Home » Renungan » Tekun dalam Doa dan Karya

Tekun dalam Doa dan Karya

2 Timotius 3: 14 – 4: 5; Lukas 18:1-8

Di sebuah persekutuan remaja, pendamping remaja menyampaikan akronim DOA. D: dialog, O: orang, A: Allah. Dari akronim itu pendamping menyampaikan bahwa doa merupakan dialog antara manusia dengan Allah, Sang Pencipta, Penyelamat dan Penyerta kehidupan ciptaan-Nya. Dialog bukan monolog. Dalam monolog, percakapan hanya dari satu arah. Sementara dialog merupakan komunikasi yang berlangsung di antara dua subyek atau lebih. Subyek doa adalah Allah dan ciptaan-Nya. Semuanya saling mendengarkan, saling bertutur satu diantara yang lain. Karena itu, dialog mestinya menjadi hal menyenangkan. Rasa senang dalam dialog membuat masing-masing pihak tidak jemu untuk terus bertemu dan bersama. Demikian juga dengan kehidupan doa bagi umat beriman. Dalam kamus orang beriman mestinya tidak ada kata bosan untuk berdoa. Melalui perumpamaan tentang janda yang selalu datang pada hakim agar haknya dibela, Tuhan Yesus mengajarkan tentang ketekunan berdoa.

Di tengah berbagai pergumulan masa kini, di mana ketidakpastian ada di sekitar kita, berdoa merupakan sumber peneguhan bagi umat, keluarga, persekutuan dan bagi bangsa Indonesia. Melalui doa kita berdialog dengan Tuhan. Di sana suara Tuhan didengar dan Ia mendengar suara kita. Tentu saja doa mesti diwujudkan melalui aksi nyata yaitu karya dan karya dilanjutkan dalam doa. Karya dan doa menjadi lingkaran kehidupan yang tidak terputus. Dalam doa ada karya, dalam karya ada doa.

Pada minggu ketiga bulan keluarga ini, kita akan menghayati bersama makna doa dan karya serta berusaha membiasakan hidup dalam doa dan karya.

Sebagai orang tua rohani, Rasul Paulus menasihatkan kepada Timotius tentang bagaimana hidup di tengah perubahanperubahan yang menantang.

Di tengah pergumulan yang dialami di dalam pelayanannya (ayat 1-9), Timotius diingatkan oleh rasul Paulus terhadap 3 hal. Yang pertama, Timotius diajak untuk senantiasa ingat akan orang-orang (termasuk rasul Paulus sendiri) yang telah membimbing hidup kerohaniannya dan meneladaninya agar dari situ ia dikuatkan dalam pergumulannya.

Yang kedua, ia diajak untuk mengingat dan berpegang pada kebenaran yang telah diterima dan diyakininya, yaitu kebenaran yang bersumber dari Alkitab (ayat 14). Dengan demikian ia akan dimungkinkan tetap menjadi orang benar dalam segala kesukaran. Sebab melalui Kitab Suci orang diajar, dibukakan matanya terhadap kesalahannya, diperbaiki kelakuannya dan dididik menuju kepada kebenaran (3:16).

Yang ketiga, Timotius ditantang untuk tidak hanya ’berpegang’ pada Firman, namun juga memberitakan Firman itu dalam segala situasi dengan tetap sabar dan menguasai diri (4:1-5). Dengan demikian ia dimampukan untuk bukan hanya melampaui kesukaran, namun juga menjadi berkat bagi orang lain melalui kesaksian yang muncul dari pergumulannya itu

Dalam perumpamaan tentang hakim yang benar (Lukas 18:1-8), Yesus menyampaikan tentang kegigihan berdoa ibarat seperti seorang janda yang gigih meminta hak-haknya dilindungi oleh hakim yang jahat. Jika seorang hakim yang jahat saja mau mengabulkan permohonan dari seorang janda yang meminta haknya dibela, apalagi Tuhan yang maha pengasih. Allah kita berbeda dengan hakim itu. Jikalau hakim itu mendengarkan janda tersebut dengan alasan yang salah: supaya bisa lepas dari janda itu. Sementara Allah mendengarkan umat-Nya karena Dia mencintai mereka dan berkenan menyelesaikan masalah mereka. Jikalau hakim itu bertindak dengan mengingat kepentingannya sendiri, namun Allah bertindak demi kepentingan kita umat-Nya.

Allah menjawab doa pada waktu-Nya dan menurut rencana-Nya. Oleh karena itu, jikalau ayat 7b menyatakan “Dan adakah Allah mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka”, itu berarti Allah berkenan membiarkan umat-Nya menunggu jawab atas doa mereka. Namun meskipun demikian kebenaran akan dibagikan dengan cepat. Yesus berkata “Ia akan segera membenarkan mereka.” (ayat 8a). Amin.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Latihan Macapat “SWARA LANGEN GITA” : Senin 9 Desember 2019 jam 16.00 WIB

Persekutuan Doa Pagi : Rabu 11 Desember 2019 jam 04.30 WIB

Pertemuan KWD Bidang Wanita : Jumat 13 Desember 2019 jam 15.30 WIB

Natal Lansia : Sabtu 21 Desember 2019 jam 09.00 WIB – selesai di GKJ Wonosari Panthan Kebonjero, Kontribusi Rp 15.000 tiap peserta

Jadwal PA Wilayah/Panthan  >> 9 – 14 Desember 2019 <<