Home » Bahan PA » Materi PA Minggu Adven 1

Materi PA Minggu Adven 1

KUSAMBUT DENGAN TANGAN TERBUKA
[Matius 10:34-42]

PENGANTAR
Seperti yang sudah dijelaskan pada bahan dasar dalam buku ini di mana Indonesia tempat kita hidup juga membutuhkan pemulihan. Ada banyak realitas yang membuat kehidupan bersama kita diwarnai dengan penderitaan. Salah satu realitas yang tengah kita hadapi adalah polarisasi yang terjadi dalam masyarakat selepas pemilu Presiden semenjak tahun 2014. Adalah sebuah kenyataan bahwa perbedaan pilihan politik di Indonesia menghasilkan luka yang menganga di aras akar rumput. Kebencian antar kelompok beda pilihan politik sangat tampak khususnya di Medsos. Media online detik.com merilis jumlah pasangan bercerai menjelang 2019 terdapat 111.490 suami menceraikan istrinya dan 307.778 istri menggugat cerai suaminya. Kita melihat betapa rentannya bangsa ini saat menghadapi perbedaan. Hal ini perlu dilihat secara mendalam, alih-alih mengkambinghitamkan situasi kebersamaan yang berpotensi menimbulkan polarisasi, kita justru akan menelisik secara jujur dan terang benderang, jangan-jangan bangunan dasar kita yang rapuh untuk dipersiapkan menghadapi era-era yang sarat dengan pilihan, perbedaan, dan polarisasi.

Adven berasal dari kata adventus yang berarti kedatangan, mendekati, menyongsong. Ber-adven berarti mendekati, menyongsong kedatangan Tuhan Yesus Kristus, baik dalam Natal maupun dalam kedatangan-Nya kembali yang kedua kali. Hal ini berarti masa Adven adalah masa persiapan. Dengan persiapan yang cukup tentu hasilnya akan sangat berbeda jika dibanding tanpa dipersiapkan. Persiapan dalam masa Adven bagaikan upaya memantaskan diri ketika hendak bepergian untuk suatu perjumpaan yang membahagiakan. Memantaskan diri bukan berarti adaptif terhadap keadaan di sekitar yang justru tidak sesuai dengan nilai iman Kristen. Memantaskan diri lebih kepada sikap tegas dalam memegang prinsip iman namun tetap terbuka menerima perbedaan yang ada di sekeliling kita.

Harapannya, dengan memasuki masa Adven, umat dipersiapkan menyambut sesama seperti layaknya menyambut Yesus, dengan keteguhan hati memegang prinsip iman, juga dengan hati yang penuh kasih menerima orang lain yang berbeda.

1. BERBAGI PENGALAMAN
Silakan bagikan pengalaman Anda dan diskusikan dengan singkat:
a. Apa yang biasanya keluarga (gereja kecil) lakukan selama masa adven?
b. Apa yang Anda pahami tentang masa Adven?

2. URAIAN PENJELASAN FIRMAN
a. Membaca Matius 10:34-42,
b. Bacalah dan/atau dengarkanlai uraian/renungan yang berjudul, “Kusambut Dengan Tangan Terbuka” di bawah ini:

Melihat realitas polarisasi dan polemik yang berkepanjangan yang disebabkan oleh perbedaan di negeri ini, rasa-rasanya umat perlu dipersiapkan untuk memiliki pemahaman yang benar tentang apa itu makna memantaskan diri di tengah kepelbagian yang hadir di sekeliling kita. Melalui bacaan Matius 10:34-42, kita akan belajar bagaimana sikap yang benar dalam menyambut Yesus yang hadir di tengah-tengah konteks saat ini.

Banyak orang yang membaca nas ini menjadi bingung? Dalam bagian lain dalam Alkitab, dikatakan bahwa Yesus datang untuk membawa damai ke bumi (bdk. Ef. 2:14-18). Nubuatan para Nabi di PL juga menyebut Dia sebagai Raja Damai (Yes. 9:5). Lalu mengapa disini Dia mengatakan, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang….”

Alih-alih menilai Yesus tidak konsisten, justru di akhir bacaan ini kita melihat ajaran-Nya yang menunjukkan cinta mendalam (Yoh 10:42).

Karena kesan ketidak-konsistenan ucapan-Nya itu, nas ini acapkali digunakan sebagai dasar kritik dari orang-orang yang membenci Yesus dan ajaran-Nya. Mereka mengatakan Yesus sebagai pengajar sesat. Agama Kristen itu agama sesat karena identik dengan kekerasan, menanamkan kebencian, dan perpecahan dalam keluarga. Benarkah demikian? Apa maksud Tuhan Yesus dengan ucapan-Nya ini?

Penjelasan
Sering sekali pengajaran dan khotbah Tuhan Yesus menimbulkan polemik dan kontroversi di dalam kehidupan masyarakat pada zaman itu. Ini disebabkan oleh ketidak-pahaman para pendengar akan makna dan tujuan dari pengajaran yang Yesus katakan.

