Home » Renungan » Merasakan dan Membagikan Terang

Merasakan dan Membagikan Terang

(Yesaya 60:1-6; Matius 2:1-12)

Gelap sering diartikan sebagai situasi ketiadaan cahaya. Intensitas kegelapan diukur menurut kehadiran cahaya. Semakin sesuatu disebut gelap berarti semakin sedikit cahaya hadir dalamnya. Atau juga dalam kategori baik – buruk. Seorang teolog besar abad pertengahan St. Thomas Aquinas menyebut bahwa keburukan dimaknai sebagai kekurangan kebaikan (privatio boni). Definisi serupa bisa diterapkan pada fenomena dualistis lainnya, yaitu dalam sifat Ada-Tiada.

Ketika kita membicarakan tentang membagikan terang, sudah barang tentu ada sisi lain yang kini sedang dirasakan tentang kegelapan yang ada disekeliling kita. Kita menyaksikan kekerasan manusia terhadap sesamanya dimana-mana. Pementingan diri sendiri, karena merasa benar sendiri, hingga kurang perduli dengan orang lain. Egoisme yang bergerak dalam hati manusia dan individualisme yang terlalu menekankan akan hak pribadinya saja, tanpa ingat hak orang lain berdampak mudahnya menyalakan api ketidak senangan, ketersinggungan dan kebencian. Konflik terjadi karena munculnya konfrontasi antara dua kepentingan. Terlebih ketika agama dilibatkan dan dijadikan alat mencapai kepentingan-kepentingan tersebut. Tidak heran jikalau kemudian gerakan-gerakan radikalisme, terorisme, intoleransi, korupsi, penyebaran hoaks begitu merajalela dalam kehidupan kita.

Banyak orang jengah dengan suasana hidup yang diliputi kegelapan. Banyak orang yang tampil dan menyatakan diri sebagai penyelamat yang membawa terang. Alih-alih membawa terang dan damai, ternyata hanya pementingsan diri sendiri dan golongan yang diperjuangkan, bukan kepentingan masyarakat dan bangsa di bumi Indonesia.

Terang masih menjadi harapan banyak orang, oleh sebab itu sebagai anak-anak terang sudah menjadi tanggung jawab kita untuk dapat membagikan terang itu ditengah-tengah kegelapan agar ada setitik pengharapan yang membangkitkan optimisme hidup di bumi Pancasila ini.

Yesaya 60 merupakan bagian dari berita Tritoyesaya. Israel saat itu diijinkan pulang ke Yerusalam dari pembuangan oleh raja Koresy. Sang nabi mau menghibur umat Israel yang berada di Yerusalem. Mereka dalam keadaan menderita kekurangan, rendah semangat dan malu. Mereka inilah yang dihiburkan oleh Allah. Allah menyinari mereka dengan terang. Tuhan sendiri datang ke Yesrusalem sebagai terang yang menyelamatkan.

Apa yang dikemukakan oleh sang nabi pada bagian (Ay.1) sesungguhnya merupakan wujud dari penggenapan janji Tuhan atas Israel. Tuhan sang terang itu telah terbit (band: 9:1 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar). Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya sendiri dan kehadiranNya ditempat kudusnya dinyatakan dalam terang (ay. 60:2). Israel kembali mendiami negrinya dan bertambah besar, mereka dianggap sebagai keturunan yang diberkati diantara bangsa-bangsa. Bangsa-bangsa lain turut dalam keselamatan ini. Mereka membawa pulang orang-orang Yahudi dalam jumlah besar untuk turut membangun Yerusalem dengan menyumbangkan harta kekayaan mereka.

Bangsa Midian dengan sukunya Efa datang menyumbangkan unta-untanya, bangsa Syeba di Arabia Selatan membawa emas dan dan kemenyan sebagaimana dulu artinya memberi emas, permata dan rempah kepada Salomo.

Ketika terang itu nyata atas Israel maka mereka di minta untuk merespon dengan bangkit dan memantulkan terang kemuliaan Tuhan yang hadir dalam kehidupan mereka.

Atas kasih karunia yang diterima dari Allah itu rasul Paulus menganggap dirinya sebagai orang yang telah diberi dua hak istimewa sekaligus. Pertama ia telah diberi hak untuk mengetahui rahasia besar yaitu bahwa Allah menghendaki semua orang dipersatukan dalam kasih-Nya. Dan yang kedua bahwa Paulus boleh menjadi alat untuk menyalurkan anugerah Allah kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Hak istimewa yang rasul Paulus dapatkan, sama sekali tidak membuat dia menjadi sombong namun sebaliknya ia menjadi sangat rendah hati karena menyadari keistimewaan yang diterima dari Allah itu adalah anugerah. Karenanya Paulus mengingatkan bahwa rencana keselamatan Allah bagi bangsa bukan Yahudi bukanlah suatu rencana yang datang kemudian, namun memang sejak semula rencana Allah yang kekal itu telah mencakup usaha untuk menghantar semua orang kedalam kasih-Nya. Anugerah dari Allah itu diberikan kepada manusia dalam segala keadaan yang dialami oleh manusia baik dalam situasi gelap maupun terang, keadaan suram maupun cerah, anugerah itu tetap berlaku dengan berkecukupan. Terlebih anugerah yang diterima oleh manusia itu menjadikan manusia bebas untuk dapat menghampiri Allah secara leluasa.

Pada akhirnya keterkaitan pernyataan terang Allah bagi bangsa-bangsa lain yang dinyatakan dalam injil Matius terungkap dalam kisah orang-orang Majus dari Timur. Mereka berangkat dari Timur dengan mengikuti bintang terang yang menuntun mereka ke Yerusalem. Dengan petunjuk para imam kepala dan ahli Taurat yang dikumpulkan oleh raja Herodes untuk mendapatkan informasi secara detail, maka mereka mengikuti petunjuk dan mencarinya di Betlehem. Isyarat bintang yang mereka lihat di timur cocok dengan informasi para ulama Yahudi itu. Orang-orang Majus dari Timur ini begitu bersukacita karena mendapatkan jalan yang membawa mereka pada Sang Raja yang dicari. Orang-orang Majus ini kemudian memberikan sesembahan mereka berupa emas yang dihubungkan dengan kedudukan mulia Yesus sebagai raja, kemenyan dihubungkan dengan martabat keilahian-Nya dan mur yang dihubungkan dengan kematiannya.

Sesembahan para majus ini menandai terjalinnya hubungan antara orang-orang yang bukan dari kalangan Yahudi dengan Tuhan sebagai terang yang lahir dan menjelma menjadi manusia. Terang itu membawa sukacita dan menumbuhkan iman tersendiri dalam diri mereka terlebih berkat yang mereka rasakan dalam kehidupan mereka. Amin.

Bagikan :



Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Renungan Harian Online : Setiap hari Senin – Sabtu jam 05.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Persekutuan Remaja Online : Setiap hari Sabtu jam 16.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Sekolah Minggu Online : Setiap hari Minggu jam 07.00 WIB di Channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul

Latihan Macapat : diliburkan

Persekutuan Doa Pagi : diliburkan

Kelas Katekisasi : diliburkan

Jadwal PA Wilayah/Panthan/Kelompok  >> Oktober 2020 >> DILIBURKAN