktu yang lama, setiap keluarga juga menyadari bahwa mereka akan melewati wilayah yang ekstrim, yaitu padang pasir. Wilayah yang cukup berat untuk dilewati oleh para orang dewasa, apalagi untuk anak-anak. Ekstrim karena kondisi alamnya, dan juga keberadaan orang/kelompok/suku bangsa lain yang bisa jadi membahayakan mereka.

 Menyiapkan semua perbekalan yang memungkinkan untuk dibawa.
Kesadaran konteks ini mendorong setiap keluarga menyiapkan semua perbekalan yang diperlukan. Tentu sesuai kengan kondisi masing-masing keluarga, dan pertimbangan bahwa mereka akan meninggalkan Mesir untuk selamanya sehingga semua barang yang bisa dibawa, pasti akan diangkut.

 Menyiapkan diri dan juga seluruh anggota keluarga.
Perjalanan exodus dari Mesir ini tidak hanya dilakukan oleh para orang dewasa/tua, tetapi seluruh keluarga termasuk anak-anak, para perempuan/ibu, dan bahkan yang sudah kakek-nenek. Seluruh anggota keluarga harus menyiapkan diri. Para orang tua selain menyiapkan dirinya sendiri, harus pula menyiapkan anak-anak mereka. Memberi penjelasan kepada anak-anak dan anggota keluarga lainnya, tentang arah dan tujuan mereka keluar dari Mesir, dan juga tentang situasi/tantangan di depan yang akan mereka hadapi. Gambaran tentang resiko yang ada, namun juga gambaran tentang indahnya tanah tujuan yang akan mereka capai nanti. Membagikan tentang tantangan maupun harapan, supaya semua anggota keluarga bisa satu hati.

Perjalanan menuju tempat yang baru, membutuhkan tekad kuat. Selain tekad yang kuat, keluarga juga harus satu hati, sehingga dapat saling menguatkan ketika ada dalam situasi yang sulit. Bukan malah sebaliknya, saling menyalahkan ketika menghadapi masalah. Perjalanan exodus bangsa Israel memberi pelajaran kepada kita. Sebagai sebuah keluarga besar (satu bangsa), ternyata mereka belum bisa satu hati. Hal ini terlihat ketika ada sejumlah keluarga yang menyalahkan nabi Musa, ketika mereka ada dalam kesulitan (kekurangan air dan makanan). Mereka meragukan kepemimpinan Musa, dan juga tuntunan Tuhan Allah.

Jika diibaratkan sebuah perahu, di dalamnya ada beberapa orang yang memiliki peran berbeda. Dibutuhkan sinergi dan kesatuan tekad supaya perahu itu dapat berlayar mengarah ke tujuan bersama.

Relevansi dan Tantangan

Zaman modern ini menyajikan banyak tantangan di depan. Menghadapi tantangan-tantangan ini bagaikan berjalan memasuki padang gurun seperti bangsa Israel, atau bagaikan perahu yang mulai berlayar mengarungi samudera. Setiap keluarga harus menyiapkan diri, bersiaga atas segala kemungkinan.

Belajar dari kesiagaan keluarga Israel saat akan memulai exodus dari Mesir, mereka semua bersiaga, baik orang tua maupun anak-anak. Bahkan orang tua yang mengerti akan kondisi medan yang akan dilewati, mereka memberi tahu kepada anggota keluarga lainnya. Sementara itu, di zaman ini ada tantangan di tengah keluarga, antara lain:

 Orang tua yang kurang sadar konteks.
Terkait dengan kemajuan teknologi, internet, dunia maya, media sosial, banyak orang tua justru mengambil sikap tidak terlalu peduli. Menganggap bahwa itu semua adalah urusannya anak-anak zaman sekarang, dan merasa tidak memerlukannya. Sikap tidak peduli, masa bodoh, mengakibatkan tidak adanya pendampingan terhadap anak-anak dalam menggunakan media sosial. Para orang tua beranggapan bahwa internet dan media sosial paling hanya untuk sarana komunikasi semata (seperti halnya telepon dan SMS), padahal di dalamnya ada banyak hal yang jika tidak dikendalikan maka dampak negatif yang diterima. Konten hate speech, hoax, judi, dan bahkan pornografi. Seperti ada keengganan dari para orang tua untuk “belajar” dan mengejar ketertinggalan. Mungkin memang sudah zamannya seperti ini. Ibarat peribahasa Jawa, “Kebo nusu gudel” (Induk kerbau menyusu kepada anaknya). Tidak ada salahnya para orang tua membuka diri untuk belajar dari mereka yang lebih muda tentang berbagai hal terkait kemajuan teknologi.

 Anak-anak/kaum muda justru lebih sadar konteks/situasi daripada para orang tua.
Dari sisi positif, anak-anak/kaum muda yang melihat peluang melalui perkembangan teknologi, dapat menangkap peluang ini dan kemudian menjadi jalan berkat untuk kehidupannya. Peluang-peluang usaha dan kerja secara online menjadi pilihan baru, mereka banyak yang berpaling dari pilihan konvensional (pegawai, karyawan, PNS). Repotnya, jika konteks ini tidak dipahami oleh orang tua, justru akan memunculkan ketegangan baru. Orang tua biasanya cenderung dengan pilihan konvensional, menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan nanti dapat bekerja sebagai karyawan suatu perusahaan atau PNS. Tetapi ketika anak-anak memilih jalur mandiri, wirausaha memanfaatkan kemajuan teknologi, dianggap kurang menjamin masa depan.

 Anak-anak/kaum muda mencari jawaban, penjelasan, dan tuntunan di luar keluarga.
Anak-anak mencari jawaban atas setiap persoalannya, dan bahkan pergumulan imannya dari mesin pencari “Google”. Bukan berarti hal ini sama sekali tidak boleh dilakukan, tetapi setidaknya para orang tua jangan membiarkan anak-anaknya mencari jawaban itu sendirian, tanpa ada pendampingan. Bagaimanapun juga orang tua adalah “nahkoda” yang memiliki tanggung jawab atas semua yang ada di dalam keluarganya. Tidak boleh bersikap masa bodoh, dengan alasan kesibukan atau yang lainnya. Para orang tua, meski beda zaman, pun harus belajar memahami dan mengerti konteks zaman. Supaya setidaknya bisa mengerti dan memahami pergumulan anak-anaknya, dan bisa menjadi teman perjalanan bersama, sehingga anak-anak juga tidak “alergi” untuk bertanya dan berdiskusi tentang masalah yang sedang dihadapinya Orang tua dan anak bisa berlayar bersama, saling menemani dan menguatkan, bahkan ketika harus melewati arus yang deras atau palung yang dalam. Seluruh keluarga harus bersiaga, saling menjaga dan menguatkan.

DIALOG BERSAMA
a. Kesiagaan yang seperti apa yang harus disiapkan oleh setiap keluarga Kristen pada saat ini?
b. Bagaimana peran orang tua?
c. Di mana posisi dan peran anak?
d. Di mana posisi Tuhan?

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Latihan Macapat “SWARA LANGEN GITA” : Senin 18 November 2019 jam 16.00 WIB

Persekutuan Doa Pagi : Rabu 20 November 2019 jam 04.30 WIB

Dialog Teologis Seputar Kristologi bersama Dr. Bambang Noorsena, M.H : Sabtu 30 November 2019 jam 16.00 WIB di GKJ Wonosari

Jadwal PA Wilayah/Panthan  >> 11 – 16 November 2019 <<