Memahami ucapan Tuhan Yesus di ayat 34-37 ini, tidak boleh dilepaskan dari konteks pembicaraan Yesus sebelum dan sesudahnya. Dalam perikop ini Yesus menggunakan gaya bahasa hiperbola untuk menonjolkan pesan secara menyolok. ‘Pedang’ menjadi simbol penghakiman Allah atas dunia yang akan memisahkan dengan tajam antara orang yang percaya kepada-Nya dan yang menolak-Nya. Tuhan Yesus memang memberikan damai di hati orang yang percaya (Yoh. 14:27, Gal. 5:22). Tuhan Yesus juga mendamaikan orang yang percaya dengan Allah (Rm. 5:1, 2 Kor. 5:19-21). Yesus juga mendamaikan orang percaya dengan orang percaya (Ef. 2:14-18). Tetapi antara orang percaya dengan orang yang tidak percaya, bukan damai yang terjadi tetapi justru perpecahan dan pertentangan karena Yesus (bdk. Yoh. 7:40-43). Di dalam dunia ini jauh lebih banyak orang yang tidak percaya, karena itu akan ada pertentangan. Keharmonisan antara mereka (yang tidak percaya) dan kita (yang percaya) baru bisa ada, jika kita mau berkompromi dengan dosa!

Jadi, tidak akan ada damai antara orang yang sungguh-sungguh hidup sesuai dengan Firman Tuhan, dengan mereka yang melakukan dosa. Malahan orang percaya itu akan menderita karena pertentangan atau permusuhan ini. Bahkan pertentangan akan terjadi di antara anggota keluarga, yaitu perpecahan yang terjadi karena ada anggota keluarga yang percaya dan ada yang tidak percaya kepada Dia. Pedang juga merupakan fakta bahwa kita yang hidup dalam Kristus akan membuat orang-orang yang membenci Yesus mengacungkan pedang (penderitaan) pada kita. Dengan demikian Yesus menghendaki para murid pada waktu itu dan juga kita untuk siap dan berani menghadapi pedang, baik yang timbul sebagai konsekuensi iman percaya kita kepada Allah, maupun penghakiman Allah sendiri atas hidup yang kita jalani (Mat. 10:38-39).

Ayat 37 tidak dapat diartikan bahwa Tuhan Yesus menghendaki keluarga kita tercerai berai. Ini adalah pernyataan kehendak Tuhan Yesus, bahwa sebagai murid-Nya, kita harus lebih mengutamakan Dia, bahkan lebih dari ikatan yang paling kuat sekalipun seperti budaya Yahudi waktu itu, yaitu keluarga (bdk. Luk. 14:26). Tuhan Yesus sama sekali tidak bermaksud agar orang-orang membenci orangtua dan keluarganya. Mengikut Yesus membutuhkan komitmen dan kesungguhan yang melebihi komitmen dan kesungguhan dari hubungan-hubungan apapun yang kita miliki dengan sesama manusia.

Ucapan Tuhan Yesus ini mengingatkan kita bahwa salah satu penghalang kesetiaan kita kepada Yesus adalah karena kita lebih setia kepada sesuatu atau seseorang yang lain di dunia ini dibandingkan dengan Tuhan. Hubungan kekerabatan dan persaudaraan sering sekali menjadi batu sandungan di dalam pertumbuhan iman.

Refleksi
Bacaan ini sangat lugas berisi kisi-kisi (langkah praktis) tentang bagaimana kita menyambut-Nya. Menyambut Yesus dalam konteks Indonesia saat ini, berarti siap untuk tetap berdiri teguh dalam prinsip iman, juga siap menerima perbedaan sebagai sebuah anugerah Tuhan. Dengan perbedaan yang ada tidak harus menghadirkan pemisahan, namun sebaliknya, perbedaan adalah sarana kita untuk belajar memahami dan bertumbuh bersama di dalamnya. Masa adven adalah masa di mana kita mempersipkan hati menyambut Yesus, juga seluruh ciptaanNya yang memiliki keunikan masing-masing. Selamat ber-adven dengan gembira dalam rengkuh hangat iklim perbedaan.

3. MEMAKNAI ULANG DAN PEMBAHARUAN HIDUP
Setelah mendengarkan Firman dan uraian/renungan di atas, dialogkanlah pertanyaan berikut:
a. Sekarang, apakah yang Anda rasakan dan pikirkan tentang Adven?
b. Apakah Anda rindu mewujudkan kebersamaan yang tetap erat di tengah perbedaan yang lekat? Bagaimana caranya?

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga

Renungan Harian Online : Setiap hari jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Pemuda : Setiap hari Sabtu jam 19.00 WIB live di Instagram Kompa GKJ Wonosari

Persekutuan Remaja : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Juli 2020 >> DILIBURKAN